Tentang
belajar memilih, dari sekian kata yang saya kurang sukai, kata memilih adalah
salah satunya. Sebagai remaja hampir mau akhir, pada akhirnya saya harus bisa
mengambil pilihan, menerka-nerka siapa saya di masa yang akan datang. Bingung?
Tentu! Bagi orang yang rada absurd dan
senang kebebasan macem saya, posisi seperti ini adalah hal yang menyiksa. Ok,
fine! Saya tidak mau terkurung dalam ketidakjelasan hidup, maka dengan PD.nya
saya putuskan untuk menjadi seorang guru. Gileee, mimpi apaaa ini keputusan
tiba-tiba muncul, haha..
Perjalanan
untuk mencapai visi mengantarkan saya beradaptasi di Bumi Siliwangi, menemukan
bongkahan ilmu, dan hal-hal yang menakjubkan. Memanglah, zona nyaman setelah
siswa adalah mahasiswa, yang saking nyamannya, terkadang ada yang sering terlupakan, “realistis”, ya kerealistisan hidup.
Mungkin sering
saya mendengar gambaran kerealistisan dunia luar, tapi mungkin hanya sebatas
teori, saya belum memahami dan mengalami sendiri. Pada akhirnya, keputusan yang
dulu saya pilih, membelajarkan saya realita dunia kerja. Guru, guru ooh guru..
entahlah saya benar-benar tidak bisa melihat masa depan saya sekalipun
diikhtiarkan, tapi wallaahu’alam, perihal menjadi apa hanya Allah yang tahu.
Banyak
pelajaran yang bisa diambil dari belajar menjadi guru, termasuk kalimat “be the
good teacher”. Sometimes, bisa bikin saya pesimis juga. Jangankan menjadi guru
yang baik, latihan menjadi guru biasa pun ternyata luaar binasaaa.
Dulu, saya
memang tergolong orang yang menyenangi sekolah, pelajaran, guru-guru,
ekstrakulikuler, terlebih teman-teman dan sahabat, entah mungkin karena
suasananya, terlalu nyaman untuk ukuran saya dan mungkin ini adalah salah satu
yang membuat saya tertarik untuk menjadi guru. Tapi setelah praktik menjadi
guru, menghadapi ralitas dunia pendidikan yang tidak semuanya selalu berjalan
ideal, bahkan ruang lingkup kecil saja seperti kelas, membuat saya berfikir
ulang. Haha.. ada teman saya menyerah untuk menjadi guru, saat menawarkan pada
murid untuk menjadi guru jawabannya ‘gak mau bu, takut ga dihargain”atau
pernyataan “guru itu aktor, harus serba bisa” belum lagi digosipin murid bahkan
harus berlapang dada saat tidak disenangi murid. Haha.. beurat gan, jadi pahlawan
tanpa tanda jasa itu. tapi, pertanyaan yang jadi PR buat saya adalah “posisi
apalagi yang strategis untuk bisa berkontribusi memperbaiki kegaduhan negeri?”
berdiri dalam ranah struktural? mengotak-atik kebijakan?” untuk ukuran saya,
pertanyaan itu malah memununculkan lagi pertanyaan “saya bisa apa?” hehe, gini
ni kalau ga expert di bidangnya, membela diri. :D #abaikan
Baiklah para
calon guru, semoga istiqomah. Apa pun yang terjadi pada akhirnya kita akan
menjemput takdir kita masing-masing, perihal menjadi apa, yang terpenting
adalah meluruskan niat untuk siapa kita berbuat.
Selamat menebar manfaat..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar