Ini masih bagian dari "Homeroom Teacher Duties" yang pernah saya ceritakan waktu itu.. hehe
Jadi, tugas wali kelas itu salah satunya berjibaku dengan setumpuk raport murid nan unyu-unyu yang senantiasa mengelilingi kepala menjelang akhir semester. Dulu, saya tergolong anak yang sangat peduli dengan isi raport *Weeww
Sama catatan wali kelas sih lebih tepatnya, terlebih kalau catatannya agak panjang dikit, karena raport saya kebanyakan catatannya "tingakatkan lagi prestasimu!" paling pendek isinya "idem" yang kala itu gw gak faham idem itu apa, nanya emak juga beliau gak ngerti, dan emak pun tak bertanya pada sang wali kelas :') sampai pada akhirnya google menjawab artinya setelah sekian tahun berlalu dari kepenasaranan itu.. *apasih
Entah kenapa ada kebahagiaan tersendiri aja lihat catatan wali kelas. Meskipun hanya tulisan "idem" gaes.. :') karena saya tahu, wali kelas pasti bekerja keras ketika menulis catatan dengan sangat detile, apalalgi jumlah muridnya tidak sedikit. Tapi inilah tugas wali kelas, harus mengetahui perkembangan murid di kelasnya. Sebanyak apapun, sesibuk apapun, bukankah wali kelas adalah ibu/ayah yang harus tahu perkembangan anak di kelasnya?. ya, ini idealnya.. (terkait bisa ideal atau nggak, ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.. *plakk) nggak deng, guru profesional adalah guru yang mau berusaha untuk menjadi guru yang ideal. (give thanks to all my homeroom teachers)
Pertama kali saya menjadi wali kelas dan harus mengisi catatan wali kelas di raport, saya merasa kok saya lebay ya? *emang
gak seperti catatan waktu saya SD, di sekolah tempat saya mengajar, ada raport khusus, di mana guru bisa dengan leluasa menuangkan mahakarya tulisan dari hasil analisis terhadap muridnya. Sampai saya terharu sendiri setiap menuliskan catatan untuk murid saya satu persatu, bukan karena tulisan saya bagus, bukaan.. *dzziggg
Tapi karena memang perkembagan peserta didik itu luar biasa. Tidak ada anak yang tidak bisa apa-apa, setiap harinya selalu ada saja perekembangan yang dapat mereka tunjukkan, meskipun terkadang sebagai wali kelasnya harus melewati fase drama terlebih dahulu..
ini salah satu catatan saat pertama kali saya diamanahi menjadi wali kelas..
"Alhamdulillah, ananda ****** telah menyelesaikan semester dua dengan amat baik. Ananda adalah anak yang berbakat, ananda sudah bisa menjadi contoh yang baik untuk teman-temannya dalam berinfaq, melaksanakan shalat tahajjud, shalat dhuha, saum, dan shalat berjamaah. Semoga ananda istiqomah melaksanakan perintah Allah SWT dan Rosul-Nya ya. Pertahankan semua prestasi yang ananda dapatkan, ustadzah yakin di semester yang akan datang, ananda akan terus berkembang menjadi anak yang cerdas dan mendapatkan segudang prestasi. Pesan ustadzah, alangkah lebih baik jika ananda bisa sedikit lebih teliti dan lebih fokus dalam mengikuti proses pembelajaran. Jangan pernah bosan untuk belajar, dan terus berusaha. Jadilah yang terbaik, Doa terbaik ustadzah selalu menyertai ananda." (Ustadzah adalah sebutan bagi guru perempuan di sekolah tempat saya mengajar)
Biasa aja sih sebenernya, kalimat ini umum ditulis di raport murid kami. Cuman karena wali kelasnya melankolis, dan baru pertama kali bikin kek ginian, jadilah saya sedikit terharu dengan kelakuan murid sholehah yang bikin saya bisa nulis sepanjang itu. Padahal entahlah waktu raport dibagikan dia baca atau nggak.. haha sad
Sebenernya pengen nulis dengan bahasa yang nggak umum, macem "Ananda adalah anak yang sangat menjaga perasaan guru dan teman-temannya" (padahal pendiam parah) atau "ananda adalah anak yang aktif, kreatif, dan inovatif" (padahal gak bisa diem dan senang bikin ulah) tapi takut jatohnya gue dusta.. T.T atau kalimat "ananda adalah anak yang menyenangkan, pintar dan cantik seperti Maudy Ayunda" (Tapi pliss, waras nis.. ini raport, bukan lacikata.blogspot.com)
Intinya, menjadi wali kelas adalah sesuatu yang mesti dinikmati, disyukuri, diambil enjoy, biar apa? biar bahagia, biar gak gampang tua, biar nggak banyak ngeluh, bahkan jika harus menulis catatan perkembangan anak yang jumlahnya banyak dengan karakter yang berbeda.. "lho, ambil pusing amat.. copas aja lah, samain semua.." Hmm.. Boleh lah copas, tapi untuk menuju ideal, sebuah tulisan harus terjamin hak ciptanya atau paling nggak melalui proses editing lebih dulu lah.. hehe
Of all the hard jobs around, one of the hardest is being a good teacher. -Maggie GallagherSemangaaat teh guru, Kang guru, Bu guru, Pak guru..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar