Senin, 06 Agustus 2012

# Flashback

Tragedi Sebatang Sapu Lidi

Pagi  yang berbeda dari pagi biasanya. Pagi ini aku merasakan atmosfer  yang sama dengan sentuhan yang berbeda. Mungkin karena keterkaitan antara ruang dan waktu yang akan selalu dinamis.
***
Pagi ini seorang sahabat mengajakku ke tempat yang  bagiku sudah tidak asing dan rupanya  sudah cukup lama aku tidak berkunjung ke tempat ini. Ku ikuti ajakan sahabatku itu untuk mengikuti kegiatan yang setiap ramadhan dilaksanakan. Ya, kuliah subuh..  sebuah majelis ilmu yang di laksanakan seusai solat subuh, yang ternyata masih seperti tahun sebelumnya di mana mahasiswanya bapak-bapak, ibu-ibu dan para lansia mendominasi. Hmmh, “kemana wahai para pemuda??” pekik ku dalam hati dengan lebaynya, mungkin seperti semangat bung karno saat menyeru para pemuda, hanya saja beliau tidak lebay.
Sampailah pada ruangan dan mendengarkan ceramah pak kiyai. Tiba-tiba entah mungkin hanya aku saja yang merasa ruangan ini seperti bioskop yang sedang memutar film 7 tahun silam dengan salah satu penontonnya adalah aku, sayang tidak ada pop corn karena ini bulan shaum. Sambil mengamati ruangan ini yang rasanya dulu tampak besar dan kini terlihat berbeda. Mulailah bermunculan tokoh aku dan sahabat-sahabatku yang masih bau kencur dengan segala kejahilan kami. Tiba-tiba muncullah ingatan tentang tragedi sebatang sapu lidi. Aku tertawa terbahak-bahak namun di dalam hati dan hanya bisa menyunggingkan bibir sambil kembali memperhatikan pak kiyai.
Masih melekat di ingatan tentang sapu lidi itu. Di mana seperti biasa pak ustad yang biasa kami panggil beliau dengan sebutan amang, masuk ke kelas kami untuk berbagi ilmu. Namun, kali ini amang membawa sebatang sapu lidi. Entah mungkin beliau sudah hafal akan menghadapi kami,  anak-anak kelebihan energi agar lebih serius saat menerima ilmu.
Saat itu amang berjalan mengontrol kami yang duduk berjejer ke samping dan sedang serius mengkaji dan menghafal. Dengan sebatang lidi di tangan yang beliau pegang di belakang punggung. Namun, sebatang lidi itu tak menyurutkan kami untuk melakukan tindakkan seru yang tak boleh di tiru. Saat berjalan melewati kami, seorang dari kami mematahkan lidi tersebut secara perlahan. Jelas saja saat beliau mengacungkan lidi yang di pegang itu, lidinya sudah tidak panjang lagi. Alhasil beliau mungkin kesal dan tidak mau masuk ke kelas lagi. Saat itu kami berpikir beliau “Pundung”.  untungnya, hal itu tidak berlangsung lama. Dengan bujuk rayu dan kepolosan kami, akhirnya amang mau mengajar  kembali.
Hmmhh.. tempat yang menyimpan bongkahan ilmu, tempat yang menyimpan berjuta cerita..  dan aku rindu tempat ini dan segala yang ada di sini.. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...