Jumat, 17 Agustus 2012

From Pisang to Jagung Rebus

Agustus 17, 2012 0 Comments
Ramadhan selalu menyimpan cerita unik
Tidak sengaja aku membuka sebuah cerita yang tersimpan dalam sebuah folder Ramadhan sekitar tujuh tahun yang lalu, dengan aku dan sahabat-sahabatku di dalamnya..

***       
Ba’da ashar adalah waktu kami mengaji, selesai mengaji kami biasa menggunakan waktu ngabuburit dengan berbagai kegiatan, dan kali ini kami merencanakan untuk berbuka bersama di rumah salah seorang dari kami. Tiba-tiba beberapa orang dari kami dengan seriusnya bercerita bahwa mereka melihat beberapa sisir pisang yang tergeletak di pinggir sawah. Dengan antusias kami menanggapinya dan bergegas menuju TKP untuk memeriksa pisang yang malang tanpa pemilik itu. Awalnya kami berpikir mungkin pisang ini ada pemiliknya. “Tetapi memang beberapa hari yang lalu pisang itu sudah ada di sini” ujar seorang diantara kami. Mulailah muncul hipotesis kami bahwa pisang-pisang tersebut tidak berpemilik. Kami mulai berpikir untuk mengambilnya dan memanfaatkannya, atau entah mungkin saat itu kami memang benar-benar menginginkannya.. Hmm.. sepertinya sore itu kami mendapat rezeki beberapa pisang sisir hasil dari usaha penyelidikan kami  saat itu.
Rupanya sore itu hari keberuntungan kami, di tengah kebingungan kami bagaimana cara membawa pisang tersebut, eeh ada seseorang yang meminjamkan sepedanya. Dibawalah pisang tersebut oleh seorang dari kami dan yang lain berjalan di belakangnya. Saat sedang berjalan, tiba-tiba terdengar suara jatuh, dan rupanya pisang itu terjatuh bersamaan dengan sepeda dan bikersnya. Terdengar teriakan dengan raut wajah malu, “hey, kadieu tolongan, kantongna sobek kumaha atuh?” Dalam sekejap warga warga sekitar menghampiri dan menolongnya sampai akhirnya warga mengetahui identitas sahabat kami itu dari mulai tempat tinggalnya, nama orang tuanya, pekejaan orang tuanya sampai pisang yang di bawanya. Mungkin sempat terjadi perkepoan singkat di TKP. Sebenarnya kami yang di belakang ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat sahabat kami yang jatuh itu dan ternyata kami tak kuasa menahan tawa tanpa pertolongan sedikit pun, betapa biadapnya kami saat itu.
Setelah P3S (Pertolongan Pertama Penduduk Sekitar) berlangsung, kami melanjutkan perjalanan dan sampailah di tempat tujuan. Dengan semangat menggebu, kami membuka bungkusan pisang itu dan ternyata pisang itu masih mentah dan berbiji banyak sehingga sulit untuk kami makan. Setelah diselidiki, pisang itu ternyata pisang .... atau dalam bahasa jermannya yakni cau kulutuk. Dimana pisang ini merupakan jenis pisang yang khas bukan karena rasanya yang cenderung manis, tetapi karena daging buahnya dipenuhi dengan bebijian berwarna hitam. Biji tersebut memiliki tekstur kulit yang kasar dan cangkang yang keras. Nama pisang klutuk juga bersumber dari biji tersebut. Klutuk sendiri merupakan bunyi yang terdengar saat seseorang memakan pisang klutuk. Kehadiran biji pada daging buah pisang klutuk ini membuat banyak orang menjauhinya sebab tentu susah untuk menguyah pisang dengan benar. Di luar dari biji, sebenarnya daging pisang klutuk memiliki rasa manis yang khas. Sehingga terjawablah hipotesis kami, bahwa jelas saja pisang ini diterlantarkan begitu saja oleh pemiliknya, karena memang pisang ini seperti itulah keadaannya. Walau begitu, kami bersikeras untuk membukanya beberapa hari lagi, barangkali ada keajaiban dari hasil jerih payah kami mengumpulkan pisang tersebut.
Rupanya rencana memakan pisang berjamaah saat itu gagal. Beruntung ada sahabat kami yang membawa jagung, awalnya jagung itu akan kami jadikan jagung bakar dan membakar bersama-sama di belakang rumah. namun, tiba-tiba hujan turun. Dengan sedikit malu terpaksa kami tukar arang yang kami beli dengan minyak tanah. Pada akhirnya tersajilah hidangan yang tak terduga, dengan suka cita kami menyantapnya berjamaah. Ya.. jagung rebus berjamaah.

Senin, 06 Agustus 2012

Tragedi Sebatang Sapu Lidi

Agustus 06, 2012 0 Comments
Pagi  yang berbeda dari pagi biasanya. Pagi ini aku merasakan atmosfer  yang sama dengan sentuhan yang berbeda. Mungkin karena keterkaitan antara ruang dan waktu yang akan selalu dinamis.
***
Pagi ini seorang sahabat mengajakku ke tempat yang  bagiku sudah tidak asing dan rupanya  sudah cukup lama aku tidak berkunjung ke tempat ini. Ku ikuti ajakan sahabatku itu untuk mengikuti kegiatan yang setiap ramadhan dilaksanakan. Ya, kuliah subuh..  sebuah majelis ilmu yang di laksanakan seusai solat subuh, yang ternyata masih seperti tahun sebelumnya di mana mahasiswanya bapak-bapak, ibu-ibu dan para lansia mendominasi. Hmmh, “kemana wahai para pemuda??” pekik ku dalam hati dengan lebaynya, mungkin seperti semangat bung karno saat menyeru para pemuda, hanya saja beliau tidak lebay.
Sampailah pada ruangan dan mendengarkan ceramah pak kiyai. Tiba-tiba entah mungkin hanya aku saja yang merasa ruangan ini seperti bioskop yang sedang memutar film 7 tahun silam dengan salah satu penontonnya adalah aku, sayang tidak ada pop corn karena ini bulan shaum. Sambil mengamati ruangan ini yang rasanya dulu tampak besar dan kini terlihat berbeda. Mulailah bermunculan tokoh aku dan sahabat-sahabatku yang masih bau kencur dengan segala kejahilan kami. Tiba-tiba muncullah ingatan tentang tragedi sebatang sapu lidi. Aku tertawa terbahak-bahak namun di dalam hati dan hanya bisa menyunggingkan bibir sambil kembali memperhatikan pak kiyai.
Masih melekat di ingatan tentang sapu lidi itu. Di mana seperti biasa pak ustad yang biasa kami panggil beliau dengan sebutan amang, masuk ke kelas kami untuk berbagi ilmu. Namun, kali ini amang membawa sebatang sapu lidi. Entah mungkin beliau sudah hafal akan menghadapi kami,  anak-anak kelebihan energi agar lebih serius saat menerima ilmu.
Saat itu amang berjalan mengontrol kami yang duduk berjejer ke samping dan sedang serius mengkaji dan menghafal. Dengan sebatang lidi di tangan yang beliau pegang di belakang punggung. Namun, sebatang lidi itu tak menyurutkan kami untuk melakukan tindakkan seru yang tak boleh di tiru. Saat berjalan melewati kami, seorang dari kami mematahkan lidi tersebut secara perlahan. Jelas saja saat beliau mengacungkan lidi yang di pegang itu, lidinya sudah tidak panjang lagi. Alhasil beliau mungkin kesal dan tidak mau masuk ke kelas lagi. Saat itu kami berpikir beliau “Pundung”.  untungnya, hal itu tidak berlangsung lama. Dengan bujuk rayu dan kepolosan kami, akhirnya amang mau mengajar  kembali.
Hmmhh.. tempat yang menyimpan bongkahan ilmu, tempat yang menyimpan berjuta cerita..  dan aku rindu tempat ini dan segala yang ada di sini.. J

Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...