Sabtu, 14 Desember 2013

(ke)bingung(an)

Desember 14, 2013 0 Comments
kebingungan itu adalah..
ketika tidak dapat mendefinisikan 1 soal. yang lebih dari sulitnya soal matematika, kalkulus dan serentetan pertanyaan sekolahan yang pernah kamu temui. Berkeliling menari-nari, sungguh, itu mendistraksi.. pernah mengalami??



baiklah, mungkin ini sedikit gila, bertanya dan mencoba mencari jawaban sendiri.
semua orang pasti pernah menglami kebingungan, tentang hal apapun. selamat.. berarti anda mempergunakan bagian dari kesempurnaan anda. ya, 'akal' dengannya kita bisa 'berpikir'. berpikir artinya kamu peduli, terutama peduli pada diri sendiri, ya setidaknya mengurangi kebingungan yang mengganggu. tetapi kebingungan akan semakin bingung bila hanya berpikir dan berkutat sendirian. Hey, bercerita adalah alternatif untuk memerangi kebingungan. pada orang tua, sahabat, teman, guru dan siapapunlah yang kamu percaya. tapi, khusus kamu yang ga mau curhatan kamu meluber kemana-mana, bercerita pada yang Maha dari segala Maha adalah cara yang terbaik. ya, Ia yang menciptakanmu, Allah SWT. percayalah :D
jawaban Ia sungguh tak terduga, membahagiakanmu lebih dari yang kamu mau. yakinlah.. Tapi bukan berarti tidak berintetraksi dan tidak meminta bantuan orang sekeliling kita kan gengs?. Bagaimanapun, Hablumminallaah, Hablumminaannaas dan Hablumminal alam itu mah hal yang mutlak mengiringi kehidupan, iya ga? hehe.
ah, yasudahlah, segitu dulu yang bisa ditulis. semoga tidak menjadi lebih bingung dengan tulisan (ke)bingung(an) ini.. haha :D

Senin, 09 Desember 2013

Lebih dari Sekedar Typo

Desember 09, 2013 0 Comments
Ah, aku mungkin butuh istirhat,
mata sama kerja otak udah ga sinkron

hikmah malem ini adalah,
"jangan mosting sambil ngelamun, apalagi ngantuk"
bisi ciga abdi, update status malah di grup, *aye kira ntu pekarangan rumah aye..
haha, hasilnya jadi malu sendiri, geje sendiri daaaan, mikir 20 kali buat ngeklik "post" *rempong ye chiiiin??

Alhamdulillaah, barangkali Allah memperingatkan agar lebih cermat dalam bertindak, :D

#GalauMPG

Kamis, 21 November 2013

loyalitas dan kapabilitas maukah kamu bergandengan?

November 21, 2013 0 Comments
Ocehan kamis sore sepanjang  Al-furqon-gerlong nampaknya baru bisa terulang lagi.. *lebeehh
seringkali saya terkagum-kagum dengan orang yang capable, mendaratlah pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu lagi ditanyakan, ya, mungkin hanya sekedar mencari penawar saat itu.  Ngoceh ngalor-ngidul, pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan "bagaimana, bagaimana dan bagaimana", *entah, mungkin sahabat saya sudah bosan dengan deretan pertanyaan saya..
saya menyadari, alangkah lucunya saya bertahan hanya bermodal loyalitas..

"loyalitas aja gak cukup" saya bilang, "tapi capable aja gak cukup" kata sahabat saya. *hening

Minggu, 17 November 2013

Sepucuk nasehat dari sahabat

November 17, 2013 0 Comments
sebuah nasehat dari seorang sahabat. 
semoga menjadi nasehat bagi sahabat yang lainnya...

teruntuk saudara/i ku..

ini sebuah catatan, yang saatnya engkau malu pada tuhanmu. tentang rasa 'cinta' yang tak halal untuk dirasa. tentang angan yang tak pantas untuk dibayangkan. karena semua itu adalah suatu pengkhianatan, pada Nya dan pada seseorang yang kini sedang menjaga hatinya untukmu. ketahuilah disana ada insan yang setia menundukan pandangannya, yang menghijab hatinya, yang menunggu dang mengisi harinya dengan do'a terbaik untukmu. ia yang tak pernah ingin mengenalmu sebelum halal atasmu, karena dengan itu ia menjagamu. maka tak inginkah kau menghargainya ? ***


Sabtu, 16 November 2013

Pulang malu, tak pulang rindu..

November 16, 2013 0 Comments
malam berlalu,
tapi tak mampu kupejamkan mata dirundung rindu
kepada mereka
yang wajahnya mengingatkanku akan surga
wahai fajar terbitlah segera,
agar sempat kukatakan pada mereka
“aku mencintai kalian karena Alloh.”
-‘Umar ibn al-Khoththob-



Pulang malu, tak pulang rindu..
ya, itu selogan yang nempel di bemper truk.. *represent current feelings #halah

Kangen rumah kadang mendistrak semua.. apalagi paling nyesek saat bilang "mi, dede moal waka tiasa uih".

Tapi, kalau hati nanya "anda profesional? bekerja karena siapa? Allah lihat kamu, Allah yang menjaga mereka.."
Ah, malu rasanya.. tidakkah bisa untuk bersabar sejenak? amanah ini kamu yang memilih, Allah yang mengatur..

Kuatkan aku yaa Kariim..

Jumat, 15 November 2013

"dia rindu kamu"

November 15, 2013 0 Comments
"dia rindu kamu" kata sahabatku..



Aku tersengat.. padahal hampir setiap hari aku dan dia bertemu, dia duduk di belakangku, aku duduk di depannya sama-sama kami meghadap ke depan, menyimak dosen kami menyingkap ilmu. Hanya, rasanya ada yang sedikit memudar, untuk sejenak bercengkrama. ya, akhir-akhir ini aku seperti anak autis yang temannya adalah tugas. Beradaptasi dengan amanah-amanah baru yang karena keterbatasanku, nampaknya aku tak cukup pandai membagi waktu. Sahabat, akupun rindu, aku lebih dulu mengenalmu, sebelum aku mengenal tugas-tugas itu. Ah, maafkan sahabatmu ini, semoga selalu ada aku dalam do'a robithahmu.. 

Senin, 11 November 2013

Untitle

November 11, 2013 0 Comments
Cukup Allah dan aku saja yang tahu..
Cukup untuk Allah tindak tandukmu..
Sesekali periksa hatimu, takut ternyata terselip dusta..

Ah, aku mencintaiMu yaa Rob,
Jadikan aku anak yang solehah, makhluqmu yang bertaqwa..
Izinkan untuk menebar kebahagiaan untuk mereka, karena-Mu..
Sebagaimana Engkau kelilingi aku dengan makhluq-Mu yang selalu menebar kasih sayangnya padaku, pada mereka.. semoga selalu karena-Mu..
Izinkan yaa Rohmaan..
Sebagai bagian bentuk cintaku pada-Mu..

Jumat, 01 November 2013

Life itu Ciga 'puzzel' ceunah..

November 01, 2013 0 Comments
obral obrol..

F : hidup itu apa si?
V : a, menurut kamu hidup itu apa?
A : ketika sesuatu menunjukkan tanda-tanda kehidupan. *so' ilmiah
V: itu mah tanda-tanda.. -__-
A : (tiba-tiba ngelintas aje tu mainan anak-anak (baca : puzzel)..)
gini ceunah v.. "hidup itu kaya puzzel, kamu bakal liat itu puzzel saat lacak-acakan, rapih, beda bentuk, berpasangan, dan terserahlah kek gimana, tapi inget, sejatiya dia masih tetep dalam satu bingkai, artinya hidup senanonano apapun itu, dia punya koridor yang punya konsekuensi"
v : (senyum bertaring..) :D


sometimes, i think that life is like a puzzle..


Rabu, 30 Oktober 2013

:)

Oktober 30, 2013 0 Comments
ya, tak semua menerima pembelaan diri
Jika begini, cukup Dia dan aku saja yang tahu
Maaf yang terlantun dibawah langit pekat yang sesekali menyemunyikan cahaya bintang
Ku tau semuanya indah, hanya diri yang terkadang membuat noktah
Tak ada yang sempurna selain-Nya

Rabu, 11 September 2013

Ekologi Lingkungan

September 11, 2013 0 Comments

 EKOLOGI LINGKUNGAN
A. Perbedaan ekologi dan Lingkungan
Ekologi tidak sama (sinonim) dengan lingkungan, paham lingkungan, sejarah alam atau Ilmu lingkungan. Sebelum mengetahui perbedaan dari ekologi dengan lingkungan, berikut merupakan definisi dari ekologi dan lingkungan.
Ekologi (dalam bahasa Yunani: οκος, "rumah"; dan -λογία, "ilmu tentang") merupakan suatu studi ilmiah dari hubungan antara organism hidup dengan organism lainnya dan dengan lingkungan alam.
Lingkungan adalah semua benda dan kondisi termasuk di dalamnya manusia dan aktivitasnya, yang terdapat dalam ruang di mana manusia berada dan mempengaruhi kelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya. (Darsono, 1995).
Selintas hampir tidak ada perbedaan atau batasan yang jelas antara ekologi dengan lingkungan, namun jika diperhatikan lagi, ada hal-hal yang membedakan antara ekologi dengan lingkungan,
Berikut merupakan perbedaan ekologi dengan lingkungan :

Unsur Pembeda
Ekologi
Lingkungan
Batasan
Ekologi diberi batasan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari satu organisme hidup atau sekelompok organisme hidup dengan lingkungannya.

Lingkungan  dikaji dalam ilmu lingkungan yang merupakan ekologi terapan (applied ecology ) dengan tujuan agar manusia dapat menerapkan prinsip dan konsep pokok ekologi dalam lingkungan hidup.

Pandangan terhadap objek
Dalam ekologi hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya bersifat obyektif, manusia dipandang sama dengan makhluk hidup lainnya.
Dalam ilmu lingkungan manusia dibedakan dengan makhluk hidup lain, pandangan hubungan antara manusia dengan lingkungan bersifat subyektif  (ekologi = environmental biology  dan  ilmu lingkungan = environmental science).
Fokus
Ekologidi sisi lainbiasanya lebih difokuskan pada bagaimana organisme berinteraksi satu sama lain dan dengan lingkungan sekitarnyamereka.

ilmu lingkungan merupakan bidang yang lebih menyeluruh yang menggabungkan banyak unsur ilmu bumi dan kehidupan untuk memahami berbagai proses alam.

B. ruang lingkup Ekologi Lingkungan
Ilmu yang mempelajari tentang lingkungan hidup adalah Ekologi. Istilah ekologi untuk pertama kali diperkenalkan oleh Ernest Haeckel, seorang ahli biologi berkebangsaan Jerman. Istilah ekologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos yang artinya rumah tangga atau habitat dan logos yang artinya telaah atau ilmu.
1. Pengertian Ekologi
a. Miller, 1975 : Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme dan sesamanya serta dengan lingkungan tempat tinggalnya. (Darsono, 1995)
b. Otto Soemarwoto : Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. (Darsono, 1995)

2. Ilmu Pendukung Ekologi
a. Environmentaly (ilmu-ilmu lingkungan) : klimatologi, hidrologi,  oseanografi, fisika, kimia, geologi, dan analisis tanah.
b. Ilmu-ilmu fisik : perilaku hewan, taksonomi, psikologi, dan matematika.

3. Aspek Utama Ekologi
a. Studi tentang hubungan organisme atau grup organisme dengan lingkungannya.
b. Studi tentang hubungan antara organisme atau grup organisme terhadap lingkungannya.
c. Studi tentang struktur dan fungsi alam.

4. Prinsip-Prinsip Utama Ekologi
a. Interaksi (interaction)
b. Saling ketergantungan (interdependence)
c. Keanekaragaman (diversity)
d. Keharmonisan (harmony)
e. Kemampuan berkelanjutan (sustainability).

Jenis-jenis Lingkungan Hidup
  1.  Lingkungan Hidup Alami.
Lingkungan hidup alami merupakan lingkungan bentukan alam yang terdiri atas berbagai sumber alam dan ekosistem dengan komponen-komponennya, baik fisik, biologis. Lingkungan hidup alami bersifat dinamis karena memiliki tingkat heterogenitas organisme yang sangat tinggi.
  1.  Lingkungan Hidup Binaan/Buatan.
Lingkungan hidup binaan/buatan mencakup lingkungan buatan manusia yang dibangun dengan bantuan atau masukan teknologi, baik teknologi sederhana maupun teknologi modern. Lingkungan hidup binaan/buatan bersifat kurang beraneka ragam karena keberadaannya selalu diselaraskan dengan kebutuhan manusia.
  1.  Lingkungan Hidup Sosial.
Lingkungan hidup sosial terbentuk karena adanya interaksi sosial dalam masyarakat. Lingkungan hidup sosial ini dapat membentuk lingkungan hidup binaan tertentu yang bercirikan perilaku manusia sebagai makhluk sosial. Hubungan antara individu dan masyarakat sangat erat dan saling mempengaruhi serta saling bergantung.


Sumber :
Vireka.2010.EKOLOGI DAN EKOSISTEM BIOTIK.Bekasi : Bahan Ajar IPA, SMK Kes DBP


Anonim.2011.Pengertian Lingkungan Hidup Menurut Para Ahli. [Online] tersedia : http://geografi-geografi.blogspot.com/2011/01/pengertian-lingkungan-hidup-menurut.html

Minggu, 28 Juli 2013

Yang Kau dan Aku sebut itu “Kenangan”

Juli 28, 2013 0 Comments
Apakabar ESDE?? *saya sendiri aja heran, kenapa tiba-tiba pengen nulis tentang kisah-kisah lama seputar SD :D mungkin karena seharian kemaren nemenin ponakan jalan-jalan kali yak?, hmm, dia baru masuk kelas 1 SD dan gak mau agenda jalan-jalanya diundur gara-gara besok ‘sekolah’, dan dia mempertahankan argumennya itu.. hueuuh –‘
Ya udah lah ya, langsung wae..

Ga pernah nyesel, dan gak akan nyesel disekolain di sebuah SD yang itu sesuatu banget.. bagaimana tidak pemirsa, kalau kamu liat saat itu, kamu bakalan disuguhi dengan pemandangan bangunan yang sedikit banyak hampir sama lah bangunanya sama ceritanya laskar pelangi, dan, saya bahagia.. tapi itu tidak berlangsung lama beranjak dari tahun ke tahun, semakin banyak perbaikan, daaan sekolah itu sekarang, Alhamdulillah sudah lebih bagus, tapi kami –seangkatan- belum merasakan efek dari perubahan seutuhnya..  *udah nasib angkot (angkatan kolot) kali yak.. disyukurin aja :D

Banyak hal menyenangkan saat SD, tapi deritanya juga tidak lebih sedikit. Haha
Hmmh, salah satu bujuk rayu orang tua buat anaknya mau sekolah adalah “di sekolah bakalan punya banyak temen” meski pada hakikatnya tujuan utama sekolah bukan untuk itu, tapi meyingkap bongkahan ilmu yang kamu ga temuin di luaran.. * nu bener ah?? :P, tapi itu tidak salah, dan saya membuktikannya. Tidak hanya teman yang didapet, tapi sahabat, ya Best friend.. dengan tidak membeda-bedakan dengan siapa kita bergaul, berteman, yang dengannya kita dapat belajar tentang apa itu membaur dan apa itu melebur. *eaaa

Ngulik profil temen-temen deket ternyata menyenagkan *menurut saya aja sih kayanya –-
Mau tau?? :D ini merekaa..

Namaya Rindhi –kebetulan dia ulang taun hari ini, Barokallah ya neng J semoga saya sukses :D. dari kecil, mungkin semenjak balita kami sering bermain, hobi kita adalah main, dari BP sampai Barbie, dari masak-masakan sampai nge’dance alias nari *kece? @,@, ya seperti itulah kenyataanya.. :D
Selain itu ada Denti, banyak belajar kesederhanaan dari dia, :’) love u, semoga kamu disayang Allah..

Ada lagi Enden, cewek bule satu ini yang sekarang masih suka nangkring di inbox HP.nya saya, apa kbr kamu ceu?. Dulu di kelas 2, setiap hari saya satronin rumahnya, meski cuman sekedar ngobrol aja, dan dulu kalau lagi ngobrol, sering dia nyeritain temennya yang namanya Vena Paulina, dan dengan antusiasnya saya menyimak, meski masih absurd saat itu..haha, tingkat daya khayal kita tinggi, sering kami merepresentasikannya lewat obrolan, yang mungkin kalau dituangin dalam sebuah komik, komiknya pasti laku terjual.. *di toko bangunan

Yang lainnya ada Dede Rani yang memiliki bakat melucu yang alami dan imajinasi horornya teramat tinggi, dia sering nyeritain yang serem-serem dirumahnya, yang paling saya inget waktu dia nyeritain kalau dia liat ada potongan kaki di dapurnya dan tiba-tiba ilang, *untung saat itu gak kepikiran buat bilang kalau jangan-jangan ntu kaki, kaki ayam di atas piring yang dimakan sama yang ngeliat #plakk

Trus ada Rani, dia dan sang ibu tercinta yang memperkenalkan mata ini dengan pilem-pilem bollywood, dan itu sangat menggangguyang lama kelamaan jadi demen juga.. :P saya seneng main’’ di kamarnya, soalnya kasurnya macem kasur asrama, dimana saya bisa manjat-manjat tangganya, wkwkk

Ada juga Sri Yani, anak pindahan, dan langsung jadi populer dikelasnya, di rajin *sering menggantikan posisi guru kalau gurunya lagi gak masuk, dan menjadi salah satu murid kesayangan guru kami saat itu, tapi kami tidak pernah sekelas, dia kelas A dan saya+temen’’ yang disebutin diatas itu kelas B, entah mungkin cara kami bergaul menjadikan kami cukup dekat J  *emang kumaha?
Mereka adalah teman-teman terdekat yang mungkin mendasari kami untuk menyebut diri kami adalah “Best Friend”, kami banyak memiliki kesamaan, diantaranya seneng nyanyi, nari dan ngayal.. sampai pada akhirnya kami membentuk sebuah geng yang namanya “NETRAL” yang saya sendiri geli dengernya..haha, banyak suka duka yang kami tuai sendiri, dan harus memakluminya sebagai sebuah proses, dan fase pra alay *naon sih?

Sebenernrya masih banyak temen-temen yang lainnya,kaya anis muliasari :*, elah, neni dengan kecerdasannya yang luar binasa, the twins Dina Dini, Fiona yang indo blasteran itu, sofi, ai Rosita, rita yang seperti tetua kami, uyum yang acting esmosinya dapet banget, pipit as olive :D, Eli yang sering melucu, DeSi alias Dede Siti yang Subhanallah rajin, yuni juragan bubur, sofi si tomboy, kebetulan yang disebutin kebanyakan sekelas semua, dan masih banyak lagi, afwan ye yang belum ke absen, saya selalu mengenang kalian kok, hehe

Lho, kok temennya cewek aja??, eeiitts, emang beneer.. #diamuk temen cowok o,O’
Tenang, boy, saya kisahin satu persatu..
Namanya Iqbal, sama kaya Rindhi, mungkin dari balita kita udah temenan, maklum mereka tetangga :D, dengan terpaksa saya mengakui kalau dia pintar, dan fakta membuktikan kalau guru kami memanggil dia Bom-Bom *yuk, nonton sinetron “Bidadari” :D ..

Ada juga Rendi, bule yang tidak blasteran :D, kayanya dia suka bahasa arab waktu di MD dulu, soalnya dia rela aja kalau tugas bahasa arabya di copas.. * -,-‘ trus korelasinya??. oia, selain rumah Enden,  rumahnya juga sering menjadi markas kami untuk mengerjakan tugas, nonton dan maiiin *lagilagi, di depan rumahnya ada pohon jeruk, pernah suatu waktu saya ‘pundung’ dan gak mau turun dari pohon itu, sementara yang lain makan-makan di bawah dan salah seorang diantara mereka cuma bila “anis, kunaon?, hayu turun, makan” and just say it, nothing else, tanpa bujukan lagi dan langsung ntu makanan hampir abis *kurang asem..

Adalagi Satria, katanya sih jago gambar, dulu dia suka mainin alat music, sampai-sampai waktu 17an dia ikut manggung bareng kakaknya, daaan gitar sama badannya aja kayanya gedean gitarnya, haha..

Ada opick juga, Taufik nama aselinya, saya pernah dipinjemin kaset (tape) Band Radja yang lagi populer (pada zamannya), *jaman-jamannya lagu cinderella tuh.. haha
Ardi, putra bapak Jaelani, guru sakola desa, saban poe ngajar, jarum paragi ngaput... *eh naha... Dia adalah manusia kamus ibu kota. Ya, untuk pelajaran IPS, yaa di lumayan jago lah, hafal nama-nama ibu kota. :P

Redi, dia baik, dia suka ngebagi MP ASI gitu, sekelas dong dia bagi.. *padahal punya emaknya yang seorang bidan, haha

Yoni, sang kapten Tsubasa yang dengannya beberapa kali sekolah kami jawara di permainan sepak bola antar sekolah, hebatt..  yang sering kami meneriakinya dengan sebutan “mamaliong” :D .

Mathin, si kalem, tapi diem-diem dia suka berantem, *macem drama2 korea gitu #naonsih -_-' pernah satu waktu rumahnya dijadiin markas buat kita ngerjain ujian praktek berkreasi lewat makanan "cooking2 gitu lah" dengan polosnya saya dan satria membiarkan mixer punya emaknya bau hangus *nyaris rusak doong, tapi kue yang kami hasilkan yaa lumayan, *lumayan dapet pertanyaan "ini kue dibikinin ya? -__-' ".
ada lagi nih, Luki dan Basor, keberadaan mereka akan mengguncang kotak tertawa anda, haha.. cocok kayanya mereka buka klinik ketawa, :D

Emmm, sbenernya masih banyak lagi, *bisa kaya makalah aje ini blog kalau dicritain satu-satu, mohon maaf pemirsaaa ^^
Pokoknya mereka adalah orang-orang luar biasa..



(Dari kiri atas ke kanan bawah.. Sri Yani, Dina, D.Rani, Rani, Saya *ehmm, Rizwan, Satria, Rendi, Basori, Taufik, Toni, Yoni, Fiona, Rindhi) 
Sumber : Koleksi Enden

Ah, Allah sayang kami, setiap kejadiannya membuat ukiran cerita, kenangan yang tersimpan dalam kotak dan kamu bisa membukanya kapan pun kamu mau, dan setelah kamu sadar, ternyata Allah hendak membiarkan kamu untuk belajar kala itu, belajar banyak hal. Bagaimanapun, ada syukur yang mesti teralantun saat kamu buka kotak itu, ya.. kotak masa lalu.. kotak yang kau dan aku sebut itu “Kenangan”.

Is me,  a part of your past box :)

Rabu, 09 Januari 2013

Januari 09, 2013 0 Comments
MAKALAH
“KEBERADAAN SEKTOR INFORMAL PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) SERTA PERMASALAHANNYA BAGI KOTA”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Geografi Desa Kota


Dosen Pengampu
Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, M. S.
Bagja Waluya, M.pd



Oleh
Annisa Mutmainnah (1104228)



JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2013




BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Dalam rangka memenuhi kebutuhan, interksi desa dan kota akan selalu ada, begitupun dengan permasalahannya. Diantaranya adalah keberadaan sektor informal, pedagang kaki lima (PKL) yang tidak tertib.
 Keberadaan sektor informal merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari negara-negara yang sedang berkembang, termasuk di Indonesia dan pada umumnya banyak ditemui di kota-kota. Istilah sektor informal pertama kali dikemukakan oleh Keith Hart (1971) yang menggambarkan sektor informal sebagai bagian angkatan kerja kota yang berada di luar pasar tenaga terorganisasi.
Seiring dengan derasnya arus urbanisasi, keberdaan sektor informal akhir-akhir ini semakin menjamur di kota-kota di Indonesia, seperti banyaknya pedagan kaki lima (PKL), penjual koran, pengmen, pengemis, pedagang asongan dan tidak sedikit pula keberadaan Home Industri di kota-kota di Indonesia.
Adanya sektor informal kadang kala menjadi sebuah permasalahan bagi kota seperti kurangnya kenyamanan dan keindahan tata ruang kota dengan adanya pedagang kaki lima (PKL) yang tidak tertib bahkan dapat menjadi salah satu penyebab kemacetan kota. Namun di sisi lain, kemudahan sektor informal dijadikan masyarakat sebagai salah satu peluang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, entah itu sebagai produsen, maupun konsumen. Pun dengan negera, keberadaan sektor ini tentu menjadi salah satu sektor yang dapat meminimalisir permasalahan pengangguran. Adanya permasalahan dan keuntungan sektor informal ini seakan menjadi dilema bagi keberadaan sektor informal di negeri ini, oleh karena itu adanya permasalahan tersebut menjadi latar belakang dari makalah ini.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana gamabaran umum sektor informal?
2.      Apa yang menyebabkan sektor informal pedagang kakilima (PKL) berkembang di daerah kota?
3.      Apa yang menjadi permasalahan sektor informal pedagang kaki lima (PKL) di berbagai kota?
4.      Bagaimana solusi terkait permasalahan sektor informal pedagang kaki lima (PKL)?

C.    TUJUAN
1.      Untuk mengetahui gambaran umum sektor informal.
2.      Untuk mengetahui penyebab keberadaan sektor informal khususnya pedagang kaki lima (PKL) di daerah kota.
3.      Untuk mengetahui permasalahan yang ditimbulkan dari sektor informal pedagang kaki lima (PKL) yang berkembang di kota-kota.
4.      Untuk mengetahui solusi dari permasalahan yang ditimbulkan oleh sektor informal khususnya pedagang kaki lima (PKL).

D.    MANFAAT
1.      Dapat menambah wawasan berkenaan dengan sektor informal dan permasalahan bagi kota serta solusinya.
2.      Dapat dijadikan sebagai referensi bagi pengguna.
3.      Dapat dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Gambaran Umum Sektor Informal
1.      Pengertian Sektor Informal
Lahirnya istilah sektor informal adalah hasil penelitian Keith Hart seorang peneliti inggris di Ghana pada tahun 1971, menulis laporannya yang berjudul informal income opporuneties: an urban employment in Ghana. Sejak itu, istilah informal dipakai dimana-mana.  Keith Hart menggambarkan sektor informal sebagai bagian angkatan kerja kota yang berada diluar pasar tenaga terorganisasi. Keberadaan sektor informal tidak terlepas dari proses pembangunan terutama pembangunan dalam mengatasi ketenagakerjaan.
Menurut C. Supartono dan Edi Rusdiyanto, (2000) perdagangan sektor informal dapat diartikan kelompok/ golongan yang usahanya berskala kecil, meliputi pedagang kaki lima, pemulung, usaha industri kecil dan kerajinan rumah tangga.
Pedagang kaki lima (PKL) merupakan bagian dari sektor  informal. Pedagang kaki lima adalah orang dengan modal relatif sedikit berusaha di bidang produksi dan penjualan barangbarang jasa untuk memenuhi kebutuhan kelompok tertentu di dalam masyarakat. Usaha tersebut dilaksanakan pada tempattempat yang dianggap strategis dalam suasana lingkungan yang informal.
Berdasarkan sejarahnya, kata “pedagang kaki lima” tidak terlepas dari masa penjajahan Belanda, saat itu dibuat peraturan bahwa setiap ruas jalan harus menyediakan tempat untuk pejalan kai selebar lima kaki atau sekitar 1,5m. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak pedagang yang menggunakan tempat ini untuk berjualan, sehingga saat ini masyarakat mengenalnya dengan sebutan pedagang kaki lima (PKL). Selain itu, ada yang menyebutkan pula istilah “pedagang kaki lima” berasal dari pedagang dan gerobaknya, dimana pedagang memiliki dua kaki dan tiga kaki untuk gerobaknya, dan saat ini masyarakat lebih mengenal sebutan PKL tertuju kepada orang-orang yang berjualan di pinggir jalan, taman-taman, dan tempat-tempat ramai lainnya.
2.      Karakteristik Sektor Informal
Sektor informal memiliki karakteristik yang dapat diihat baik dari segi ekonomi, sosial-budaya maupun lingkungan seperti :
a)      Bersandar pada sumber daya lokal
b)      Mudah untuk dimasuki
c)      Jumlah unit usaha yang banyak dalam skala kecil
d)     Kepemilikan individu atau keluarga
e)      Teknologi yang sederhana dan padat tenaga kerja
f)       Tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah
g)      Produktivitas tenaga kerja rendah
h)      Tingkat upah yang reltif lebih rendah dibandingkan sektor formal
i)        Tidak terkena secara langsung oleh Regulasi, dan
j)        Pasarnya bersifat kompetitif.
Selain karakteristik di atas, ada pula jenis-jenis dari sektor informal. Menurut Keith Hart, ada dua macam sektor informal dilihat dari kesempatan memperoleh penghasilan, yaitu:
1)      Sektor Informal yang Sah
a.    Kegiatan-kegiatan primer dan sekunder : pertanian, perkebunan yang berorientasi pasar, kontraktor bangunan, dan lain-lain.
b.    Usaha tersier dengan modal yang relatif besar : perumahan, transportasi, usaha-usaha untuk kepentingan umum, dan lain-lain.
c.    Distribusi kecil-kecilan : pedagang kaki lima, pedagang pasar, pedagang kelontong, pedagang asongan, dan lain-lain.
d.   Transaksi pribadi : pinjam-meminjam, pengemis.
e.    Jasa yang lain : pengamen, penyemir sepatu, tukang cukur, pembuang sampah, dan lain-lain.

2)      Sektor informal tidak Sah
a.       Jasa, kegiatan dan perdagangan gelap pada umumnya: penadah barang-barang curian, lintah darat, perdagangan obat bius, penyelundupan, pelacuran, dan lain-lain.
b.      Transaksi, pencurian kecil (pencopetan), pencurian besar (perampokan bersenjata), pemalsuan uang, perjudian, dan lain-lain.
3.      Perbedaan Sektor Formal dan Sekotr Informal
a)      Sektor Formal
Jenis usaha di sektor formal, adalah jenis usaha yang resmi atau sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, terutama tentang cara pendirian suatu usaha. Karena sifatnya yang resmi tersebut, maka cara memperoleh usahanya biasanya lebih mudah karena usaha di sektor formal dikelola secara profesional dan skala usahanya menengah ke atas. Sifat usaha sektor formal lebih tergantung pada perlindunganp emerintah dalam hal ini kebijakan ekonomi. Hubungan karyawan dengan pemilik usaha bersifat resmi yaitu berdasarkan kontak kerja dari perusahaan yang bersangkutan.
b)      Sektor Informal
Sektor informal merupakan jenis usaha yang bersifat kekeluargaan dan jenis usahanya berskala kecil. Sifat dari usaha sektor informal lebih mandiri jika dibandingkan dengan sektor formal, sehingga tidak terpengaruh adanya serikat kerja dan biasanya cara merekrut kerja disiplin yang masih berhubungan kerabat atau famili. Untuk lebih jelasnya, maka perbedaan antara sektor formal dan informal dapat dilihat pada tabel berikut ini :




NO
KETERANGAN
SEKTOR FORMAL
SEKTOR INFORMAL
1
Modal
Relatif mudah diperoleh
Sukar diperoleh
2
Teknologi
Pada modal
Padat Karya
3
Organisasi
Birokrasi
Menyerupai orang keluarga

4
Kredit
Dari lembaga keuangan resmi
Dari orang keluarga

5
Serikat Kerja
Sangat berperan
Tidak berperan

6
Bantuan Pemerintah
Penting untuk kelangsungan
usaha.
Tidak ada
7
Sifat
Sangat tergantung pada
perlindungan.
Berdikari

8
Persediaan Barang
Jumlah besar, kualitas baik
Jumlah kecil, kualitas
berubahubah
9
Hubungan kerja
Berdasarkan kontrak kerja
Berdasarkan saling percaya

Tabel 2.1 Perbedaan Sektor Informal dan Sektor Formal
Sumber : Suhartini, tahun 2001
B.     Penyebab Berkembangnya Sektor Informal Khususnya Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota-Kota
Pada awalnya keberadaan sektor informal tidak banyak menimbulkan permasalahan. Seiring berjalannya waktu, keberadaan sektor informal ini semakin menjamur, dengan berbagai permasalahannya, apalagi di kota-kota besar. Hal ini tentu tidak terlepas dari berbagai aspek, baik fisik, sosial maupun budaya.
Perbedaan ruang antara desa dan kota mengakibatkan potensi dan fungsi yang berbeda pula. Dari perbedaan ini menyebabkan terjadinya pergerakan, interaksi dan distribusi untuk memenuhi kebutuhan. Menjalankan fungsi dan mengoptimalkan potensi masing-masing wilayah merupakan hal yang semestinya dilakukan. Namun melihat fakta, hal tersebut belum terlaksana dengan baik. Potensi desa di bidang pertanian misalnya, semakin hari lahan pertanian menjadi semakin berkurang akibat adanya alih fungsi lahan dan persaingan lahan, ditambah dengan adanya mekanisasi pertanian yang kenyataannya lebih menguntungkan karena lebih produktif dan efisien, tidak membutuhkan banyak pekerja, hal tersebut lambat laun akan menjadikan para pekerja di sektor pertanian kehilangan matapenchariannya baik laki-laki maupun perempuan.
Akibatnya, para petani beralih pekerjaan, seperti berdagang baik barang maupun jasa. Pekerjaan ini mereka jalani di desa dan ada pula yang berpindah ke kota, maka terjadilah pergerakan orang-orang dari desa ke kota baik menetap maupun sebagai komuter yang tujuannya untuk memenuhi kebutuhan, dalam hal ini yaitu pekerjaan. Proses urbanisasi di Indonesia disebabkan oleh faktor pendorong dan penarik. Faktor-faktor pendorong meliputi antara lain aspek-aspek ; perbandingan jumlah penduduk dengan luas tanah di pedesaan yang pincang, kurangnya lapangan kerja di luar bidang pertanian dan rendahnya pendapatan. Sedangkan faktor-faktor penarik mencakup antara lain aspek ; tarikan kota berupa lapangan kerja, upah yang lebih tinggi, kelengkapan prasarana dan sarana yang bada di kota, dan adanya selingan serta hiburan dalam kehidupan. (Radli Hendro Koetoer, 2001: 122)
Pada kenyataannya pembangunan di kota lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan desa, baik  dari infrastruktur, sarana prasarana, pendidikan, kesehatan, teknologi, informasi dan sebagainya. Artinya, ada ketidak merataan pembangunan di sini. Hal ini menjadikan faktor penarik masyarakat desa untuk pergi ke kota, dengan alasan umum memperbaiki nasib. Sebagian besar orang yang baru datang dari daerah asalnya belum tentu langsung mendapatkan pekerjaan, berarti masih mengganggur ditambah dengan derasnya persaingan sumber daya manusia, mengantarkan mereka pada pekerjaan dengan penghasilan yang tergolong rendah. Salah satu menanggulangi adalah dengan berusaha sendiri di sektor informal khususnya menjadi pedagang kaki lima. Namun, tidak sedikit diantara mereka yang tidak memiliki keterampilan lebih, pada akhirnya mereka menjadi pengemis, gelandangan, pengamen bahkan menjadi pelaku kriminalitas. Karena persaingan sumber daya manusia pula, keberadaan sektor formal di kota menjadi tidak berpengaruh bagi mereka dan memilih untuk bekerja pada sektor informal di kota. Akibatnya sektor informal di daerah kota semakin bertambah. Sampai dengan Agustus 2008, sektor informal masih mendominasi kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dengan kontribusi sekitar 65,92 persen pekerja laki-laki dan 73,54 persen pekerja perempuan (Sumber :SAKEMAS).
Hukum merupakan pengendali masyarakat. Keberadaan hukum yang jelas namun tidak tegas dalam aplikasinya akan menjadikan permasalahan semakin bertambah dan permasalahan yang ada tidak akan tuntas dengan baik, termasuk dalam hal keberadaan sektor informal pedagang kaki lima. Contohnya saja di Kota Bandung, diadakan penertiban besar-besaran PKL, saat Kota Bandung bersiap-siap menjadi tuan rumah peringatan KAA ke-50 pada tahun 2005. Dengan adanya Perda No 11/2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan(K3), para PKL di tujuh titik dibersihkan, yakni Jalan Otto Iskandardinata, Kepatihan, Dalem Kaum, Dewi Sartika, kawasan Alun-alun, Jalan Asia Afrika, dan Jalan Merdeka.Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, hingga mencapai miliaran rupiah yang berasal dari APBD Kota Bandung. Memang saat KAA digelar, PKL menghilang, setelah dipindahkan ke sejumlah tempat seperti Pasar Induk Gedebage dan lokasi lainnya. Namun selang beberapa bulan, mereka pun kembali, dan menempati area terlarang PKL tersebut. Kondisi itu pun berlangsung hingga saat ini. Aparat Satpol PP Kota Bandung gencar melakukan operasi penertiban, namun para pedagang tetap kembali berjualan dengan cara kucing-kucingan. Oleh karena itu, keberadaan hukum dan pelaksanaannya sangat mempengaruhi.

C.    Sektor Informal Pedagang Kaki Lima (PKL) Menjadi Permasalahan Bagi Kota
Perkembangan kota secara pesat (rapid urban growth) yang tidak disertai dengan pertumbuhan kesempatan pekerjaan yang memadai mengakibatkan kota-kota menghadapi berbagai ragam problem sosial yang sangat pelik (Alisjahbana, 2003).
Adanya sektor informal sangat berpengaruh bagi perekonomian nasional, bahkan pada saat terjadi krisis moneter, justru sektor informal lebih terlihat lebih menolong dibandingkan dengan sektor formal, adanya sektor informal turut andil dalam meminimalisir pengangguran, bahkan keberadaan sektor informal mempunyai pengaruh dalam menjaga lingkungan dan memanfaatkan sumberdaya dengan baik, seperti para pedagang kaki lima yang dengan ide kreatifnya mereka bisa mengolah limbah menjadi barang yang bernilai lebih kemudian dipasarkan. Namun, disisi lain, muncul permasalahan-permasalahan dari sektor informal, berkaitan dengan pedagang kaki lima (PKL).
Keberadaan pedagan kaki lima banyak dijumpai di pinggir-pinggir jalan, di taman-taman kota, di trotoar, bahkan di jembatan penyebrangan. Alasan mereka berjualan di tempat-tempat tersebut sebagian besar karena posisinya yang strategis untuk berdagsang, banyak masyarakat yang bermunculan di sana. Namun, keberadaan PKL pada lokasi tersebut banyak mengganggu terhadap kenyamanan dan keamanaan. Keberadaan PKL di trotoar misalnya, seharusnya trotoar benar-benar dikhususkan untuk pejalan kaki, namun dengan adanya PKL yang berjualan di trotoar, tidak jarang membuat pejalan kaki pada akhirnya tidak berjalan di trotoar, dan hal ini dapat mengundang kecelakaan lalu lintas.

 Gambar 2.1 Disfungsi Trotoar
                                         Sumber : http://retnodamayanthi.wordpress.com

Gambar 2.2 Kemacetan Akibat Tidak Tertibya Pedagang Kaki Lima
Sumber : Metro Viva News oleh : (Antara/ M Agung Rajasa)

Permasalahan lalu lintas lainnya adalah kemacetan. Tidak jarang pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan menyebabkan kemacetan, saat digelar pasar mingguan misalnya, di tempat-tempat tertentu yang loksinya dekat dengan jalan raya, akan menyebabkan kemacetan yang diakibatkan banyaknya pedagang yang mengambil lapak sampai ke pinggir-pinggir jalan, sehingga badan jalan menyempit ditambah dengan banyaknya konsumen yang berkerumun dan kemacetan diperparah dengan keberadaan angkot yang menunggu penumpang atau ngetem. Misalya saja keberadaan PKL di Gasibu Kota Bandung, pasar mingguan ini kini sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kesemerawutan kota. Setiap hari minggu keberadaan PKL ini sudah mulai meresahkan pengguna jalan, kemacetan sudah tidak dapat dihindari, kemacetannya bisa mencapai Jalan Layang Pasupati.
Selain itu, permasalahan PKL salah satunya adalah adanya kegiatan PKL di area bantaran sungai. Hal ini berkaitan pula denga kebersihan lingkungan, tidak jarang pembuangan limbah (padat/ cair) langsung dialirkan ke sungai dan mengganggu ekosistem sungai. Ketika kegiatan PKL di area bantaran ini mendapatkan perhatian yang besar oleh masyarakat dengan tingkat kunjungan yang relatif tinggi, maka lambat laun lahan yang biasanya digunakan untuk berdagang saja akan berubah menjadi lingkungan permukiman. Hal ini menjadi salah satu faktor timbulnya permukiman dengan kategori “squatter settlements”. Dengan demikian kegiatan ini telah serta merta menghambat tujuan perkembangan kota yang lebih berkelanjutan (dari aspek lingkungan) dan penciptaan citra kota yang lebih baik.
Keberadaan PKL ini terus bertambah, pemerintah seringkali kewalahan dalam mengatasi penertiban PKL karena kompleksitasnya sangat tinggi. Di kota Bandung misalnya, tidak sedikit para PKL bersal dari luar Kota Bandung, sebagai kota terbuka maka tidak ada alasan bagi pemerintah Kota Bandung untuk menolak warga provinsi atau kota/kabupaten lain untuk beraktivitas di Kota Bandung. Penanganan dengan syarat harus memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Kota Bandung pun tidak efektif karena di lapangan ternyata sebagian dari mereka bisa memiliki KTP Kota Bandung (Kompas, 21/10/2011). Kurangnya kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat menyebabkan keberadaan PKL sulit untuk ditangani.

D.    Solusi Bagi Permasalahan Sektor Informal Pedagang Kaki Lima (PKL)
Adanya permasalahan tersebut, hendaknya ada kerjasama baik dari masyarakat setempat, PKL, maupun pemerintah dalam menangani dan mencari solusi yang terbaik, keberadaan pedagang kaki lima (PKL). PKL yang penempatannya tidak sesuai, mereka tidak harus diusir, ganti rugi bahkan digusur paksa untuk tidak menempati tempat tersebut, penggusuran dan ganti rugi tidak akan efektif, PKL bisa pindah ke tempat lain yang pada akhirnya sama saja mengurangi kenyamanan di tempat lain. Ada cara lain yang lebih baik daripada haru mengusir paksa para PKL seperti merelokasi ke tempat yang disediakan khusus untuk PKL, namun tetap memperhatikan kestrategisan tempat tersebut tanpa mengganggu kenyamanan. Mislnya seperti keberadaan PKL di kawasan Jalan Malioboro, Yogyakarta, telah menjadi bukti keberhasilan penataan PKL, adanya penataan ini justru menjadi daya tarik tersendiri sehingga menjadi daya tarik wisata Kota Yogyakarta. Maka, tata ruang untuk para PKL harus lebih diperhatikan, sehingga dengan adanya lokasi khusus PKL justru akan semakin menambah daya tarik dari kota tersebut.
Tidak hanya relokasi dan penataan ruang untuk para PKL, adanya pendidikan, pelatihan dan pemberdayaan masyarakat sehingga menjadikan masyarakat lebih kreatif dan produktif sangat dibutuhkan, seperti pelatihan skill masyarakat, ide kreatif yang dilatih yang ditanamkan dan dikembangkan masyarakat menjadi aset bagi daerah dan menjadi bagian dari nilai jual,  adanya industri-industri kreatif misalnya, dengan adanya bekal pendidikan dan pelatihan, masyarakat akan lebih mandiri serta percaya diri dan tentunya sebagai bekal pula dalam menghadapi persaingan saat ini dan masa yang akan datang, dalam hal ini pendidikan akan melatih mental masyarakat menjadi lebih baik dan diharapkan adanya pendidikan akan mengurangi kemiskinan, baik kemiskinan absolut maupun kemiskinan struktural yang cukup sulit untuk diatasi apalagi bila dilihat dalam skala nasional. Dengan pendidikan, pelatihan dan pemberdayaan masyarakat pada akhirnya akan banyak menguntungkan daerah.
Keberadaan sektor informal ini akan lebih tertib bila didukung dengan kebijakan pemerintah, perlu adanya payung hukum yang tegas dan jelas bagi keberadaan sektor informal.  Surabaya misalnya, Surabaya merupakan kota pertama yang memiliki peraturan daerah tentang pemberdayaan PKL, selain keberadaan sektor informal yang dapat mengurangi angka pengangguran, mereka menyadari bahwa keberadaan sektor informal ini sangat berperan bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat kota seperti penyediaan kebutuhan dengan harga yang relatif terjangkau, sehingga keberadaan PKL ini menjadikan simbiosis yang mutualisme. Namun, peraturan yang ada seringkali di abaikan, hal ini menujukkan minimnya upaya untuk menciptakan kondisi yang teratur dan patuh terhadap regulasi/ kebijakan pemanfaatan ruang yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dan kerjasama yang harmonis antara pemerintah, pedagang kaki lima dan masyarakat sehingga peraturan yang ada akan berjalan sebagaimana mestinya.
Selain itu, permasalahan sektor informal yang tidak terlepas dari adanya urbanisasi ini yang dipicu oleh faktor pendorong dari desa diantaranya yaitu kemiskinan dan semakin berkurangnya sumberdaya alam yang menjadi identitas desa, hal ini dapat diatasi diantaranya dengan memperbaiki pendidikan di desa yang berbasis pada potensi desa, desa pertanian misalnya, pendidikan yang ditanamkan hendaknya berbasis pertanian pula seperti SMK Pertanian, pelatihan-pelatihan dan sebagainya, apalagi didukung dengan pendidikan yang dapat membangun mental dan kreatifitas serta fasilitas industri yang tepat guna, yang menjadikan hasil dari pertnian tersebut bernilai lebih, dan pada akhirnya akan berdampak pula bagi perbaikan ekonomi masyarakat perdesaan, sehingga dengan upaya ini diharapkan dapat menekan angka urbanisasi sekaligus sebagai upaya utuk memajukan pembangunan desa.





BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Aktifitas-aktifitas informal merupakan cara melakukan sesuatu yang ditandai dengan: Mudah untuk dimasuki; Bersandar pada sumber daya lokal; Usaha milik sendiri; Operasinya dalam skala kecil; Padat karya dan teknologinya bersifat adaptif; Keterampilan dapat diperoleh diluar sistem sekolah formal; dan Tidak terkena secara langsung oleh Regulasi dan pasarnya bersifat kompetitif.
2.      Keidakmerataan pembangunan yang ada di desa dengan yang ada di kota, dimana pembangunan kota lebih kompleks dari desa menjadikan timbulnya urbanisasi. Adanya urbanisasi tanapa diimbangi dengan lapangan kerja di bidang industri, maka kesempatan kerja timbul lewat cara-cara informal, seperti munculnya pedagang kaki lima (PKL).
3.      Keberadaan pedagang kaki lima akhir-akhir ini memberikan kesan terhadap kesemaruwatan kota, artinya muncul permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan dari keberadaan PKL di kota-kota seperti keberadaan PKL yang tidak tertib, mengganggu kenyamanan, banyak meninggalkan sampah, menjadi salah satu permasalahan lalu lintas di perkotaan, dan mencerminkan tata ruang kota yang kurang baik. Namun, keberadaan sektor informal ini memberikan pula sumbangan yang positif, terbukti saat krisis moneter melanda Indonesia, sektor informal justru memperlihatkan keeksisannya, selain itu, sektor informal mampu meminimalisir permasalahan ketenagakerjaan atau pengangguran di negeri ini.
4.      Pengentasan permasalahan PKL ini tentu tidak dengan mengusir bahkan menghapuskan keberadaan PKL, namun perlu adanya peraturan-peraturan yang tegas dan jelas terhadap keberadaan PKL. Selain itu, penataan ruang khusus untuk PKL harus di perhatikan, karena dengan pentaan ruang yang baik justru akan berdampak positif bai kota. Dari solusi di atas, ada pula solusi yang berkaitan dengan pendidikan, tentu peran pendidikan sangat penting terutama dalam memberantas kemiskinan struktural dan bsolut di negeri ini.

B.     SARAN
1.      Permasalahan yang ditimbulkan oleh sektor informal pedagang kaki lima (PKL) akan lebih mudah untuk diatasi apabila ada kerjasama yang baik antara Pemerintah, pedagang kaki lima dan masyarakat sekitar, termasuk dalam pembuatan kebijakan atau peraturan terkait keberadaan PKL. Karena jika sudah terdapat kesepakatan bersama, adanya peraturan akan lebih mudah untuk ditegakkan, selain itu perlu adanya pengawasan dan penegakkan peraturan yang ketat dan berkelanjutan. Sehingga diharapkan akan meminimalisir permasalahan-permasalahan yang ada.
2.      Adanya pendidikan dan pelatihan sangat penting, seperti keterampilan, kreatifitas, termasuk dalam memahami potensi ruang yang harus dioptimalkan, baik di desa maupun di kota, yang akan berdampak pula pada pembangunan baik di desa maupun di kota dan diharapkan dengan berbekal ilmu pengetahuan, dapat megurangi permasalahan yang ada, bahkan kelemahan yang ada dapat diubah menjadi sebuah kekuatan.




DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Aceng. 2011. Menata PKL di Kota Bandung. Bandung : Pikiran Rakyat.

Daldjoeni, N.1998. Geografi Desa dan Kota. Bandung : P.T Alumni

Maryani, Enok. Waluya, Bagja. 2008. Handout Mata Kuliah Geografi Desa-kota. Bandung : Tidak Diterbitkan

Methuen, Co. Ltd. Geografi Negara Berkembang. Semarang : IKIP Semarang Press.

Den, 2013. Tuntaskan Penataan PKL Kota Bandung. [Online] Tersedia : http://www.inilahkoran.com/read/detail/2051969/tuntaskan-penataan-pkl-kota-bandung. 03 Januari 2014.

Aksyar, Muhammad. 2001. Pengaruh Sektor Informal Terhadap Kebutuhan Ruang Di Perkotaan. [Online] Tersedia : http://anca45.blogspot.com/2011/12/pengaruh-sektor-informal-terhadap.html 07 Januari 2014.

Lia, Visca. 2011. Permasalahan Sektor Informal (PKL) dalam Konteks Penataan Kota di Surabaya. [Online] Tersedia : http://vizcaplano.blogspot.com/2011/01/permasalahan-sektor-informal-pkl-dalam.html  07 Januari 2014.


 

Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...