Pagi yang berbeda dari pagi biasanya. Pagi ini aku
merasakan atmosfer yang sama dengan
sentuhan yang berbeda. Mungkin karena keterkaitan antara ruang dan waktu yang
akan selalu dinamis.
***
Pagi ini seorang sahabat
mengajakku ke tempat yang bagiku sudah
tidak asing dan rupanya sudah cukup lama
aku tidak berkunjung ke tempat ini. Ku ikuti ajakan sahabatku itu untuk
mengikuti kegiatan yang setiap ramadhan dilaksanakan. Ya, kuliah subuh.. sebuah majelis ilmu yang di laksanakan seusai
solat subuh, yang ternyata masih seperti tahun sebelumnya di mana mahasiswanya
bapak-bapak, ibu-ibu dan para lansia mendominasi. Hmmh, “kemana wahai para
pemuda??” pekik ku dalam hati dengan lebaynya, mungkin seperti semangat bung
karno saat menyeru para pemuda, hanya saja beliau tidak lebay.
Sampailah pada ruangan
dan mendengarkan ceramah pak kiyai. Tiba-tiba entah mungkin hanya aku saja yang
merasa ruangan ini seperti bioskop yang sedang memutar film 7 tahun silam
dengan salah satu penontonnya adalah aku, sayang tidak ada pop corn karena ini
bulan shaum. Sambil mengamati ruangan ini yang rasanya dulu tampak besar dan
kini terlihat berbeda. Mulailah bermunculan tokoh aku dan sahabat-sahabatku
yang masih bau kencur dengan segala kejahilan kami. Tiba-tiba muncullah ingatan
tentang tragedi sebatang sapu lidi. Aku tertawa terbahak-bahak namun di dalam
hati dan hanya bisa menyunggingkan bibir sambil kembali memperhatikan pak
kiyai.
Masih melekat di ingatan
tentang sapu lidi itu. Di mana seperti biasa pak ustad yang biasa kami panggil
beliau dengan sebutan amang, masuk ke kelas kami untuk berbagi ilmu. Namun,
kali ini amang membawa sebatang sapu lidi. Entah mungkin beliau sudah hafal
akan menghadapi kami, anak-anak
kelebihan energi agar lebih serius saat menerima ilmu.
Saat itu amang berjalan
mengontrol kami yang duduk berjejer ke samping dan sedang serius mengkaji dan
menghafal. Dengan sebatang lidi di tangan yang beliau pegang di belakang
punggung. Namun, sebatang lidi itu tak menyurutkan kami untuk melakukan
tindakkan seru yang tak boleh di tiru. Saat berjalan melewati kami, seorang
dari kami mematahkan lidi tersebut secara perlahan. Jelas saja saat beliau
mengacungkan lidi yang di pegang itu, lidinya sudah tidak panjang lagi. Alhasil
beliau mungkin kesal dan tidak mau masuk ke kelas lagi. Saat itu kami berpikir
beliau “Pundung”. untungnya, hal itu
tidak berlangsung lama. Dengan bujuk rayu dan kepolosan kami, akhirnya amang
mau mengajar kembali.
Hmmhh.. tempat yang
menyimpan bongkahan ilmu, tempat yang menyimpan berjuta cerita.. dan aku rindu tempat ini dan segala yang ada
di sini.. J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar