Ini Tentang Ujian Nasional
Annisa Mutmainnah
Mei 27, 2014
0 Comments
Ujian
Nasional dengan segala permasalahannya seakan menjadi objek penambah suram
wajah pendidikan Indonesia. Kecemasan masal terjadi setiap tahunnya, tidak
hanya peserta didik sebagai subjeknya tetapi juga semua pihak ikut terlibat.
Tidak jarang demi UN semua cara dilakukan, termasuk mencontek bagi peserta
didik dan diperparah dengan pencurian soal sebagai bentuk persekongkolan antara
guru dan kepala sekolah demi mensukseskan UN. Miris memang, dengan adanya UN justru menampakkan adanya disorientasi pendidikan.
Keberadaan
UN memang menjadi hal yang praktis dan cepat untuk mengetahui fluktuasi
kualitas pendidikan nasioanal. Namun, melihat permasalahan yang terjadi di
lapangan, sekalipun tingkat kualitas pendidikan naik, akan berkesan seperti
pembohongan publik. Keberadaan UN yang hanya menguji tingkat kognitif peserta
didikpun menjadi bertolak belakang dengan keberadaan kurikulum 2013 yang
serentak akan diterapkan pada tahun 2015 mendatang, keberadaan UN tidak sinkron
dengan evaluasi pembelajaran pada kurikulum 2013. Ini akan menambah kebingungan
publik nantinya.
Jika
dilihat dari aspek penilaian terhadap peserta didik, rasanya lebih setuju jika
evaluasi yang dilaksanakan berupa sebuah karya atau proyek baik secara individu
maupun kelompok dengan standarisasi tertentu, dan tentunya disesuaikan dengan
karakteristik kualitas pendidikan yang berbeda di setiap wilayahnya. Dengan adanya karya tersebut aspek penilaian tidak
hanya dari segi kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotornya akan terlihat.
Selain itu tingkat kreatifitas anak bangsa akan terasah lewat karya tersebut.
Memang evaluasi dengan bentuk seperti ini bukan hal yang mudah dan praktis,
namun bukan tidak mungkin dengan cara ini akan meminimalisir tingakat
kecurangan, kecemasan dan permasalahan lainnya seperti yang terjadi pada
penerapan UN akhir-akhir ini. Dan yang terpenting dari keseluruhan bentuk evaluasi
pendidikan nasional adalah adanya keharmonisan antara kebijakan pemerintah,
masyarakat, sekolah dan peserta didik. Sehingga adanya evaluasi tidak menjadi
hal yang harus ditakuti, tetapi justru menjadikan motivasi untuk dapat
memperbaiki kualitas pendidikan negeri. Karena kualitas suatu peradaban, akan
tercermin pula dari kualitas pendidikannya.
Pendidikan
untuk peradaban!

