Speaking English..
Betapa kedua kata itu menghantui akhir-akhir ini. Saya termasuk orang yang abai dengan keberadaan bahasa inggris, tidak suka bahasa inggris. Pun ketika saya menyadari pentingnya berbahasa inggris apalagi berkaitan dengan Bahasa Internasional, MEA, dan teman-temannya. Tapi pikiran saya yang buntu berkata "ah, bukan guru b. inggris ini kok, gak haram gak belajar b.inggris" *plakk*. Kemudian skor PTESOL mengganjar saya dengan angka yang kalau orang sunda bilang “saongkoseun” (read : pas-pasan), padahal Cuman PTESOL waaaa!, yang katanya lebih mudah dari tes TOEFL, IELTS dan teman-temanya. *eottokeninggoyaaa!!?* :(
Saya merasa dipermalukan dengan kelakuan saya ini!. ditambah dengan kejutan saat wawancara kerja yang ternyata menggunakan bahasa inggris, soaklah saya waktu itu. Dari situ pintu hidayah untuk menekuni bahasa inggris mulai terbuka, Tapi seiring berjalannya waktu, pikiran buntu meracuni lagi, saya tidak istiqomah menekuni bahasa inggris. Sampai suatu ketika datanglah seorang bule ke desa kami, entah siapa dia. Desas desus sih anaknya salah seorang penduduk di desa kami, ada juga yang bilang dia datang ke Indonesia oleh sebab pertukaran pemuda antar negara, ah entahlah yang mana yang benar, yang jelas dia sering jajan ke warung ibu saya, menjadi salah satu konsumen penggemar ibu saya, “she is my favorite ibu” katanya. Daebak pisan lah mamah tercintah meskipun beliau tidak bisa berbahasa inggris :D
Saya penasaran dengan nona bule ini, sampai suatu ketika dia ngetok2 pintu warung (mungkin masih asing dengan kata “punteun” atau “beli”). Lantas saya jadi gagap seketika dan bilang “can i help you?” trus dia tanya “can you speak english?” yang berujung pada jawaban “little” dan anggukan serta senyuman penuh pemakluman dari nona bule. Ah ngisinkeun pisan pokonamah!. Lantas dia ngajak saya ngobrol yang lumayan melebar dengan pengulangan pertanyaan, saya pun sama, mencoba menjawab dengan bahasa inggris, meski dengan pengulangan pernyataan. Intinya bisa jadi “gue dan lo sama-sama gak ngerti” hahaha, tapi ini berhasil membuat kami sama-sama belajar, dia belajar bahasa, saya belajar speak english.
Kejadian ini membuat saya benar-benar menyadari bahwa belajar bahasa inggris memang bukan untuk sekedar menggugurkan kewajiban belajar di sekolah, bukan sekedar menghasilkan angka dalam rapor atau ijazah, bukan sekedar lulus tes penunjang karir, tapi berbahasa inggris bisa menjadi suatu kebutuhan yang mendesak, pada watu yang bahkan tidak terduga.
Intinya, pandai berbahasa, bahasa papun itu menjadi sebuah keharusan pada akhirnya. Bukankah Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku? Lantas, bisakah kita saling mengenal tanpa perantara kata yang bernama “bahasa”?
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS. Al-Hujuraat 49 : 13)
Selamat belajaaaaaaaaaaaaaaaaar.... :D

