Hei Nucleus !
Udah
lama nih saya pengen cerita tapi gak sempet-sempet, dan tetiba sepagi ini ada
hasrat menulis ditengah khusyu-khusyunya mencuci piring. Haha
Semacam
janji yang harus ditunaikan, pengen banget nyeritain awal –awal PPL yang
mendistraksi hari-hari saya selama 4 bulan kebelakang. *apaini*
Sedikit
cerita tentang pengalaman saya bersama kelas XI IPS dan murid-murid pertama
saya :D. Adapun tokoh dalam cerita sedikit disamarkan. Haha..
Sebelumnya
saya pernah cerita bahawa akan ada masa dimana saya menghadapi satu kelas yang
akan menguras mental. *lebaay* denger-denger sih di kelas X. Tapi ternyata
mereka salah, atau mungkin ini yang dinamakan relatif? hehe. Entahlah, tapi
yang jelas setiap kelas punya spesialnya masing-masing.
Awal
masuk saya diberi kesempatan untuk melihat dulu kondisi kelas XI, karna memang
saat itu hanya ada jam pelajaran geografi kelas XI. Masuklah saya, vivi bersama
bu Novi guru pamong kami, untuk berkenalan. Dan kamu tahu gengs? Hasil yang
didapat adalah “shoking teraphy” haha, sehabis itu, saya berdo’a banyak-banyak
supaya dialancarnkan saat nanti saya mengajar. #prayforanis #saveourclass
*naonatulahh*
Pertemuan
kedua dengan mereka kelas XI, pertemuan yang bikin saya pengen ngegali tanah
sedalam-dalamnya dan nyungseb terkubur gak balik lagi >.< . bayangin dong,
penampilan pertama dipantau sama guru pamong. Tapi bukan ini yang bikin
dagdigdug, tetiba si pegasus (netbook saya) gak bisa bikin infokus nyala. Satu
jam pelajaran berlalu, Cuman buat ngurusin media pembelajaran, keringat mulai
bercucuran sana sini, dan menyebabkan muka hinyai,
ditambah speaker yang gak nyala, dan parahnya saya tidak sama sekali mempersiapkan alternatif lain supaya kegiatan pembelajaran tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Oh Tuhaaan, what should i do? -_-‘ saya panik saat itu, dan memilih untuk berwajah
innocent, sometimes berwajah innocent bisa bikin saya rileks, meskipun sedikit.
Berpikir positif, dan berdoa lagi. Beruntung saat itu ibu guru pamong sedang
fokus pada tugas makalah salah satu murid di sana, yaa setidaknya kejadian
kecil ini tidak begitu dihiraukan.
Beruntung
pula saat itu murid di kelas tidak begitu memperhatikan, hanya beberapa orang
yang mungkin sedikit pilu melihat saya yang kerepotan, haha. Salah satu murid
sebut saja April, dia murid pertama yang peka terhadap situasi yang saya alami
saat itu. pergilah dia ke ruang guru untuk meminjam speaker yang memungkinkan
untuk digunakan. Aaaaah, like an angel, dengan cantiknya dia membawakan speaker
yang pada akhirnya bisa dipakai *huaaa, trima kasiiih :*. Dan pada saat itu
pula si pegasus mau berkompromi dengan infokus sekolah. Alhamdulillaah satu
masalah kelaaar. Tapi, penyakit menahun yang satu ini belum bisa saya obati.
Gugup! Ya gugup seringkali datang ketika saya harus menampilkan apa yang harus
ditampilkan, saat ini adalah tampil dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
yang artinya saya harus tampil di depan peserta didik untuk mengajar.
Di
awal mengajar, saya merasa sangat kaku, Sangat belum leluasa. Saya baru
menyadari bahwa sang phlegmatis melankolis memilih langkah menjadi seorang guru
sama saja memilih tindakan untuk menyiksa diri sendiri *matiin gueee T.T.
Gimana engga, masuk ke kelas yang isinya remaja “meujeuhna” sementara saya yang
bertipe kaleum dan sering krik-krik
ini belum tahu bagaimana agar suasana kelas menjadi menyenangkan. Tapi
bagaimanapun saya sudah memilih, tidak boleh egois, berani memulai berani
mejalankan sampai akhir, luruskan lagi niat!. *pasangiketkepala* :D
Baiklah,
proses pembelajaran pada pertemuan pertama akhirnya selesai, dan ditutup dengan
ketidak kecean saya. saat April, murid saya salaman, April bilang sambil senyum
“ibu, basah..” saya jawab “apa?” “eh,
engga bu, ga jadi..hehe” saya pikir baju saya yang basah *sudah syok duluan.
Saya cek, baju saya kering. Tapi, setelah saya sadari ternyata tangan saya,
berlumuran keringat. >.< oh God..
Pertemuan
selanjutnya, ketegangan itu sedikit meluntur. di akhir pelajaran, ketika Aulia
murid kelas XI itu salaman, dia bilang “ih, ibu dingin”. Saya bilang saja
“kalau sore biasanya tangan ibu emang suka dingin, hee” padahal mah gengs, saya
masih geumpeur. Hhaha. Nampaknya
kegugupan tidak dapat dihilangkan dalam waktu yang singkat. Butuh waktu memang,
lagi pula saya belum mengenal karakter mereka, mungkin, kalau sudah kenal, gugupnya
akan hilang, jadi masalah kegugupan ini, saya memandangnya sebagai sebuah
fenomena yang wajar. Mudah-mudahan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar