Rabu, 06 Mei 2015

# Curhat # PPL

Saat itu, Awal Berlatih Menunaikan Janji..

Hei Nucleus !           

Udah lama nih saya pengen cerita tapi gak sempet-sempet, dan tetiba sepagi ini ada hasrat menulis ditengah khusyu-khusyunya mencuci piring. Haha

Semacam janji yang harus ditunaikan, pengen banget nyeritain awal –awal PPL yang mendistraksi hari-hari saya selama 4 bulan kebelakang. *apaini*

Sedikit cerita tentang pengalaman saya bersama kelas XI IPS dan murid-murid pertama saya :D. Adapun tokoh dalam cerita sedikit disamarkan. Haha..

            Sebelumnya saya pernah cerita bahawa akan ada masa dimana saya menghadapi satu kelas yang akan menguras mental. *lebaay* denger-denger sih di kelas X. Tapi ternyata mereka salah, atau mungkin ini yang dinamakan relatif? hehe. Entahlah, tapi yang jelas setiap kelas punya spesialnya masing-masing.

            Awal masuk saya diberi kesempatan untuk melihat dulu kondisi kelas XI, karna memang saat itu hanya ada jam pelajaran geografi kelas XI. Masuklah saya, vivi bersama bu Novi guru pamong kami, untuk berkenalan. Dan kamu tahu gengs? Hasil yang didapat adalah “shoking teraphy” haha, sehabis itu, saya berdo’a banyak-banyak supaya dialancarnkan saat nanti saya mengajar. #prayforanis #saveourclass *naonatulahh*

            Pertemuan kedua dengan mereka kelas XI, pertemuan yang bikin saya pengen ngegali tanah sedalam-dalamnya dan nyungseb terkubur gak balik lagi >.< . bayangin dong, penampilan pertama dipantau sama guru pamong. Tapi bukan ini yang bikin dagdigdug, tetiba si pegasus (netbook saya) gak bisa bikin infokus nyala. Satu jam pelajaran berlalu, Cuman buat ngurusin media pembelajaran, keringat mulai bercucuran sana sini, dan menyebabkan muka hinyai, ditambah speaker yang gak nyala, dan parahnya saya tidak sama sekali mempersiapkan alternatif lain supaya kegiatan pembelajaran tetap berjalan sebagaimana mestinya. Oh Tuhaaan, what should i do? -_-‘ saya panik saat itu, dan memilih untuk berwajah innocent, sometimes berwajah innocent bisa bikin saya rileks, meskipun sedikit. Berpikir positif, dan berdoa lagi. Beruntung saat itu ibu guru pamong sedang fokus pada tugas makalah salah satu murid di sana, yaa setidaknya kejadian kecil ini tidak begitu dihiraukan.

            Beruntung pula saat itu murid di kelas tidak begitu memperhatikan, hanya beberapa orang yang mungkin sedikit pilu melihat saya yang kerepotan, haha. Salah satu murid sebut saja April, dia murid pertama yang peka terhadap situasi yang saya alami saat itu. pergilah dia ke ruang guru untuk meminjam speaker yang memungkinkan untuk digunakan. Aaaaah, like an angel, dengan cantiknya dia membawakan speaker yang pada akhirnya bisa dipakai *huaaa, trima kasiiih :*. Dan pada saat itu pula si pegasus mau berkompromi dengan infokus sekolah. Alhamdulillaah satu masalah kelaaar. Tapi, penyakit menahun yang satu ini belum bisa saya obati. Gugup! Ya gugup seringkali datang ketika saya harus menampilkan apa yang harus ditampilkan, saat ini adalah tampil dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang artinya saya harus tampil di depan peserta didik untuk mengajar.

            Di awal mengajar, saya merasa sangat kaku, Sangat belum leluasa. Saya baru menyadari bahwa sang phlegmatis melankolis memilih langkah menjadi seorang guru sama saja memilih tindakan untuk menyiksa diri sendiri *matiin gueee T.T. Gimana engga, masuk ke kelas yang isinya remaja “meujeuhna” sementara saya yang bertipe kaleum dan sering krik-krik ini belum tahu bagaimana agar suasana kelas menjadi menyenangkan. Tapi bagaimanapun saya sudah memilih, tidak boleh egois, berani memulai berani mejalankan sampai akhir, luruskan lagi niat!. *pasangiketkepala* :D

            Baiklah, proses pembelajaran pada pertemuan pertama akhirnya selesai, dan ditutup dengan ketidak kecean saya. saat April, murid saya salaman, April bilang sambil senyum “ibu, basah..” saya jawab “apa?”  “eh, engga bu, ga jadi..hehe” saya pikir baju saya yang basah *sudah syok duluan. Saya cek, baju saya kering. Tapi, setelah saya sadari ternyata tangan saya, berlumuran keringat. >.< oh God..


            Pertemuan selanjutnya, ketegangan itu sedikit meluntur. di akhir pelajaran, ketika Aulia murid kelas XI itu salaman, dia bilang “ih, ibu dingin”. Saya bilang saja “kalau sore biasanya tangan ibu emang suka dingin, hee” padahal mah gengs, saya masih geumpeur. Hhaha. Nampaknya kegugupan tidak dapat dihilangkan dalam waktu yang singkat. Butuh waktu memang, lagi pula saya belum mengenal karakter mereka, mungkin, kalau sudah kenal, gugupnya akan hilang, jadi masalah kegugupan ini, saya memandangnya sebagai sebuah fenomena yang wajar. Mudah-mudahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...