Tentang pilihan yang kadang menggelari sesorang sebagai sesosok yang egois, tapi selama pilihan itu dalam kebaikan, tidak ada yang lebih baik dari mengikhlaskan. Ikhlas meninggalkan, ikhlas dilupakan, ikhlas dengan persepsi orang atas setiap keputusan. Kemana pun takdir membawa, bukankah kita harus berprinsip layaknya matahari? meski terbenam di suatu tempat, ia tak pernah ingkar untuk terbit di tempat yang lain, tapi.. Ada kalanya hati tidak sesederhana pikiran berbicara, seperti saat aku harus pergi meninggalkan dan yang mampu ku katakan pada mereka adalah "ini yang terbaik, maka akan ada sesuatu yang lebih baik" dan saat sesuatu yang lebih baik itu hadir untuk mereka, aku cemburu..
Apakah ikhlas pun berbicara soal waktu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar