Minggu, 11 September 2016

Yakin jadi guru?

September 11, 2016 0 Comments

Menjadi seorang guru adalah kalimat yang sering saya lafalkan. Ibu saya bercerita, sewaktu saya TK saya sering menjawab “ingin jadi guru” jika ada yang bertanya mengenai cita-cita saya. Tentu, di usia TK semua akan menjawab sesuai kehendaknya tanpa berpikir panjang. Begitupun pada masa remaja, pada masa labil yang penuh dengan pemaklumanpun jawaban “menjadi guru” adalah pilihan saya. Beranjak dewasa saya mulai berpikir, mengapa saya sering melafalkan kalimat “ingin menjadi guru” padahal tidak ada seorangpun anggota keluarga saya yang berprofesi sebagai seorang guru? begitu pun dengan hasrat menjadi guru, jika dikaitkan dengan apa tujuannya? saya akan sangat bingung untuk menjawab. Pada intinya melafalkan kalimat “ingin menjadi guru” hanya sebatas jawaban kosong.
Sebagai remaja hampir kadaluarsa pada saat itu, saya mulai dihadapkan pada pilihan tentang apa yang akan dijalani di masa selanjutnya. Saya mulai mencari-cari profesi apa yang sekiranya bisa saya jalani sesuai dengan passion saya. Mulailah saya memadukan antara keinginan menjadi guru dengan tujuan dan manfaat ke depannya. Biidznillah, saya mulai menumukan pencerahan saat itu. Saya mulai benar-benar tertarik untuk menjadi seorang guru. Tapi tertarik saja tidak cukup, maka ikhtiar adalah jawabannya. Awalnya saya merasa pilihan saya memang tepat, saya mulai tertarik dengan dunia pendidikan, bergabung dengan komunitas-komunitas pendidikan dan berdiskusi tentang permasalahan pendidikan adalah hal yang menurut saya menyenangkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, ikhtiar menjadi seorang guru justru membuat saya perlahan ragu untuk menjadi seorang guru. Saat PPL menjadi guru misal, saya terlambat menyadari bahwa seorang phlegmatis melankolis dihadapkan dengan anak-anak yang memiliki energi berlebih adalah sebuah PR yang mau tidak mau harus diselesaikan. Tidak mudah memang, tapi ini adalah tantangan, “our education needs hands, not just complaints!” kalau kata kakak tingkat saya bilang.
Perjalanan masih panjang, hanya perlu berdiskusi dengan waktu untuk sebuah penyesuaian. Perlahan saya menemukan cinta dalam setiap perjalanan. Bertemu dengan berbagai karakter murid, melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan keunikan pemikirannya, tingkahnya dan menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan pada akhirnya. Namun dibalik itu, ada hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu niat, dan mungkin tidak ada yang lebih membahagiakan dari segala sesuatu yang diniatkan untuk ibadah termasuk ketika mengemban amanah menjadi seorang guru. Maka di sisi lain, menjadi seorang guru adalah sumber kebahagiaan..

***

Sabtu, 03 September 2016

Senja

September 03, 2016 0 Comments


Semburat jingga meragam mengindahkan senja. Tapi tidak bagi pemilik nama yang katanya "tenang" itu. Duduk melamun di taman, sendirian. Eh tidak, rupanya ia ditemani lagu Tohpati feat Sutha, bersenandung rindu. Ya, bersenandung rindu pada apapun yang terjadi di masa lalu. Mengajak tulisan penawar rindu menari-nari, padahal nurani tak tahu bagaimana rindu diakhiri. Naif memang, tapi apalah daya, di samping sederet do'a, setidaknya itu membuat ia merasa lega..

Dan baginya, pada senja Allah titipkan banyak cerita..


Senin, 18 Juli 2016

Speaking English?? Aku ora isoooo.. :(

Juli 18, 2016 0 Comments

Speaking English..
Betapa kedua kata itu menghantui akhir-akhir ini. Saya termasuk orang yang abai dengan keberadaan bahasa inggris, tidak suka bahasa inggris. Pun ketika saya menyadari pentingnya berbahasa inggris apalagi berkaitan dengan Bahasa Internasional, MEA, dan teman-temannya. Tapi pikiran saya yang buntu berkata "ah, bukan guru b. inggris ini kok, gak haram gak belajar b.inggris" *plakk*. Kemudian skor PTESOL mengganjar saya dengan angka yang kalau orang sunda bilang “saongkoseun” (read : pas-pasan), padahal Cuman PTESOL waaaa!, yang katanya lebih mudah dari tes TOEFL, IELTS dan teman-temanya. *eottokeninggoyaaa!!?* :(
          Saya merasa dipermalukan dengan kelakuan saya ini!. ditambah dengan kejutan saat wawancara kerja yang ternyata menggunakan bahasa inggris, soaklah saya waktu itu. Dari situ pintu hidayah untuk menekuni bahasa inggris mulai terbuka, Tapi seiring berjalannya waktu, pikiran buntu meracuni lagi, saya tidak istiqomah menekuni bahasa inggris. Sampai suatu ketika datanglah seorang bule ke desa kami, entah siapa dia. Desas desus sih anaknya salah seorang penduduk di desa kami, ada juga yang bilang dia datang ke Indonesia oleh sebab pertukaran pemuda antar negara, ah entahlah yang mana yang benar, yang jelas dia sering jajan ke warung ibu saya, menjadi salah satu konsumen penggemar ibu saya, “she is my favorite ibu” katanya. Daebak pisan lah mamah tercintah meskipun beliau tidak bisa berbahasa inggris :D
            Saya penasaran dengan nona bule ini, sampai suatu ketika dia ngetok2 pintu warung (mungkin masih asing dengan kata “punteun” atau “beli”). Lantas saya jadi gagap seketika dan bilang “can i help you?” trus dia tanya “can you speak english?” yang berujung pada jawaban “little” dan anggukan serta senyuman penuh pemakluman dari nona bule. Ah ngisinkeun pisan pokonamah!. Lantas dia ngajak saya ngobrol yang lumayan melebar dengan pengulangan pertanyaan, saya pun sama, mencoba menjawab dengan bahasa inggris, meski dengan pengulangan pernyataan. Intinya bisa jadi “gue dan lo sama-sama gak ngerti” hahaha, tapi ini berhasil membuat kami sama-sama belajar, dia belajar bahasa, saya belajar speak english.
Kejadian ini membuat saya benar-benar menyadari bahwa belajar bahasa inggris memang bukan untuk sekedar menggugurkan kewajiban belajar di sekolah, bukan sekedar menghasilkan angka dalam rapor atau ijazah, bukan sekedar lulus tes penunjang karir, tapi berbahasa inggris bisa menjadi suatu kebutuhan yang mendesak, pada watu yang bahkan tidak terduga.
Intinya, pandai berbahasa, bahasa papun itu menjadi sebuah keharusan pada akhirnya.  Bukankah Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku? Lantas, bisakah kita saling mengenal tanpa perantara kata yang bernama “bahasa”?
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS. Al-Hujuraat 49 : 13)

Selamat belajaaaaaaaaaaaaaaaaar.... :D


Jumat, 27 Mei 2016

Demi Masa

Mei 27, 2016 1 Comments
Bahkan senja tak alpa mengingatkan untuk tak terlarut dalam keheningan pada jeda yang terlampau panjang. Karena bukan sebuah harap untuk mengembalikan denting waktu, bahkan untuk sepersekian detik.

Kita tak ber-Maha..

“Demi masa,Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali oorang-orang yang beriman dan beramal soleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (TQS. Al-Ashr : 1-3)


Senin, 16 Mei 2016

Untitle

Mei 16, 2016 0 Comments
Pada akhirnya, kemarin adalah jawaban dari sebuah pertanyaan yang benar-benar tidak pernah (mau) saya tanyakan, sebuah pernyataan yang benar-benar tidak pernah (mau) saya nyatakan. Terima kasih tuan, sudah menyegerakan, jadi saya tidak lagi penasaran.. Barokallaah.. “whats is truly yours would eventually be yours, and what is not, no matter hard you try, will never be..” -Secangkir Maaf


Dewasa?

Mei 16, 2016 0 Comments

Terlepas dari unsur fisik, Dewasa adalah sebuah fase dimana seorang seharusnya dapat berpikir lebih matang, lebih dapat meredam emosi yang tidak penting, lebih dapat menjadikan segala sesuatu lebih terkontrol, dewasa juga berbicara tentang tanggung jawab dan rasa malu. Saya tidak ingin menyalahkan sebuah proses yang pada hakekatnya dia baik, tapi pada kenyataannnya, suatu waktu saya bisa membenci apa itu dewasa, dimana pada fase tersebut saya merasa segala sesuatu menjadi lebih rumit. Apa jangan-jangan sebenarnya saya belum cukup dewasa untuk mendifinisikan fase Dewasa itu sendiri? Ah, entahlah.

Berbicara soal dewasa, Idealnya seiring bertambahnya usia, semakin dewasa pemikiran seseorang. Tapi, kenyataan tidak selalu begitu. Kadang seseorang masih senang dininabobokan dengan kenyamanan perlakuan layaknya anak-anak, saking senangnya jadi lupa kalau usia ternyata sudah bukan anak-anak lagi. Kerap kali ini menjadi sebuah PR baik bagi orang tua, anak dan lingkungan yang masih sering terlupakan. Akibatnya tidak sedikit orang dewasa yang masih kekanak-kanakan. Meski tidak sampai merugikan orang sekitar, setidaknya seseorang terikat dengan norma dan adat lingkungan sekitar. Tidak semua orang mau mencari tahu latar belakang seseorang mengapa bertingkah laku seperti ini dan seperti itu, atau dalam arti mencoba memahami dan memaklumi tingkah seseorang. Sebagian besar mungkin hanya berpikir tingkah laku seseorang sesuai atau tidak, diterima atau tidak, dan normalah yang berbicara pada akhirnya.

Belajar menjadi dewasa membutuhkan waktu. Ya, tapi pada intinya menjadi dewasa butuh pembiasaan dan pembiasaan tidak mungkin dilakukan sendirian, butuh perlakuan, butuh dukungan. Agar ketika seseorang beranjak dewasa ia tidak merasa ketakutan, tidak merasa seperti burung yang tiba-tiba dilepas dari sangkarnya, tidak merasa seperti anak ayam yang ditinggal induknya, kebingungan akan tanggung jawabnya sebagai sesosok yang sudah dewasa.


Minggu, 10 April 2016

Sabtu, 09 Januari 2016

Oh My KTP

Januari 09, 2016 0 Comments
“Teh, foto close up'nya pake kamera fisheye ya?” *gubrakkk*
Emang ya, saya gak bersahabat sama KTP dan dokumen-dokumen kewarganegaraan lainnya. Selalu ada kesalahan teknis, kek pertanyaan di atas misal, Pertanyaan itu muncul waktu saya ngurusin surat izin penelitian yang mengharuskan untuk memperlihatkan KTP. Sambil senyam senyum si masnya liat foto KTP saya, dan saya hanya bisa senyum *bari jeung kapaksa* sambil membela diri. Masnya husnudzon banget subhanallaah sampe ngira itu foto pake kamera fisheye T.T, tapi emang, setiap orang yang lihat foto KTP saya pasti ketawa. Mungkin karena wajah terlihat jebag, kerudung yang belum sempet dibenerin, gak sempet senyum, mata gak kontrol, hinyai kek gorengan, intinya belum sempet kontrol wajah, petugas E-KTP udah main ckrek ckrek aja. Ah, yasudahlah aku mah apa atuh. *balik badan, kemudian lari* yang penting mah don’t judge by the cover we lah, hahaha..

Jumat, 08 Januari 2016

Maaf..

Januari 08, 2016 0 Comments
Sahabat,  ada saat di mana aku seringkali merasa kita akan selalu baik-baik saja, bahkan pada saat di mana aku tidak bisa memenuhi hakmu sebagai sahabatku, pada saat di mana aku terlampau sibuk dengan duniaku, pada saat di mana aku selalu mempertahankan ego sedang sikapmu selalu baik, menutupi kekuranganku, menyambutku dengan sikap yang selalu hangat, dan.. ah, terlampau banyak kebaikan jika harus diceritakan.

Sahabat, apa kamu tahu, bahwa seringkali aku merasa bingung saat diliputi rasa bersalah, ya, rasa bersalah terhadap sesuatu yang belum sempat tersampaikan, atas sesuatu yang tidak sempat dilakukan. Selalu muncul pertanyaan “rasa bersalah seperti apa yang bisa aku tunjukkan? Ah, maafkan sahabatmu ini, hanya memasang tampang layaknya semua baik-baik saja. Kau mungkin pernah kesal dengan sikap yang sering aku tunjukkan. Maafkan aku, maafkan selalu bersikap seperti ini, maafkan untuk selalu berpikir bahwa kata-kata tidak bisa menggambarkan betapa aku merasa menyesal, bahkan dengan meminta maaf pun tidak cukup menggambarkan bahwa aku bukan sahabat yang baik..

Maaf, maaf, maaf.. aku ingin selalu menjadi sahabatmu, ingatkan ketika aku lupa, tegur aku jika salah, maafkan jika terlampau menggunung salahku..

Mestinya hari ini menyempatkan waktu menemuimu.. ah, dan lagi, maaf... maaf yang banyak...


Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...