Minggu, 28 Desember 2014

untitle

Desember 28, 2014 0 Comments
Maybe some people will think that ever met was a mistake, although only met on writing..

Kamu tidak salah mendefinisi, saat kamu pikir ini ujian, dan aku tahu ini adalah sebuah kesalahan..

and.. Finally we know, we just met in the middle of impossibility..

Senin, 08 Desember 2014

Zenith dan Nadir

Desember 08, 2014 0 Comments
Tentang zenith dan nadir. Dua sisi berbeda yang akan selalu berjalan beriringan dan dalam kehidupan ia akan mempertanyakan bagaimana belajar bersyukur dan bersikap. Seringkali kita hanya memandang kesempurnaan pada titik zenith, sedang pada titik nadir kita banyak mengutuk. tidakkah kita mau mensyukuri keduanya? kedua sisi kehidupan yang dengannya kita memahami apa itu lengkap. Keduanya adalah kesempurnaan ciptaanNya..

Kamis, 04 Desember 2014

Karena Dunia Penuh dengan Kemungkinan

Desember 04, 2014 0 Comments
Berangkat dari pertanyaan yang terselip hikmah (bagi saya) akhir-akhir ini. Adalah pertanyaan "Salah siapa?". Pertanyaan yang (bagi saya) tidak membangun. pertanyaan yang (setidaknya) menyakitkan untuk dijawab. Karena jika kita adalah subjek yang termasuk didalamnya, mau tidak mau akan ikut terlibat menjadi tersangka. Sekalipun merasa tidak bersalah, secerdas apapun membela diri (karena membela diri di dunia yang terlalu mendahulukan ego, memang sedikit sulit). Ini hanya argumen saja, bukan pembelaan bagi setiap pelaku kesalahan, bukan mengalah bagi setiap pelaku kebenaran. karena dunia ini penuh dengan kemungkinan, termasuk ketika berbicara tentang permasalahan, maka, permasalahan bisa terjadi mungkin karena semua subjek di dalamnya benar atau semua subjek di dalamnya salah. karena permasalahan mungkin terlalu menghakimi jika hanya berakhir dengan kesimpulan dia si A yang benar dan dia si B yang salah. tanpa solusi, tanpa introspeksi dan tanpa mau saling memaafkan. Ah, dunia.. kadang makhluk terlalu mendahulukan kehendaknya, sehingga lupa bahwa ia dapat membawa sejuk ditengah gersang, oleh dirinya, tentu dengan izinNya yang maha membolakbalikan hati.

wallahu'alam bisshowab..

Minggu, 23 November 2014

untitle

November 23, 2014 0 Comments
Still like that. Because, may be it's a way to help me. Still like that, until an unspecified time. Because I don't know what will happen. Because i can't do anything. I know, you know about the war. As in defense. every kingdom will have a castle that should not be destroyed, because when the castle was destroyed, there will be wars and destruction thereafter. While, still like that, I don't know anything, because we walk with God's will. 

Selasa, 28 Oktober 2014

Sumpah Pemuda

Oktober 28, 2014 0 Comments
Banyak pemuda yang mempertanyakan kemajuan bangsanya, padahal kemajuan bangsa ada di tangan pemudanya. -Anonim-
*mikirkeras*

Sebuah hal yang tidak salah untuk dipertahankan, adalah idealisme para pemuda, terlepas apakah ia tua atau muda. karena semangat pemuda tak selalu bergantung pada raga seorang pemuda. ah, saya ga ngerti saya ngoceh apa :v tapi yang jelas, semangat para pemuda tidak boleh luntur di raga yang masih berjiwa. pada akhirnya saya ucapkan selamat hari sumpah pemuda. semoga selalu bersemangat lillaahita'aala. aamiin :D  *Apdet dulu, biar rada mainstream*

28 Oktober 2014

Rabu, 22 Oktober 2014

Tentang Malas

Oktober 22, 2014 0 Comments
Tentang sadar dan sehatnya jiwa. tentang malas dan sakit jiwa. ada orang yang bilang kalau sadar bagian dari sehatnya jiwa, mugkin sama, malas adalah bagian dari sakit jiwa. lalu, disebut apa seseorang yang sedang malas sadar bahwa ia sedang malas?


pada akhirnya, malas adalah makhluk jahat yang tidak kita sebut jahat, meski nyatanya membunuh perlahan..

Jumat, 01 Agustus 2014

Jum'at di Sini :)

Agustus 01, 2014 0 Comments
Juma'at berkah..
langit biru, indah, dan saya bisa menatapnya dibalik jendela, disini, pun di tempat yang menjadikan saya bukan tamu lagi di sana. Meski berada dalam dekapan atmosfer yang sama, Di sini, di tempat ini, ada lantunan adzan yang membuat saya tak dapat menyamakannya dengan tampat-tempat lain.lantunan yang selalu terdengar merdu, tak peduli meski hanya dan hanya saya yang merasakan itu. Ah, bapak, ini anakmu, meyayangimu, semoga bapak disayang Allah :').Tanah kelahiran, saksi bisu, yang membuat saya tak bisa menghindari kata rindu, ah, terlalu klasik, tapi inilah pengingat yang ampuh sekalipun ingatan mulai merapuh. selamat datang agustus, jum'at berkah, semoga hari ini lebih baik :)

Selasa, 22 Juli 2014

(KKN) Kuliah Kerja Nyantri

Juli 22, 2014 0 Comments
Kamu tahu kobong? Ya, dia adalah sebuah ruangan semacam asrama para santri yang tinggal di pesantren. Kenapa saya bertanya kobong? karena tempat inilah yang kami akan huni 40 hari ke depan. Wooow, subhanallah ya J.
Hari pertama kami menginjakkan kaki di Bumi Nusawangi, Tasikmalaya dengan perjalanan kurang lebih empat jam dari Bandung. Jalannya berkelok-kelok, kondisi jalan desa yang kurang bagus menjadikan perjalanan seperti jauh, seperti naik odong-odong *plak*. Namun, hal tersebut terbayarkan sudah dengan pemandangan Desa Nusawangi yang luar biasa indah, damai, dan mentramkan *ciyee..
Mobil masuk menuju gerbang pondok pesantren, serasa kami anak-anak yang akan diasramakan di sana, memasang wajah lugu, imut, manis dan polos *preet. Kami mulai menurunkan barang-barang menuju kamar, dan itu banyak sekali bung, sampai keringat bercucuran *lebay*. Di pondok, kamar kami dipisah, ikhwan di depan, akhwat di asrama putri, di belakang. Kebetulan pesantren ini belum ditinggali santri lagi, jadi semua kamar yang ada di sana kosong melompong. Ada banyak kamar, kamar putra sebelahnya dipakai untuk menyimpan motor, sedangkan kamar putri yang kosong sebagian dijadikan dapur umum.  
Kesan pertama bertemu dengan penduduk di sana adalah keramahtamahannya. Kami disambut hangat oleh  ibu dan bapak haji pemilik pesantren, berkenalan, berbagi cerita dan perbincangan diakhiri dengan ibu haji yang mempersilakan kami untuk makan, woooow botram men!, kami yang sedang laparnya-laparnya seketika itu mulai menyantap hidangan yang telah tersedia. Ooh ikan, nampaknya saya harus menghipnotis diri dan mengingat bagaimana cara menikmati ikan yang baik dan benar *lebay*.
Siang hari kami beristirahat, dan malamnya kami merapat menyusun rencana untuk esok hari. Tibalah di hari pertama pergerakan kami dengan bersilaturahim dengan bapak kepala desa beserta stafnya. Namun, saat itu bapak kades tidak sedang di tempat, jadilah kami berbincang dengan bapak sekertaris desa, Bapak Iyan namanya, perbincangan kami tidak lepas dari penyampaian program-program yang memungkinkan untuk di laksanakan di Desa Nusawangi.
Sepulang dari kantor desa, kami segera merapihkan apa yang harus dirapihkan di posko, laki-laki memasang antena dan sebagian dari kami selfi-selfi di sawah. Dan guys, pemasangan antena belum membuahkan hasil, sinyalnya luar biasa menguji kesabaran, alhasil hari itu kami hanya bisa memandangi televisi layar biru bertuliskan “no signal” :D. Keesokan harinya kami berinisiatif untuk membeli buster, setelah dipasang, tetap saja seperti semula, tidak ada sinyal, satu jalan yang rada ampuh yaitu antena harus disimpan di ketinggian, dengan kegigihan, keuletan, manjat-manjat dan keringat bercucuran –demi sinyal- akhirnya kami bisa menikmati cuplikan sinetron kekinian *etdah -_-.
Hari-hari pertama kami lewati dengan sempurna, rasa nano-nano, mulai beradaptasi, belajar mengenal, memahami dan belajar bagaimana caranya agar selama KKN bisa berjalan dengan nyaman. Minggu awal, kami disibukkan dengan kegiatan perkenalan dengan warga, salah satu cara efektif adalah dengan mengikuti pengajian-pengajian di setiap kampung. Dan guys, luar biasanya, setiap kampung terdapat mesjid dan di desa tersebut terdapat empat pesantren, *backsound kota santri*. Sungguh, atmosfer desa yang religius, betapa banyak yang harus kami pelajari dari tempat ini.
Nah, itu dia, cerita awal kami berada di Desa Nusawangi, minggu adaptasi di Kuliah Kerja Nyantri :D

***

Senin, 21 Juli 2014

A Journey #KKN (21062014)

Juli 21, 2014 0 Comments
Pagi buta hari ini harus membangunkan kami  lebih pagi dari biasanya. Jam 05.00 kami harus berkumpul di lokasi penjeputan. Semua barang di lokasi 1 mulai dinaikkan ke dalam mobil ELF alias elep, semua sudah siap, si aye yang dropping barang tidak semuanya di H-1 menjadi kelabakan, alhasil sebelum ayam berkokok –karena memang tidak ada ayam- saya menyelinap membawa barang-barang yang bejibun ke lokasi drop barang di gerlong (kosan kang iman tepatnya) tanpa sepengetahuan teman2 KKN lain, dan kembali ke kosan, karena si kasur masih di sana. Dreeet..dreeet *bunyi my henpon*, ada sms dari riska, sebuah intruksi harus segera merapat, saya mulai riweuh dan meminta tenaga pria-pria untuk mengangkut kasur, lewat sms ceritanya, dan sial, tidak ada satu pun yang menjawab, lanjut saya telpon ketua geng dan akhirnya kasur itu dapat mendarat dengan kece di dalam elep.
Perjalanan sedikit ngaret, jam 06.30 kami baru meluncur dari gerlong, padahal target jam 05.30 sudah menuju lokasi 2 dropping barang. Perjalanan cukup panjang *gerlong-sersan surip* :D, sampai di sana samar-samar kami menemukan 2 wanita yang dikelilingi barang-barang, seperti kedinginan, mungkin mereka sedang menunggu jemputan travel, mau mudik *bergumam dalam hati* dan *plak* ternyata mereka teman KKN kami, haha, karena sebelumnya saya tidak tahu lokasi 2 dropping barang. Kami ikut turun, membantu menaikkan amunisi-amunisi yang menunjang kehidupan kami selama KKN nanti.

Setelah berpamitan dengan Anna –kebetulan Anna berangkat bareng Hary naik motor- kami melanjutkan perjalanan dengan riang gembira, sarah berposisi nyaman dengan bantal leher minionnya, arini, riska, sulastri dengan pose biasa, kang iman dan stef yang pedekate dengan supir, dan aye yang dengan noraknya berguru ngotakngatik SLR ke fajri karena kebetulan kami tim PDD selama KKN. Kami semua menikmati perjalanan, ditemani lagu dangdut yang meneriaki gendang telinga, mungkin kami masih jaim, sehingga tak satu pun dari kami berjoget dan sepertinya tidur lebih menarik kala itu, pun saya, menempelkan bantal pada jendela, bobo ganteng. :D

Kesebelasan itu adalaaaaaaah...

Juli 21, 2014 0 Comments
Mungkin sedikit banyak ini tulisan penuh dengan cerita kami saat berpetualang menjalankan misi di Desa Nusawangi.  Kami bersebelas adalah mahasiswa yang tersebar dari berbagai penjuru kota, dari mulai Riau sampai Nusa Tenggara Timur. Kesebelasan ini diantaranya adalaaaaaaaaaaaaaaaah...

Nama           : Iman Praja F.
Jurusan       : Teknik Mesin
Panggilan      : akang / Babeh
Jabatan       : Ketua Geng

Nama           : Thufeil M. Ghozi
Jurusan       : Teknik Elektro
Panggilan      : Gogo
Jabatan       : Wakil Ketua, Divisi Kewirausahaan

Nama           : Rizca Praztica S.
Jurusan       : Pend. IPS
Panggilan      : Riska
Jabatan       : Sekertaris, Divisi Lingkungan Hidup

Nama           :  Sulastri Mugiutami
Jurusan       : Akuntansi
Panggilan      : Lastri, Tri / Bude
Jabatan       : Bendahara (Ibu Subsidi), Divisi Keagamaan

Nama           : Anna Aristiani
Jurusan       : Pend. Seni Tari
Panggilan      : Ana/ Mamah, Mak
Jabatan       : Humas, Divisi Kesehatan

Nama           : Arini Ulfia Septiani
Jurusan       : Sastra Inggris
Panggilan      : Ayyiiin / Eteh
Jabatan       : Sie. Konsumsi, Divisi Kesehatan

Nama           : Annisa Mutmainnah
Jurusan       : Pend. Geografi
Panggilan      : Anis / Ummi
Jabatan       : Sie. PubDok, Divisi Keagamaan

Nama           : Sarah Indah Apriliyanti
Jurusan       : Pend. Kewarganegaraan
PanggilaN     : Sarah / Ibu
Jabatan       : Divisi Kewirausahaan

Nama           : Hary Gustiana
Jurusan       : Pend. Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
Panggilan      : Hari / Ibi
Jabatan       : Divisi Lingkungan Hidup

Nama           : Fajri
Jurusan       : Perpustakaan dan Informasi
Panggilan      : Eneng
Jabatan       : Sie. PubDok, Divisi Pendidikan

Nama           : Stefanus Aleut
Jurusan       : PGSD
Panggilan      : Step / Uwa Jauh
Jabatan       : Divisi Pendidikan

          Nah , nama-nama inilah yang  akan menjadi pelangi yang mewarnai Desa Nusawangi menjadi leeeebih  berwarna. *preeet
Oke guys, kami tidak saling kenal, bahkan menyapapun tidak pernah, dan sialnya Sistem pendaftaran KKN Online menjaring kami, membuat kami saling bertemu, bekerja dalam satu tim dan mengubah status orang lain menjadi keluarga baru bagi kami.  *oooooo  :D

***

Minggu, 20 Juli 2014

KKN Tematik POSDAYA

Juli 20, 2014 0 Comments

Itu.. dia KKN, Kuliah Kerja Nyata yang mempertemukan kami ke11an mahasiswa untuk bekerjasama melaksanakan amanah Tri Dharma perguruan tinggi yang salahsatunya adalah “Pengabdian Pada Masyarakat” *Subhanallah ya guys? :D . lewat KKN inilah mahasiswa diuji sejauh mana teori yang didapat di bangku kuliah dapat diaplikasikan di kehidupan nyata, ya, di masyarakat. Ya kalau dipikir-pikir idealnya adanya KKN ini akan membentuk sebuah simbiosis, tepatnya simbiosis mutualisme, antara mahasiswa dan masyarakat, keduanya butuh pemberdayaan, yang kata Panduan bilang “agar mampu mengakselerasi laju peningkatan sumber daya manusia dalam proses belajar membelajarkan  mahasiswa dan masyarakat” ah, tujuan yang sangat kece.. *nangis darah.
Nah, tema KKN kami adalah POSDAYA. Naon sih tematik POSDAYA? Yang belum tahu, yo ah lanjut..
Kuliah Kerja Nyata Tematik adalah bagian integral dari proses pendidikan yang mempunyai ciri-ciri khusus. Dimana sistem penyelenggaraannya memerlukan landasan idiil yang secara filosifis akan memberikan gambaran serta pengertian yang utuh tentang “apa, bagaimana, serta untuk apa Kuliah Kerja Nyata Tematik  itu diselenggarakan ?” dan salah satu Tema yang dikembangkan oleh Tim Pelaksana KKN Tematik Universitas Pendidikan Indonesia adalah Pos Perberdayaan Keluarga (POSDAYA). (UPI, LPPM 2014). Itu dia sekilas penjelasan dari KKN tematik POSDAYA yang membawa kami bersebelas untuk berpetualang di sebuah Desa Bernama Nusawangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Indonesia J

***

Selasa, 27 Mei 2014

Ini Tentang Ujian Nasional

Mei 27, 2014 0 Comments
Ujian Nasional dengan segala permasalahannya seakan menjadi objek penambah suram wajah pendidikan Indonesia. Kecemasan masal terjadi setiap tahunnya, tidak hanya peserta didik sebagai subjeknya tetapi juga semua pihak ikut terlibat. Tidak jarang demi UN semua cara dilakukan, termasuk mencontek bagi peserta didik dan diperparah dengan pencurian soal sebagai bentuk persekongkolan antara guru dan kepala sekolah demi mensukseskan UN. Miris memang, dengan adanya UN justru menampakkan adanya disorientasi pendidikan.
Keberadaan UN memang menjadi hal yang praktis dan cepat untuk mengetahui fluktuasi kualitas pendidikan nasioanal. Namun, melihat permasalahan yang terjadi di lapangan, sekalipun tingkat kualitas pendidikan naik, akan berkesan seperti pembohongan publik. Keberadaan UN yang hanya menguji tingkat kognitif peserta didikpun menjadi bertolak belakang dengan keberadaan kurikulum 2013 yang serentak akan diterapkan pada tahun 2015 mendatang, keberadaan UN tidak sinkron dengan evaluasi pembelajaran pada kurikulum 2013. Ini akan menambah kebingungan publik nantinya.
Jika dilihat dari aspek penilaian terhadap peserta didik, rasanya lebih setuju jika evaluasi yang dilaksanakan berupa sebuah karya atau proyek baik secara individu maupun kelompok dengan standarisasi tertentu, dan tentunya disesuaikan dengan karakteristik kualitas pendidikan yang berbeda di setiap wilayahnya. Dengan  adanya karya tersebut aspek penilaian tidak hanya dari segi kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotornya akan terlihat. Selain itu tingkat kreatifitas anak bangsa akan terasah lewat karya tersebut. Memang evaluasi dengan bentuk seperti ini bukan hal yang mudah dan praktis, namun bukan tidak mungkin dengan cara ini akan meminimalisir tingakat kecurangan, kecemasan dan permasalahan lainnya seperti yang terjadi pada penerapan UN akhir-akhir ini. Dan yang terpenting dari keseluruhan bentuk evaluasi pendidikan nasional adalah adanya keharmonisan antara kebijakan pemerintah, masyarakat, sekolah dan peserta didik. Sehingga adanya evaluasi tidak menjadi hal yang harus ditakuti, tetapi justru menjadikan motivasi untuk dapat memperbaiki kualitas pendidikan negeri. Karena kualitas suatu peradaban, akan tercermin pula dari kualitas pendidikannya.

Pendidikan untuk peradaban!

Selasa, 13 Mei 2014

Karena Hidup itu Belajar

Mei 13, 2014 0 Comments
Harapan itu masih ada, tetap tenang dan yakin pada-Nya.
Ia maha Besar, masalahmu jauh lebih kerdil.
Hanya dengan bergantung pada-Nya, maka kamu tidak akan kecewa.
Setiap kejadian adalah disengaja, disengaja adanya oleh sang Pencipta, sebagai bukti kasih sayang-Nya.
Maka, berhenti bertanya "mengapa amanah ini ada di pundak saya?".
Karena waktu berjalan takan menunggu ketika kamu terjatuh.
Cukup dan hanya cukup berharap pada-Nya. Ia  dan ribuan malaikat menyaksikan.
Melangkah ikhlas karena-Nya, sulit? sakit? lelah? memang selalu ada, jika tidak begitu, mungkin nabi Muhammad dulu sudah menyerah ketika dilempari kotoran dicaci dan dihina, mungkin nabi Ibrahim tidak akan berani menyembelih demi kenyamanan bersama putranya. Namun, Allah maha adil, tidak membebani makhluk diluar kemampuannya, hingga menyadarkan bahwa masing-masing dari kita akan belajar, belajar memaknai, belajar bahwa hidup itu berpikir, belajar bahwa menjaga izzah itu sungguh berharga, belajar, belajar dan belajar. hingga pada akhirnya kemaslahatan membersamai, tidak hanya untuk diri, tapi ummat, ya ummat..
Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan, setiap kelalaian dan setiap rasa lelah yang terlalu dihayati.
Semoga Allah selalu membimbing untuk selalu istiqomah, memberi kekuatan untuk belajar dan melangkah. Laa haula walaa Quwwata Illaa billaah..


Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad -Al-Hadist-

Jumat, 02 Mei 2014

Refleksi Diri untuk Perbaikan Negeri

Mei 02, 2014 0 Comments

Akhir-akhir ini marak pemberitaan mengenai kasus-kasus degradasi moral seperti tindakan kriminalitas,  pembunuhan yang bahkan tanpa memandang status, seperti anak membunuh ayah, ibu membunuh anak dan sebagainya. Sebuah renungan tentang fenomena akhir zaman yang kian menampakkan cirinya. Hal yang dikhawatirkan adalah ketika fenomena degradasi moral ini menjadi konsumsi masyarakat yang keberadaannya sudah tidak asing, kemudian menjadikan masyarakat bersikap biasa saja, menjadikan pribadi yang tidak peka terhadap fenomanan degradasi moral yang ada disekelilingnya dan berujung pada cerminan wajah bangsa yang suram. Tentu tidak ada suatu bangsapun yang ingin wajahnya dihiasi dengan fenomena seperti ni. Suatu kondisi yang menuntut siapapun untuk memikirkannya.

Penyakit Sosial
Memang sudah seperti mata rantai, mengkoreksi satu aspek akan berpengaruh pada aspek lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena pembunuhuhan dan kriminalits lainnya merupakan permasalahan yang sebagian besar mengkambinghitamkan masalah ekonomi. Masalah ekonomi dirasa masih bisa dikendalikan jika aspek sosial masyarakat tatap terjaga seperti saling membantu, bergotong royong, dan adanya sikap saling peka teradap lingkungan masyarakat, artinya betapa penting nilai keharmonisan di dalam masyarakat. Problematika kehidupan di masyarakat yang ada seperti saat ini tidak akan tampak bila lingkungan masyarakatnya berjalan dengan harmonis. Keharmonisan dalam masyarakat sulit terbentuk jika masyarakatnya tidak tahu apa yang menjadi hak dan kewajiban bermasyarakat, atau bisa jadi dia tahu, namun pura-pura tidak tahu. Ini yang kemudian menjadi bibit penyakit sosial di masyarakat. Pemahaman seseorang tentang hak dan kewajiban tersebut tidak muncul begitu saja, ada proses yang membentuknya diantaranya adalah pendidikan, terlepas dari apakah itu pendidikan formal, informal maupun nonformal.

Cita-cita Pendidikan Nasional
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki cita-cita yang tinggi untuk pendidikan sebagaimana yang terdapat dalam alinea ke empat UUD 1945 yakni “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” selain itu ada pula fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang dituangkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
Namun, pertanyaannya adalah sejauh mana pendidikan dapat memahamkan masyarakat? kemana peran setiap individu yang tugasnya memanusiakan manusia? yang tugasnya menghidupkan yang sudah hidup?. Sudah banyak orang yang terdidik diproduksi oleh negeri, ribuan sarjana lahir setiap tahunnya. Sungguh ironi, jika kita harus melihat bahwa perkembangan kuantitas orang intelek negeri berbanding lurus dengan perkembangan kriminalitas di negeri ini. Ini yang menjadi tugas kita semua saat ini dan untuk masa yang akan datang. Tugas setiap manusia untuk dapat mendidik, menyikapi adanya degradasi moral yang diiringi peningkatan kualitas pendidikan. Dan yang terpenting adalah hasil pendidikan dapat membentuk watak seseorang yang mampu membawa perubahan lebih baik sekalipun dia berada pada lingkungan yang kurang kondusif. Artinya, ada tuntutan berkenaan dengan kecakapan seseorang dalam melaksanakan pendidikan apapun bentuknya, untuk tahu sesuatu, untuk menjemput jalan yang seharusnya ditempuh, untuk tahu bahwa benar dan salah akan selalu menjadi sebuah pilihan, namun sejauh mana seseorang dapat berusaha menggali ilmunya agar menjadikan pemikirannya lebih dewasa yang dapat benar-benar membedakan mana yang baik dan yang buruk serta sesuai dalam pengimplementasiannya.

Refleksi Diri
Pendidikan tidak selalu berkutat dengan sekolah formal, dengan guru atau buku, sesungguhnya masyarakat bisa berbuat lebih dari itu, karena manusia berakal, maka idealnya dia akan berpikir dan merefleksikan hasil pemikirannya lewat tindakan yang ia mampu, lalu tindakan yang seperti apa? tentu tindakan yang membawa perbaikan. Termasuk bergeraknya kita untuk selalu memperbaiki keadaan, karena sejatinya keadaan yang buruk bukan untuk dihindari, namun sejauh mana kita berkontribusi agar keadaan tersebut berjalan sebagaimana mestinya.
Seperti mengutuki diri sendiri ketika yang kita bisa hanya mengutuki keadaan, mengutuki sistem, mengutuki pemerintah, mengutuki para kriminalitas, sementra kita hanya diam menikmati peran sebagai penonton yang menyaksikan kegaduhan negeri. Menonton saja tidak akan menghilangkan masalah dan apa yang dituangkan dalam kata-kata, tidak lebih berarti tanpa tindakan yang mengiringi. Masalah seringkali dan banyak ditemui tetapi yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita berfokus pada solusi bergerak dan memperbaiki.

Selamat hari Pendidikan Nasional, Pendidikan untuk Peradaban..!!

Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...