Ramadhan selalu menyimpan cerita unik
Tidak sengaja aku membuka sebuah cerita yang tersimpan dalam sebuah folder Ramadhan sekitar tujuh tahun yang lalu, dengan aku dan sahabat-sahabatku di dalamnya..
***
Ba’da ashar adalah waktu kami mengaji, selesai mengaji kami biasa menggunakan waktu ngabuburit dengan berbagai kegiatan, dan kali ini kami merencanakan untuk berbuka bersama di rumah salah seorang dari kami. Tiba-tiba beberapa orang dari kami dengan seriusnya bercerita bahwa mereka melihat beberapa sisir pisang yang tergeletak di pinggir sawah. Dengan antusias kami menanggapinya dan bergegas menuju TKP untuk memeriksa pisang yang malang tanpa pemilik itu. Awalnya kami berpikir mungkin pisang ini ada pemiliknya. “Tetapi memang beberapa hari yang lalu pisang itu sudah ada di sini” ujar seorang diantara kami. Mulailah muncul hipotesis kami bahwa pisang-pisang tersebut tidak berpemilik. Kami mulai berpikir untuk mengambilnya dan memanfaatkannya, atau entah mungkin saat itu kami memang benar-benar menginginkannya.. Hmm.. sepertinya sore itu kami mendapat rezeki beberapa pisang sisir hasil dari usaha penyelidikan kami saat itu.
Rupanya sore itu hari keberuntungan kami, di tengah kebingungan kami bagaimana cara membawa pisang tersebut, eeh ada seseorang yang meminjamkan sepedanya. Dibawalah pisang tersebut oleh seorang dari kami dan yang lain berjalan di belakangnya. Saat sedang berjalan, tiba-tiba terdengar suara jatuh, dan rupanya pisang itu terjatuh bersamaan dengan sepeda dan bikersnya. Terdengar teriakan dengan raut wajah malu, “hey, kadieu tolongan, kantongna sobek kumaha atuh?” Dalam sekejap warga warga sekitar menghampiri dan menolongnya sampai akhirnya warga mengetahui identitas sahabat kami itu dari mulai tempat tinggalnya, nama orang tuanya, pekejaan orang tuanya sampai pisang yang di bawanya. Mungkin sempat terjadi perkepoan singkat di TKP. Sebenarnya kami yang di belakang ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat sahabat kami yang jatuh itu dan ternyata kami tak kuasa menahan tawa tanpa pertolongan sedikit pun, betapa biadapnya kami saat itu.
Setelah P3S (Pertolongan Pertama Penduduk Sekitar) berlangsung, kami melanjutkan perjalanan dan sampailah di tempat tujuan. Dengan semangat menggebu, kami membuka bungkusan pisang itu dan ternyata pisang itu masih mentah dan berbiji banyak sehingga sulit untuk kami makan. Setelah diselidiki, pisang itu ternyata pisang .... atau dalam bahasa jermannya yakni cau kulutuk. Dimana pisang ini merupakan jenis pisang yang khas bukan karena rasanya yang cenderung manis, tetapi karena daging buahnya dipenuhi dengan bebijian berwarna hitam. Biji tersebut memiliki tekstur kulit yang kasar dan cangkang yang keras. Nama pisang klutuk juga bersumber dari biji tersebut. Klutuk sendiri merupakan bunyi yang terdengar saat seseorang memakan pisang klutuk. Kehadiran biji pada daging buah pisang klutuk ini membuat banyak orang menjauhinya sebab tentu susah untuk menguyah pisang dengan benar. Di luar dari biji, sebenarnya daging pisang klutuk memiliki rasa manis yang khas. Sehingga terjawablah hipotesis kami, bahwa jelas saja pisang ini diterlantarkan begitu saja oleh pemiliknya, karena memang pisang ini seperti itulah keadaannya. Walau begitu, kami bersikeras untuk membukanya beberapa hari lagi, barangkali ada keajaiban dari hasil jerih payah kami mengumpulkan pisang tersebut.
Rupanya rencana memakan pisang berjamaah saat itu gagal. Beruntung ada sahabat kami yang membawa jagung, awalnya jagung itu akan kami jadikan jagung bakar dan membakar bersama-sama di belakang rumah. namun, tiba-tiba hujan turun. Dengan sedikit malu terpaksa kami tukar arang yang kami beli dengan minyak tanah. Pada akhirnya tersajilah hidangan yang tak terduga, dengan suka cita kami menyantapnya berjamaah. Ya.. jagung rebus berjamaah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar