Menjadi
seorang guru adalah kalimat yang sering saya lafalkan. Ibu saya bercerita,
sewaktu saya TK saya sering menjawab “ingin jadi guru” jika ada yang bertanya
mengenai cita-cita saya. Tentu, di usia TK semua akan menjawab sesuai
kehendaknya tanpa berpikir panjang. Begitupun pada masa remaja, pada masa labil
yang penuh dengan pemaklumanpun jawaban “menjadi guru” adalah pilihan saya.
Beranjak dewasa saya mulai berpikir, mengapa saya sering melafalkan kalimat
“ingin menjadi guru” padahal tidak ada seorangpun anggota keluarga saya yang
berprofesi sebagai seorang guru? begitu pun dengan hasrat menjadi guru, jika dikaitkan
dengan apa tujuannya? saya akan sangat bingung untuk menjawab. Pada intinya melafalkan
kalimat “ingin menjadi guru” hanya sebatas jawaban kosong.
Sebagai
remaja hampir kadaluarsa pada saat itu, saya mulai dihadapkan pada pilihan
tentang apa yang akan dijalani di masa selanjutnya. Saya mulai mencari-cari
profesi apa yang sekiranya bisa saya jalani sesuai dengan passion saya. Mulailah saya memadukan antara keinginan menjadi guru dengan tujuan dan manfaat ke depannya. Biidznillah,
saya mulai menumukan pencerahan saat itu. Saya mulai benar-benar tertarik untuk
menjadi seorang guru. Tapi tertarik saja tidak cukup, maka ikhtiar adalah
jawabannya. Awalnya saya
merasa pilihan saya memang tepat, saya mulai tertarik dengan dunia pendidikan,
bergabung dengan komunitas-komunitas pendidikan dan berdiskusi tentang
permasalahan pendidikan adalah hal yang menurut saya menyenangkan.
Namun,
seiring berjalannya waktu, ikhtiar menjadi seorang guru justru membuat saya
perlahan ragu untuk menjadi seorang guru. Saat PPL menjadi guru misal, saya terlambat menyadari bahwa seorang
phlegmatis melankolis dihadapkan dengan anak-anak yang memiliki energi berlebih
adalah sebuah PR yang mau tidak mau harus diselesaikan. Tidak mudah memang,
tapi ini adalah tantangan, “our education
needs hands, not just complaints!” kalau kata kakak tingkat saya bilang.
Perjalanan
masih panjang, hanya perlu berdiskusi dengan waktu untuk sebuah penyesuaian. Perlahan
saya menemukan cinta dalam setiap perjalanan. Bertemu dengan berbagai karakter
murid, melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan keunikan pemikirannya,
tingkahnya dan menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan pada
akhirnya. Namun dibalik itu, ada hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu niat, dan
mungkin tidak ada yang lebih membahagiakan dari segala sesuatu yang diniatkan
untuk ibadah termasuk ketika mengemban amanah menjadi seorang guru. Maka di sisi
lain, menjadi seorang guru adalah sumber kebahagiaan..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar