Selasa, 27 Mei 2014

Ini Tentang Ujian Nasional

Mei 27, 2014 0 Comments
Ujian Nasional dengan segala permasalahannya seakan menjadi objek penambah suram wajah pendidikan Indonesia. Kecemasan masal terjadi setiap tahunnya, tidak hanya peserta didik sebagai subjeknya tetapi juga semua pihak ikut terlibat. Tidak jarang demi UN semua cara dilakukan, termasuk mencontek bagi peserta didik dan diperparah dengan pencurian soal sebagai bentuk persekongkolan antara guru dan kepala sekolah demi mensukseskan UN. Miris memang, dengan adanya UN justru menampakkan adanya disorientasi pendidikan.
Keberadaan UN memang menjadi hal yang praktis dan cepat untuk mengetahui fluktuasi kualitas pendidikan nasioanal. Namun, melihat permasalahan yang terjadi di lapangan, sekalipun tingkat kualitas pendidikan naik, akan berkesan seperti pembohongan publik. Keberadaan UN yang hanya menguji tingkat kognitif peserta didikpun menjadi bertolak belakang dengan keberadaan kurikulum 2013 yang serentak akan diterapkan pada tahun 2015 mendatang, keberadaan UN tidak sinkron dengan evaluasi pembelajaran pada kurikulum 2013. Ini akan menambah kebingungan publik nantinya.
Jika dilihat dari aspek penilaian terhadap peserta didik, rasanya lebih setuju jika evaluasi yang dilaksanakan berupa sebuah karya atau proyek baik secara individu maupun kelompok dengan standarisasi tertentu, dan tentunya disesuaikan dengan karakteristik kualitas pendidikan yang berbeda di setiap wilayahnya. Dengan  adanya karya tersebut aspek penilaian tidak hanya dari segi kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotornya akan terlihat. Selain itu tingkat kreatifitas anak bangsa akan terasah lewat karya tersebut. Memang evaluasi dengan bentuk seperti ini bukan hal yang mudah dan praktis, namun bukan tidak mungkin dengan cara ini akan meminimalisir tingakat kecurangan, kecemasan dan permasalahan lainnya seperti yang terjadi pada penerapan UN akhir-akhir ini. Dan yang terpenting dari keseluruhan bentuk evaluasi pendidikan nasional adalah adanya keharmonisan antara kebijakan pemerintah, masyarakat, sekolah dan peserta didik. Sehingga adanya evaluasi tidak menjadi hal yang harus ditakuti, tetapi justru menjadikan motivasi untuk dapat memperbaiki kualitas pendidikan negeri. Karena kualitas suatu peradaban, akan tercermin pula dari kualitas pendidikannya.

Pendidikan untuk peradaban!

Selasa, 13 Mei 2014

Karena Hidup itu Belajar

Mei 13, 2014 0 Comments
Harapan itu masih ada, tetap tenang dan yakin pada-Nya.
Ia maha Besar, masalahmu jauh lebih kerdil.
Hanya dengan bergantung pada-Nya, maka kamu tidak akan kecewa.
Setiap kejadian adalah disengaja, disengaja adanya oleh sang Pencipta, sebagai bukti kasih sayang-Nya.
Maka, berhenti bertanya "mengapa amanah ini ada di pundak saya?".
Karena waktu berjalan takan menunggu ketika kamu terjatuh.
Cukup dan hanya cukup berharap pada-Nya. Ia  dan ribuan malaikat menyaksikan.
Melangkah ikhlas karena-Nya, sulit? sakit? lelah? memang selalu ada, jika tidak begitu, mungkin nabi Muhammad dulu sudah menyerah ketika dilempari kotoran dicaci dan dihina, mungkin nabi Ibrahim tidak akan berani menyembelih demi kenyamanan bersama putranya. Namun, Allah maha adil, tidak membebani makhluk diluar kemampuannya, hingga menyadarkan bahwa masing-masing dari kita akan belajar, belajar memaknai, belajar bahwa hidup itu berpikir, belajar bahwa menjaga izzah itu sungguh berharga, belajar, belajar dan belajar. hingga pada akhirnya kemaslahatan membersamai, tidak hanya untuk diri, tapi ummat, ya ummat..
Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan, setiap kelalaian dan setiap rasa lelah yang terlalu dihayati.
Semoga Allah selalu membimbing untuk selalu istiqomah, memberi kekuatan untuk belajar dan melangkah. Laa haula walaa Quwwata Illaa billaah..


Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad -Al-Hadist-

Jumat, 02 Mei 2014

Refleksi Diri untuk Perbaikan Negeri

Mei 02, 2014 0 Comments

Akhir-akhir ini marak pemberitaan mengenai kasus-kasus degradasi moral seperti tindakan kriminalitas,  pembunuhan yang bahkan tanpa memandang status, seperti anak membunuh ayah, ibu membunuh anak dan sebagainya. Sebuah renungan tentang fenomena akhir zaman yang kian menampakkan cirinya. Hal yang dikhawatirkan adalah ketika fenomena degradasi moral ini menjadi konsumsi masyarakat yang keberadaannya sudah tidak asing, kemudian menjadikan masyarakat bersikap biasa saja, menjadikan pribadi yang tidak peka terhadap fenomanan degradasi moral yang ada disekelilingnya dan berujung pada cerminan wajah bangsa yang suram. Tentu tidak ada suatu bangsapun yang ingin wajahnya dihiasi dengan fenomena seperti ni. Suatu kondisi yang menuntut siapapun untuk memikirkannya.

Penyakit Sosial
Memang sudah seperti mata rantai, mengkoreksi satu aspek akan berpengaruh pada aspek lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena pembunuhuhan dan kriminalits lainnya merupakan permasalahan yang sebagian besar mengkambinghitamkan masalah ekonomi. Masalah ekonomi dirasa masih bisa dikendalikan jika aspek sosial masyarakat tatap terjaga seperti saling membantu, bergotong royong, dan adanya sikap saling peka teradap lingkungan masyarakat, artinya betapa penting nilai keharmonisan di dalam masyarakat. Problematika kehidupan di masyarakat yang ada seperti saat ini tidak akan tampak bila lingkungan masyarakatnya berjalan dengan harmonis. Keharmonisan dalam masyarakat sulit terbentuk jika masyarakatnya tidak tahu apa yang menjadi hak dan kewajiban bermasyarakat, atau bisa jadi dia tahu, namun pura-pura tidak tahu. Ini yang kemudian menjadi bibit penyakit sosial di masyarakat. Pemahaman seseorang tentang hak dan kewajiban tersebut tidak muncul begitu saja, ada proses yang membentuknya diantaranya adalah pendidikan, terlepas dari apakah itu pendidikan formal, informal maupun nonformal.

Cita-cita Pendidikan Nasional
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki cita-cita yang tinggi untuk pendidikan sebagaimana yang terdapat dalam alinea ke empat UUD 1945 yakni “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” selain itu ada pula fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang dituangkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
Namun, pertanyaannya adalah sejauh mana pendidikan dapat memahamkan masyarakat? kemana peran setiap individu yang tugasnya memanusiakan manusia? yang tugasnya menghidupkan yang sudah hidup?. Sudah banyak orang yang terdidik diproduksi oleh negeri, ribuan sarjana lahir setiap tahunnya. Sungguh ironi, jika kita harus melihat bahwa perkembangan kuantitas orang intelek negeri berbanding lurus dengan perkembangan kriminalitas di negeri ini. Ini yang menjadi tugas kita semua saat ini dan untuk masa yang akan datang. Tugas setiap manusia untuk dapat mendidik, menyikapi adanya degradasi moral yang diiringi peningkatan kualitas pendidikan. Dan yang terpenting adalah hasil pendidikan dapat membentuk watak seseorang yang mampu membawa perubahan lebih baik sekalipun dia berada pada lingkungan yang kurang kondusif. Artinya, ada tuntutan berkenaan dengan kecakapan seseorang dalam melaksanakan pendidikan apapun bentuknya, untuk tahu sesuatu, untuk menjemput jalan yang seharusnya ditempuh, untuk tahu bahwa benar dan salah akan selalu menjadi sebuah pilihan, namun sejauh mana seseorang dapat berusaha menggali ilmunya agar menjadikan pemikirannya lebih dewasa yang dapat benar-benar membedakan mana yang baik dan yang buruk serta sesuai dalam pengimplementasiannya.

Refleksi Diri
Pendidikan tidak selalu berkutat dengan sekolah formal, dengan guru atau buku, sesungguhnya masyarakat bisa berbuat lebih dari itu, karena manusia berakal, maka idealnya dia akan berpikir dan merefleksikan hasil pemikirannya lewat tindakan yang ia mampu, lalu tindakan yang seperti apa? tentu tindakan yang membawa perbaikan. Termasuk bergeraknya kita untuk selalu memperbaiki keadaan, karena sejatinya keadaan yang buruk bukan untuk dihindari, namun sejauh mana kita berkontribusi agar keadaan tersebut berjalan sebagaimana mestinya.
Seperti mengutuki diri sendiri ketika yang kita bisa hanya mengutuki keadaan, mengutuki sistem, mengutuki pemerintah, mengutuki para kriminalitas, sementra kita hanya diam menikmati peran sebagai penonton yang menyaksikan kegaduhan negeri. Menonton saja tidak akan menghilangkan masalah dan apa yang dituangkan dalam kata-kata, tidak lebih berarti tanpa tindakan yang mengiringi. Masalah seringkali dan banyak ditemui tetapi yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita berfokus pada solusi bergerak dan memperbaiki.

Selamat hari Pendidikan Nasional, Pendidikan untuk Peradaban..!!

Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...