Jumat, 29 Mei 2015

The Lebay Teacher

Mei 29, 2015 0 Comments
Entah sindrom apalah ini namanya, dimana sisi melankolis bisa muncul tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Kemudian menyesalinya setelah sadar di beberapa waktu kemudian bahwa hal tersebut sangatlah lebay. Daebakk! *nutupmuka*

Inget waktu PPL, menjelang perpisahan dengan murid-murid yang saya ajar, tetiba kepikiran buat bikin video yang isinya deskripsi tentang mereka selama belajar geografi dengan saya di 4 bulan kebelakang. Gak semua kelas sih, Cuma kelas XI aja yang jumlah muridnya sekitar 24 orang, saya paling hafal dengan kelas ini karena memang pertemuan kita cukup intens dan punya kesan tersendiri. Haha.

Dibuatlah video itu, dengan bantuan fenny yang ngasih inspirasi buat soundtrack dan teknis saat nanti di tayangin di kelas. video berhasil dibuat dan berhasil membuat kantung mata saya mempuyai kantung mata (read: begadang). Memang kebiasaan dadakan ini sudah mendarah daging, dimana ide-ide bermunculan di ujung waktu. Hasilnya? Entahlah, jauh dari sempurna. -_- tapi karena mepet, video tersebut jadi dengan sangat sederhana.

Skenario disusun, awalnya saya ingin membuat mereka bosan (dengan memaksa mereka buat belajar full, padahal besoknya udah UAS yang seharusnya ngasih kisi-kisi aja. haha). supaya saya gak diserang, saya coba untuk menggunakan infokus untuk mengalihkan perhatian mereka biar fokus ditambah saya ingin melihat video tugas akhir yang murid saya buat. awalnya saya mau ngasih sedikit materi dan nonton video pembelajaran, video yang saya buat itu nantinya akan muncul setelah video pembelajaran (tayang secara tiba-tiba gituuu) dan menjelang video itu tayang, saya akan langsung kabur keluar kelas.

Dengan semangat 45 saya masuk kelas dan meminta Satria murid saya mengambil infokus, kabel dan speaker (demi sebuah misi), and do u know? Keanehan terjadi. satria terlihat malas mengambil barang-barang tersebut, anak-anak yang lain terlihat tidak fokus dan taraaaaaa... lampu kelas padam, yang katanya listrik mati. Oh maaaan! itu artinya misi saya terfonis gagal. *garukgaruktembok*. Ah yasudahlah, pupuslah harapan saya untuk bersoswit-soswit dengan kelas tersebut. Akhirnya saya hanya bisa berpamitan dengan cara yang klasik, biasa saja bahkan mungkin tidak berkesan sama sekali (T.T). Oh ya, tentang video yang saya buat, saya titipkan pada Yani, murid kelas itu juga. Tapi katanya video itu tidak bisa dibuka. (lupa format videonya cuma bisa dilihat di kompi) ciaaat ciaaaat!!

ah, tapi Allah selalu punya cara yang tepat untuk menyelamatkan saya, setelah saya sadari, setelah video itu diputar beberapa kali, ternyata rasanya saya lebaaaay. Tuhaaan, maafkan makhlukmu ini. Saya jadi malu sendiri, rasanya gak mau lagi ketemu mereka (kalau videonya ternyata bisa dibuka dan mereka liat sih..hee). untunglah kejadianynya seperti itu, sehingga kelebay’an saya bisa disembunyikan dari hadapan mereka. Hahaha

Entah sisi melankolis ini kambuh mungkin karena kelas tersebut terlalu berkesan untuk saya. Dari mulai awal masuk, yang berhasil membuat saya sering nervous setiap masuk kelas, sampai terakhir saya bertemu mereka, Awalnya saya berpikir, murid akan belajar bersama saya, terserah saya, saya yang apa adanya. Tapi ternyata hidup memang timbal balik, disadari atau tidak. Ah, terimakasih sudah menjadi XI IPS 1, yang saya banyak belajar darinya.



oia, ada nama yang disamarkan :D

Rabu, 06 Mei 2015

Saat itu, Awal Berlatih Menunaikan Janji..

Mei 06, 2015 0 Comments
Hei Nucleus !           

Udah lama nih saya pengen cerita tapi gak sempet-sempet, dan tetiba sepagi ini ada hasrat menulis ditengah khusyu-khusyunya mencuci piring. Haha

Semacam janji yang harus ditunaikan, pengen banget nyeritain awal –awal PPL yang mendistraksi hari-hari saya selama 4 bulan kebelakang. *apaini*

Sedikit cerita tentang pengalaman saya bersama kelas XI IPS dan murid-murid pertama saya :D. Adapun tokoh dalam cerita sedikit disamarkan. Haha..

            Sebelumnya saya pernah cerita bahawa akan ada masa dimana saya menghadapi satu kelas yang akan menguras mental. *lebaay* denger-denger sih di kelas X. Tapi ternyata mereka salah, atau mungkin ini yang dinamakan relatif? hehe. Entahlah, tapi yang jelas setiap kelas punya spesialnya masing-masing.

            Awal masuk saya diberi kesempatan untuk melihat dulu kondisi kelas XI, karna memang saat itu hanya ada jam pelajaran geografi kelas XI. Masuklah saya, vivi bersama bu Novi guru pamong kami, untuk berkenalan. Dan kamu tahu gengs? Hasil yang didapat adalah “shoking teraphy” haha, sehabis itu, saya berdo’a banyak-banyak supaya dialancarnkan saat nanti saya mengajar. #prayforanis #saveourclass *naonatulahh*

            Pertemuan kedua dengan mereka kelas XI, pertemuan yang bikin saya pengen ngegali tanah sedalam-dalamnya dan nyungseb terkubur gak balik lagi >.< . bayangin dong, penampilan pertama dipantau sama guru pamong. Tapi bukan ini yang bikin dagdigdug, tetiba si pegasus (netbook saya) gak bisa bikin infokus nyala. Satu jam pelajaran berlalu, Cuman buat ngurusin media pembelajaran, keringat mulai bercucuran sana sini, dan menyebabkan muka hinyai, ditambah speaker yang gak nyala, dan parahnya saya tidak sama sekali mempersiapkan alternatif lain supaya kegiatan pembelajaran tetap berjalan sebagaimana mestinya. Oh Tuhaaan, what should i do? -_-‘ saya panik saat itu, dan memilih untuk berwajah innocent, sometimes berwajah innocent bisa bikin saya rileks, meskipun sedikit. Berpikir positif, dan berdoa lagi. Beruntung saat itu ibu guru pamong sedang fokus pada tugas makalah salah satu murid di sana, yaa setidaknya kejadian kecil ini tidak begitu dihiraukan.

            Beruntung pula saat itu murid di kelas tidak begitu memperhatikan, hanya beberapa orang yang mungkin sedikit pilu melihat saya yang kerepotan, haha. Salah satu murid sebut saja April, dia murid pertama yang peka terhadap situasi yang saya alami saat itu. pergilah dia ke ruang guru untuk meminjam speaker yang memungkinkan untuk digunakan. Aaaaah, like an angel, dengan cantiknya dia membawakan speaker yang pada akhirnya bisa dipakai *huaaa, trima kasiiih :*. Dan pada saat itu pula si pegasus mau berkompromi dengan infokus sekolah. Alhamdulillaah satu masalah kelaaar. Tapi, penyakit menahun yang satu ini belum bisa saya obati. Gugup! Ya gugup seringkali datang ketika saya harus menampilkan apa yang harus ditampilkan, saat ini adalah tampil dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang artinya saya harus tampil di depan peserta didik untuk mengajar.

            Di awal mengajar, saya merasa sangat kaku, Sangat belum leluasa. Saya baru menyadari bahwa sang phlegmatis melankolis memilih langkah menjadi seorang guru sama saja memilih tindakan untuk menyiksa diri sendiri *matiin gueee T.T. Gimana engga, masuk ke kelas yang isinya remaja “meujeuhna” sementara saya yang bertipe kaleum dan sering krik-krik ini belum tahu bagaimana agar suasana kelas menjadi menyenangkan. Tapi bagaimanapun saya sudah memilih, tidak boleh egois, berani memulai berani mejalankan sampai akhir, luruskan lagi niat!. *pasangiketkepala* :D

            Baiklah, proses pembelajaran pada pertemuan pertama akhirnya selesai, dan ditutup dengan ketidak kecean saya. saat April, murid saya salaman, April bilang sambil senyum “ibu, basah..” saya jawab “apa?”  “eh, engga bu, ga jadi..hehe” saya pikir baju saya yang basah *sudah syok duluan. Saya cek, baju saya kering. Tapi, setelah saya sadari ternyata tangan saya, berlumuran keringat. >.< oh God..


            Pertemuan selanjutnya, ketegangan itu sedikit meluntur. di akhir pelajaran, ketika Aulia murid kelas XI itu salaman, dia bilang “ih, ibu dingin”. Saya bilang saja “kalau sore biasanya tangan ibu emang suka dingin, hee” padahal mah gengs, saya masih geumpeur. Hhaha. Nampaknya kegugupan tidak dapat dihilangkan dalam waktu yang singkat. Butuh waktu memang, lagi pula saya belum mengenal karakter mereka, mungkin, kalau sudah kenal, gugupnya akan hilang, jadi masalah kegugupan ini, saya memandangnya sebagai sebuah fenomena yang wajar. Mudah-mudahan

Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...