Tampilkan postingan dengan label Ngobrol Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngobrol Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2019

Ketika si Melankolis Ngisi Raport :P

Mei 17, 2019 0 Comments
Ini masih bagian dari "Homeroom Teacher Duties" yang pernah saya ceritakan waktu itu.. hehe

Jadi, tugas wali kelas itu salah satunya berjibaku dengan setumpuk raport murid nan unyu-unyu yang senantiasa mengelilingi kepala menjelang akhir semester. Dulu, saya tergolong anak yang sangat peduli dengan isi raport *Weeww
Sama catatan wali kelas sih lebih tepatnya, terlebih kalau catatannya agak panjang dikit, karena raport saya kebanyakan catatannya "tingakatkan lagi prestasimu!" paling pendek isinya "idem" yang kala itu gw gak faham idem itu apa, nanya emak juga beliau gak ngerti, dan emak pun tak bertanya pada sang wali kelas :') sampai pada akhirnya google menjawab artinya setelah sekian tahun berlalu dari kepenasaranan itu.. *apasih

Entah kenapa ada kebahagiaan tersendiri aja lihat catatan wali kelas. Meskipun hanya tulisan "idem" gaes.. :') karena saya tahu, wali kelas pasti bekerja keras ketika menulis catatan dengan sangat detile, apalalgi jumlah muridnya tidak sedikit. Tapi inilah tugas wali kelas, harus mengetahui perkembangan murid di kelasnya. Sebanyak apapun, sesibuk apapun, bukankah wali kelas adalah ibu/ayah yang harus tahu perkembangan anak di kelasnya?. ya, ini idealnya.. (terkait bisa ideal atau nggak, ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.. *plakk) nggak deng, guru profesional adalah guru yang mau berusaha untuk menjadi guru yang ideal. (give thanks to all my homeroom teachers)

Pertama kali saya menjadi wali kelas dan harus mengisi catatan wali kelas di raport, saya merasa kok saya lebay ya? *emang
gak seperti catatan waktu saya SD, di sekolah tempat saya mengajar, ada raport khusus, di mana guru bisa dengan leluasa menuangkan mahakarya tulisan dari hasil analisis terhadap muridnya. Sampai saya terharu sendiri setiap menuliskan catatan untuk murid saya satu persatu, bukan karena tulisan saya bagus, bukaan.. *dzziggg
Tapi karena memang perkembagan peserta didik itu luar biasa. Tidak ada anak yang tidak bisa apa-apa, setiap harinya selalu ada saja perekembangan yang dapat mereka tunjukkan, meskipun terkadang sebagai wali kelasnya harus melewati fase drama terlebih dahulu..

ini salah satu catatan saat pertama kali saya diamanahi menjadi wali kelas..

"Alhamdulillah, ananda ****** telah menyelesaikan semester dua dengan amat baik. Ananda adalah anak yang berbakat, ananda sudah bisa menjadi contoh yang baik untuk teman-temannya dalam berinfaq, melaksanakan shalat tahajjud, shalat dhuha, saum, dan shalat berjamaah. Semoga ananda istiqomah melaksanakan perintah Allah SWT dan Rosul-Nya ya. Pertahankan semua prestasi yang ananda dapatkan, ustadzah yakin di semester  yang akan datang, ananda akan terus berkembang menjadi anak yang cerdas dan mendapatkan segudang prestasi. Pesan ustadzah, alangkah lebih baik jika ananda bisa sedikit lebih teliti dan lebih fokus dalam mengikuti proses pembelajaran. Jangan pernah bosan untuk belajar, dan terus berusaha. Jadilah yang terbaik, Doa terbaik ustadzah selalu menyertai ananda." (Ustadzah adalah sebutan bagi guru perempuan di sekolah tempat saya mengajar)

Biasa aja sih sebenernya, kalimat ini umum ditulis di raport murid kami. Cuman karena wali kelasnya melankolis, dan baru pertama kali bikin kek ginian, jadilah saya sedikit terharu dengan kelakuan murid sholehah yang bikin saya bisa nulis sepanjang itu. Padahal entahlah waktu raport dibagikan dia baca atau nggak.. haha sad

Sebenernya pengen nulis dengan bahasa yang nggak umum, macem "Ananda adalah anak yang sangat menjaga perasaan guru dan teman-temannya" (padahal pendiam parah) atau "ananda adalah anak yang aktif, kreatif, dan inovatif" (padahal gak bisa diem dan senang bikin ulah) tapi takut jatohnya gue dusta.. T.T atau kalimat "ananda adalah anak yang menyenangkan, pintar dan cantik seperti Maudy Ayunda" (Tapi pliss, waras nis.. ini raport, bukan lacikata.blogspot.com)

Intinya, menjadi wali kelas adalah sesuatu yang mesti dinikmati, disyukuri, diambil enjoy, biar apa? biar bahagia, biar gak gampang tua, biar nggak banyak ngeluh, bahkan jika harus menulis catatan perkembangan anak yang jumlahnya banyak dengan karakter yang berbeda.. "lho, ambil pusing amat.. copas aja lah, samain semua.." Hmm.. Boleh lah copas, tapi untuk menuju ideal, sebuah tulisan harus terjamin hak ciptanya atau paling nggak melalui proses editing lebih dulu lah.. hehe
Of all the hard jobs around, one of the hardest is being a good teacher. -Maggie Gallagher
Semangaaat teh guru, Kang guru, Bu guru, Pak guru.. 


Selasa, 21 Agustus 2018

Homeroom Teacher Duties #Part 1

Agustus 21, 2018 0 Comments
Dalam mendidik, seorang pendidik secara tidak langsung akan terdidik lewat interaksinya dengan peserta didik
Belum pernah membayangkan sama sekali menjadi seorang wali kelas. Dibenak saya, menjadi wali kelas adalah sesuatu yang ribet. Jangankan mengurus persoalan murid, mengurus persiapan mengajar saja kadang saya keteteran..
Berawal saya bekerja di salah satu sekolah. Tahun pertama saya bekerja adalah tahun yang penuh kejutan, dari mulai amanah pekerjaan yang sama sekali tidak sesuai dengan bidang saya, amanah memegang peran yang menurut saya cukup urgen dalam sebuah kegiatan hingga diminta menggantikan posisi sebagai wali kelas. Well, saya yang polos dan masih meraba-raba kala itu berubah menjadi sosok yang sering banget galaunya. hikss..

Pengalaman menjadi wali kelas adalah sesuatu yang nano-nano rasaya.. Tahun pertama ketika saya diminta untuk menggantikan wali kelas yang sedang cuti melahirkan, rasanya kebingungan, lebaynya sih dag-dig-dug setiap akan masuk ke kelas untuk membimbing anak-anak. Karena pengalaman pertama, jadilah saya sesosok yang rajin membaca, demi membuat suasana kelas gak garing-garing amat lewat cerita-cerita yang saya dapat sampaikan. Satu satunya yang jadi penawar galau kala itu adalah "gak akan lama lagi menjabat sebagai wali kelas". Meskipun kalau dilihat dari muridnya sih baik-baik saja, hanya saya saja yang belum bisa menerima harus mengemban amanah tersebut.

Beberapa bulan berlalu, akhirnya kenaikan kelas tiba, Inilah yang saya tunggu-tunggu, bebas dari gelar wali kelas..
Pembagian tugas awal tahun pun dimulai, dan taraaaaaaaa, saya diamanahi menjadi wali kelas lagi gaeees, betapa melengo-nya saya kala itu. Apalah daya tidak bisa menolak, akhirnya saya menjalani dengan sedikit bingung juga, karena ini betul-betul memegang kelas sendiri, bukan menggantikan, dimana tanggung jawab sama sekali tidak bisa dibagi.

Tibalah saya bertemu dengan 26 orang anak yang baru lulus Sekolah Dasar, berwajah lugu dan seketika dikening mereka seperti ada tuisan "mau dibagaimanakan setahun ke depan?" oh my God.. Saya yang senang kebebasan menjadi  sering bermonolog dan memikirkan orang lain.. ah, ini bukan saya sama sekali, kala itu..
Antara butuh mengeluh dan harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk belajar menjadi sebenar-benarnya pendidik. Berbagai macam pertanyaan ada di benak saya, termasuk pertanyaan "Bagaimana cara mencintai dan dicintai?" susah memang, kalau wali kelasnya melakolis kaya gini. hehe

Hari demi hari kami lalui, karakter demi karakter mulai bermunculan, saling menunjukkan sifat asli masing-masing ada yang cuek, periang, penyabar, senang teriak-teriak, pendiam, baik hati, centil, dewasa, dan lain lain, dari kelas yang awalnya senyap, berubah menjadi kelas yang riang bergemuruh. Hari-hari saya dipenuhi dengan curhatan anak-anak perempuan, masalah sahabat, teman sebangku, teman se-genk, soal hafalan Al-Quran, soal tontonan favorit, keluarga, hingga curhat soal laki-laki..

Awalnya memang ribet, tapi lama-kelamaan saya menikmati kebersamaan dengan mereka, belajar mendalami setiap peran ketika menghadapi mereka, menjadi sosok ibu yang berusaha mendidik dan menyelesaikan masalah mereka, menjadi sosok kakak yang berusaha menjadi teladan mereka, hingga menjadi teman bercanda dan setia mendengarkan curhatan mereka.

Suka duka kami lewati, saling mengenal, saling menyapa, saling menasehati, saling berbagi, sering memberi kejutan dengan tiba-tiba mereka bilang "bu, i love you" atau kalau habis liburan mereka bilang "bu, kangen aku nggak?". Ah, kalian memang lovable..

Pada akhirnya saya belajar, betapa waktu akan mengubah setiap keadaan, dan betapa sikap menentukan setiap perasaan. Terima Kasih sudah mau belajar untuk sama-sama bertumbuh.. Semoga tercapai setiap cita-cita, semoga menjadi anak-anak yang mampu membahagiakan orang tua di dunia dan akhirat, semoga selalu dapat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran di mana pun dan dengan siapa pun kalian berada..

Maybe, we don't need to ask how to love and beloved, in the end we'll have an answer.. :)





Minggu, 11 September 2016

Yakin jadi guru?

September 11, 2016 0 Comments

Menjadi seorang guru adalah kalimat yang sering saya lafalkan. Ibu saya bercerita, sewaktu saya TK saya sering menjawab “ingin jadi guru” jika ada yang bertanya mengenai cita-cita saya. Tentu, di usia TK semua akan menjawab sesuai kehendaknya tanpa berpikir panjang. Begitupun pada masa remaja, pada masa labil yang penuh dengan pemaklumanpun jawaban “menjadi guru” adalah pilihan saya. Beranjak dewasa saya mulai berpikir, mengapa saya sering melafalkan kalimat “ingin menjadi guru” padahal tidak ada seorangpun anggota keluarga saya yang berprofesi sebagai seorang guru? begitu pun dengan hasrat menjadi guru, jika dikaitkan dengan apa tujuannya? saya akan sangat bingung untuk menjawab. Pada intinya melafalkan kalimat “ingin menjadi guru” hanya sebatas jawaban kosong.
Sebagai remaja hampir kadaluarsa pada saat itu, saya mulai dihadapkan pada pilihan tentang apa yang akan dijalani di masa selanjutnya. Saya mulai mencari-cari profesi apa yang sekiranya bisa saya jalani sesuai dengan passion saya. Mulailah saya memadukan antara keinginan menjadi guru dengan tujuan dan manfaat ke depannya. Biidznillah, saya mulai menumukan pencerahan saat itu. Saya mulai benar-benar tertarik untuk menjadi seorang guru. Tapi tertarik saja tidak cukup, maka ikhtiar adalah jawabannya. Awalnya saya merasa pilihan saya memang tepat, saya mulai tertarik dengan dunia pendidikan, bergabung dengan komunitas-komunitas pendidikan dan berdiskusi tentang permasalahan pendidikan adalah hal yang menurut saya menyenangkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, ikhtiar menjadi seorang guru justru membuat saya perlahan ragu untuk menjadi seorang guru. Saat PPL menjadi guru misal, saya terlambat menyadari bahwa seorang phlegmatis melankolis dihadapkan dengan anak-anak yang memiliki energi berlebih adalah sebuah PR yang mau tidak mau harus diselesaikan. Tidak mudah memang, tapi ini adalah tantangan, “our education needs hands, not just complaints!” kalau kata kakak tingkat saya bilang.
Perjalanan masih panjang, hanya perlu berdiskusi dengan waktu untuk sebuah penyesuaian. Perlahan saya menemukan cinta dalam setiap perjalanan. Bertemu dengan berbagai karakter murid, melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan keunikan pemikirannya, tingkahnya dan menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan pada akhirnya. Namun dibalik itu, ada hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu niat, dan mungkin tidak ada yang lebih membahagiakan dari segala sesuatu yang diniatkan untuk ibadah termasuk ketika mengemban amanah menjadi seorang guru. Maka di sisi lain, menjadi seorang guru adalah sumber kebahagiaan..

***

Selasa, 27 Mei 2014

Ini Tentang Ujian Nasional

Mei 27, 2014 0 Comments
Ujian Nasional dengan segala permasalahannya seakan menjadi objek penambah suram wajah pendidikan Indonesia. Kecemasan masal terjadi setiap tahunnya, tidak hanya peserta didik sebagai subjeknya tetapi juga semua pihak ikut terlibat. Tidak jarang demi UN semua cara dilakukan, termasuk mencontek bagi peserta didik dan diperparah dengan pencurian soal sebagai bentuk persekongkolan antara guru dan kepala sekolah demi mensukseskan UN. Miris memang, dengan adanya UN justru menampakkan adanya disorientasi pendidikan.
Keberadaan UN memang menjadi hal yang praktis dan cepat untuk mengetahui fluktuasi kualitas pendidikan nasioanal. Namun, melihat permasalahan yang terjadi di lapangan, sekalipun tingkat kualitas pendidikan naik, akan berkesan seperti pembohongan publik. Keberadaan UN yang hanya menguji tingkat kognitif peserta didikpun menjadi bertolak belakang dengan keberadaan kurikulum 2013 yang serentak akan diterapkan pada tahun 2015 mendatang, keberadaan UN tidak sinkron dengan evaluasi pembelajaran pada kurikulum 2013. Ini akan menambah kebingungan publik nantinya.
Jika dilihat dari aspek penilaian terhadap peserta didik, rasanya lebih setuju jika evaluasi yang dilaksanakan berupa sebuah karya atau proyek baik secara individu maupun kelompok dengan standarisasi tertentu, dan tentunya disesuaikan dengan karakteristik kualitas pendidikan yang berbeda di setiap wilayahnya. Dengan  adanya karya tersebut aspek penilaian tidak hanya dari segi kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotornya akan terlihat. Selain itu tingkat kreatifitas anak bangsa akan terasah lewat karya tersebut. Memang evaluasi dengan bentuk seperti ini bukan hal yang mudah dan praktis, namun bukan tidak mungkin dengan cara ini akan meminimalisir tingakat kecurangan, kecemasan dan permasalahan lainnya seperti yang terjadi pada penerapan UN akhir-akhir ini. Dan yang terpenting dari keseluruhan bentuk evaluasi pendidikan nasional adalah adanya keharmonisan antara kebijakan pemerintah, masyarakat, sekolah dan peserta didik. Sehingga adanya evaluasi tidak menjadi hal yang harus ditakuti, tetapi justru menjadikan motivasi untuk dapat memperbaiki kualitas pendidikan negeri. Karena kualitas suatu peradaban, akan tercermin pula dari kualitas pendidikannya.

Pendidikan untuk peradaban!

Jumat, 02 Mei 2014

Refleksi Diri untuk Perbaikan Negeri

Mei 02, 2014 0 Comments

Akhir-akhir ini marak pemberitaan mengenai kasus-kasus degradasi moral seperti tindakan kriminalitas,  pembunuhan yang bahkan tanpa memandang status, seperti anak membunuh ayah, ibu membunuh anak dan sebagainya. Sebuah renungan tentang fenomena akhir zaman yang kian menampakkan cirinya. Hal yang dikhawatirkan adalah ketika fenomena degradasi moral ini menjadi konsumsi masyarakat yang keberadaannya sudah tidak asing, kemudian menjadikan masyarakat bersikap biasa saja, menjadikan pribadi yang tidak peka terhadap fenomanan degradasi moral yang ada disekelilingnya dan berujung pada cerminan wajah bangsa yang suram. Tentu tidak ada suatu bangsapun yang ingin wajahnya dihiasi dengan fenomena seperti ni. Suatu kondisi yang menuntut siapapun untuk memikirkannya.

Penyakit Sosial
Memang sudah seperti mata rantai, mengkoreksi satu aspek akan berpengaruh pada aspek lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena pembunuhuhan dan kriminalits lainnya merupakan permasalahan yang sebagian besar mengkambinghitamkan masalah ekonomi. Masalah ekonomi dirasa masih bisa dikendalikan jika aspek sosial masyarakat tatap terjaga seperti saling membantu, bergotong royong, dan adanya sikap saling peka teradap lingkungan masyarakat, artinya betapa penting nilai keharmonisan di dalam masyarakat. Problematika kehidupan di masyarakat yang ada seperti saat ini tidak akan tampak bila lingkungan masyarakatnya berjalan dengan harmonis. Keharmonisan dalam masyarakat sulit terbentuk jika masyarakatnya tidak tahu apa yang menjadi hak dan kewajiban bermasyarakat, atau bisa jadi dia tahu, namun pura-pura tidak tahu. Ini yang kemudian menjadi bibit penyakit sosial di masyarakat. Pemahaman seseorang tentang hak dan kewajiban tersebut tidak muncul begitu saja, ada proses yang membentuknya diantaranya adalah pendidikan, terlepas dari apakah itu pendidikan formal, informal maupun nonformal.

Cita-cita Pendidikan Nasional
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki cita-cita yang tinggi untuk pendidikan sebagaimana yang terdapat dalam alinea ke empat UUD 1945 yakni “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” selain itu ada pula fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang dituangkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
Namun, pertanyaannya adalah sejauh mana pendidikan dapat memahamkan masyarakat? kemana peran setiap individu yang tugasnya memanusiakan manusia? yang tugasnya menghidupkan yang sudah hidup?. Sudah banyak orang yang terdidik diproduksi oleh negeri, ribuan sarjana lahir setiap tahunnya. Sungguh ironi, jika kita harus melihat bahwa perkembangan kuantitas orang intelek negeri berbanding lurus dengan perkembangan kriminalitas di negeri ini. Ini yang menjadi tugas kita semua saat ini dan untuk masa yang akan datang. Tugas setiap manusia untuk dapat mendidik, menyikapi adanya degradasi moral yang diiringi peningkatan kualitas pendidikan. Dan yang terpenting adalah hasil pendidikan dapat membentuk watak seseorang yang mampu membawa perubahan lebih baik sekalipun dia berada pada lingkungan yang kurang kondusif. Artinya, ada tuntutan berkenaan dengan kecakapan seseorang dalam melaksanakan pendidikan apapun bentuknya, untuk tahu sesuatu, untuk menjemput jalan yang seharusnya ditempuh, untuk tahu bahwa benar dan salah akan selalu menjadi sebuah pilihan, namun sejauh mana seseorang dapat berusaha menggali ilmunya agar menjadikan pemikirannya lebih dewasa yang dapat benar-benar membedakan mana yang baik dan yang buruk serta sesuai dalam pengimplementasiannya.

Refleksi Diri
Pendidikan tidak selalu berkutat dengan sekolah formal, dengan guru atau buku, sesungguhnya masyarakat bisa berbuat lebih dari itu, karena manusia berakal, maka idealnya dia akan berpikir dan merefleksikan hasil pemikirannya lewat tindakan yang ia mampu, lalu tindakan yang seperti apa? tentu tindakan yang membawa perbaikan. Termasuk bergeraknya kita untuk selalu memperbaiki keadaan, karena sejatinya keadaan yang buruk bukan untuk dihindari, namun sejauh mana kita berkontribusi agar keadaan tersebut berjalan sebagaimana mestinya.
Seperti mengutuki diri sendiri ketika yang kita bisa hanya mengutuki keadaan, mengutuki sistem, mengutuki pemerintah, mengutuki para kriminalitas, sementra kita hanya diam menikmati peran sebagai penonton yang menyaksikan kegaduhan negeri. Menonton saja tidak akan menghilangkan masalah dan apa yang dituangkan dalam kata-kata, tidak lebih berarti tanpa tindakan yang mengiringi. Masalah seringkali dan banyak ditemui tetapi yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita berfokus pada solusi bergerak dan memperbaiki.

Selamat hari Pendidikan Nasional, Pendidikan untuk Peradaban..!!

Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...