Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Maret 2021

Untitle

Maret 17, 2021 0 Comments

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media sosial hari ini dan sederet tindak tanduk yang itu adalah aku..

Begitupun aku, tidak akan mengubah diriku menjadi apa adanya kamu, memaksakan diri sebagai sosok yang terobsesi menjadi bagian yang kelak mengagalkan fokusmu.

Tuhan menciptakan manusia dengan sebegitu uniknya, berdiri dengan segala karakter yang tidak sama sekali berhubungan dengan perkara harus seperti dan menjadi siapa agar disukai oleh siapa..

Maka tuan, tetaplah menjadi dirimu.. dan puan, bahagiakan diri dengan caramu..

Perkara rasa, Tuhanmu maha kuasa, tiada yang lebih sulit dikehendaki, bahkan untuk sekedar menyatukan hati..


Jumat, 17 Mei 2019

Ketika si Melankolis Ngisi Raport :P

Mei 17, 2019 0 Comments
Ini masih bagian dari "Homeroom Teacher Duties" yang pernah saya ceritakan waktu itu.. hehe

Jadi, tugas wali kelas itu salah satunya berjibaku dengan setumpuk raport murid nan unyu-unyu yang senantiasa mengelilingi kepala menjelang akhir semester. Dulu, saya tergolong anak yang sangat peduli dengan isi raport *Weeww
Sama catatan wali kelas sih lebih tepatnya, terlebih kalau catatannya agak panjang dikit, karena raport saya kebanyakan catatannya "tingakatkan lagi prestasimu!" paling pendek isinya "idem" yang kala itu gw gak faham idem itu apa, nanya emak juga beliau gak ngerti, dan emak pun tak bertanya pada sang wali kelas :') sampai pada akhirnya google menjawab artinya setelah sekian tahun berlalu dari kepenasaranan itu.. *apasih

Entah kenapa ada kebahagiaan tersendiri aja lihat catatan wali kelas. Meskipun hanya tulisan "idem" gaes.. :') karena saya tahu, wali kelas pasti bekerja keras ketika menulis catatan dengan sangat detile, apalalgi jumlah muridnya tidak sedikit. Tapi inilah tugas wali kelas, harus mengetahui perkembangan murid di kelasnya. Sebanyak apapun, sesibuk apapun, bukankah wali kelas adalah ibu/ayah yang harus tahu perkembangan anak di kelasnya?. ya, ini idealnya.. (terkait bisa ideal atau nggak, ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.. *plakk) nggak deng, guru profesional adalah guru yang mau berusaha untuk menjadi guru yang ideal. (give thanks to all my homeroom teachers)

Pertama kali saya menjadi wali kelas dan harus mengisi catatan wali kelas di raport, saya merasa kok saya lebay ya? *emang
gak seperti catatan waktu saya SD, di sekolah tempat saya mengajar, ada raport khusus, di mana guru bisa dengan leluasa menuangkan mahakarya tulisan dari hasil analisis terhadap muridnya. Sampai saya terharu sendiri setiap menuliskan catatan untuk murid saya satu persatu, bukan karena tulisan saya bagus, bukaan.. *dzziggg
Tapi karena memang perkembagan peserta didik itu luar biasa. Tidak ada anak yang tidak bisa apa-apa, setiap harinya selalu ada saja perekembangan yang dapat mereka tunjukkan, meskipun terkadang sebagai wali kelasnya harus melewati fase drama terlebih dahulu..

ini salah satu catatan saat pertama kali saya diamanahi menjadi wali kelas..

"Alhamdulillah, ananda ****** telah menyelesaikan semester dua dengan amat baik. Ananda adalah anak yang berbakat, ananda sudah bisa menjadi contoh yang baik untuk teman-temannya dalam berinfaq, melaksanakan shalat tahajjud, shalat dhuha, saum, dan shalat berjamaah. Semoga ananda istiqomah melaksanakan perintah Allah SWT dan Rosul-Nya ya. Pertahankan semua prestasi yang ananda dapatkan, ustadzah yakin di semester  yang akan datang, ananda akan terus berkembang menjadi anak yang cerdas dan mendapatkan segudang prestasi. Pesan ustadzah, alangkah lebih baik jika ananda bisa sedikit lebih teliti dan lebih fokus dalam mengikuti proses pembelajaran. Jangan pernah bosan untuk belajar, dan terus berusaha. Jadilah yang terbaik, Doa terbaik ustadzah selalu menyertai ananda." (Ustadzah adalah sebutan bagi guru perempuan di sekolah tempat saya mengajar)

Biasa aja sih sebenernya, kalimat ini umum ditulis di raport murid kami. Cuman karena wali kelasnya melankolis, dan baru pertama kali bikin kek ginian, jadilah saya sedikit terharu dengan kelakuan murid sholehah yang bikin saya bisa nulis sepanjang itu. Padahal entahlah waktu raport dibagikan dia baca atau nggak.. haha sad

Sebenernya pengen nulis dengan bahasa yang nggak umum, macem "Ananda adalah anak yang sangat menjaga perasaan guru dan teman-temannya" (padahal pendiam parah) atau "ananda adalah anak yang aktif, kreatif, dan inovatif" (padahal gak bisa diem dan senang bikin ulah) tapi takut jatohnya gue dusta.. T.T atau kalimat "ananda adalah anak yang menyenangkan, pintar dan cantik seperti Maudy Ayunda" (Tapi pliss, waras nis.. ini raport, bukan lacikata.blogspot.com)

Intinya, menjadi wali kelas adalah sesuatu yang mesti dinikmati, disyukuri, diambil enjoy, biar apa? biar bahagia, biar gak gampang tua, biar nggak banyak ngeluh, bahkan jika harus menulis catatan perkembangan anak yang jumlahnya banyak dengan karakter yang berbeda.. "lho, ambil pusing amat.. copas aja lah, samain semua.." Hmm.. Boleh lah copas, tapi untuk menuju ideal, sebuah tulisan harus terjamin hak ciptanya atau paling nggak melalui proses editing lebih dulu lah.. hehe
Of all the hard jobs around, one of the hardest is being a good teacher. -Maggie Gallagher
Semangaaat teh guru, Kang guru, Bu guru, Pak guru.. 


Minggu, 02 September 2018

Ikhlas

September 02, 2018 0 Comments
Tentang pilihan yang kadang menggelari sesorang sebagai sesosok yang egois, tapi selama pilihan itu dalam kebaikan, tidak ada yang lebih baik dari mengikhlaskan. Ikhlas meninggalkan, ikhlas dilupakan, ikhlas dengan persepsi orang atas setiap keputusan. Kemana pun takdir membawa, bukankah kita harus berprinsip layaknya matahari? meski terbenam di suatu tempat, ia tak pernah ingkar untuk terbit di tempat yang lain, tapi.. Ada kalanya hati tidak sesederhana pikiran berbicara, seperti saat aku harus pergi meninggalkan dan yang mampu ku katakan pada mereka adalah "ini yang terbaik, maka akan ada sesuatu yang lebih baik" dan saat sesuatu yang lebih baik itu hadir untuk mereka, aku cemburu..
Apakah ikhlas pun berbicara soal waktu?

Selasa, 21 Agustus 2018

Homeroom Teacher Duties #Part 1

Agustus 21, 2018 0 Comments
Dalam mendidik, seorang pendidik secara tidak langsung akan terdidik lewat interaksinya dengan peserta didik
Belum pernah membayangkan sama sekali menjadi seorang wali kelas. Dibenak saya, menjadi wali kelas adalah sesuatu yang ribet. Jangankan mengurus persoalan murid, mengurus persiapan mengajar saja kadang saya keteteran..
Berawal saya bekerja di salah satu sekolah. Tahun pertama saya bekerja adalah tahun yang penuh kejutan, dari mulai amanah pekerjaan yang sama sekali tidak sesuai dengan bidang saya, amanah memegang peran yang menurut saya cukup urgen dalam sebuah kegiatan hingga diminta menggantikan posisi sebagai wali kelas. Well, saya yang polos dan masih meraba-raba kala itu berubah menjadi sosok yang sering banget galaunya. hikss..

Pengalaman menjadi wali kelas adalah sesuatu yang nano-nano rasaya.. Tahun pertama ketika saya diminta untuk menggantikan wali kelas yang sedang cuti melahirkan, rasanya kebingungan, lebaynya sih dag-dig-dug setiap akan masuk ke kelas untuk membimbing anak-anak. Karena pengalaman pertama, jadilah saya sesosok yang rajin membaca, demi membuat suasana kelas gak garing-garing amat lewat cerita-cerita yang saya dapat sampaikan. Satu satunya yang jadi penawar galau kala itu adalah "gak akan lama lagi menjabat sebagai wali kelas". Meskipun kalau dilihat dari muridnya sih baik-baik saja, hanya saya saja yang belum bisa menerima harus mengemban amanah tersebut.

Beberapa bulan berlalu, akhirnya kenaikan kelas tiba, Inilah yang saya tunggu-tunggu, bebas dari gelar wali kelas..
Pembagian tugas awal tahun pun dimulai, dan taraaaaaaaa, saya diamanahi menjadi wali kelas lagi gaeees, betapa melengo-nya saya kala itu. Apalah daya tidak bisa menolak, akhirnya saya menjalani dengan sedikit bingung juga, karena ini betul-betul memegang kelas sendiri, bukan menggantikan, dimana tanggung jawab sama sekali tidak bisa dibagi.

Tibalah saya bertemu dengan 26 orang anak yang baru lulus Sekolah Dasar, berwajah lugu dan seketika dikening mereka seperti ada tuisan "mau dibagaimanakan setahun ke depan?" oh my God.. Saya yang senang kebebasan menjadi  sering bermonolog dan memikirkan orang lain.. ah, ini bukan saya sama sekali, kala itu..
Antara butuh mengeluh dan harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk belajar menjadi sebenar-benarnya pendidik. Berbagai macam pertanyaan ada di benak saya, termasuk pertanyaan "Bagaimana cara mencintai dan dicintai?" susah memang, kalau wali kelasnya melakolis kaya gini. hehe

Hari demi hari kami lalui, karakter demi karakter mulai bermunculan, saling menunjukkan sifat asli masing-masing ada yang cuek, periang, penyabar, senang teriak-teriak, pendiam, baik hati, centil, dewasa, dan lain lain, dari kelas yang awalnya senyap, berubah menjadi kelas yang riang bergemuruh. Hari-hari saya dipenuhi dengan curhatan anak-anak perempuan, masalah sahabat, teman sebangku, teman se-genk, soal hafalan Al-Quran, soal tontonan favorit, keluarga, hingga curhat soal laki-laki..

Awalnya memang ribet, tapi lama-kelamaan saya menikmati kebersamaan dengan mereka, belajar mendalami setiap peran ketika menghadapi mereka, menjadi sosok ibu yang berusaha mendidik dan menyelesaikan masalah mereka, menjadi sosok kakak yang berusaha menjadi teladan mereka, hingga menjadi teman bercanda dan setia mendengarkan curhatan mereka.

Suka duka kami lewati, saling mengenal, saling menyapa, saling menasehati, saling berbagi, sering memberi kejutan dengan tiba-tiba mereka bilang "bu, i love you" atau kalau habis liburan mereka bilang "bu, kangen aku nggak?". Ah, kalian memang lovable..

Pada akhirnya saya belajar, betapa waktu akan mengubah setiap keadaan, dan betapa sikap menentukan setiap perasaan. Terima Kasih sudah mau belajar untuk sama-sama bertumbuh.. Semoga tercapai setiap cita-cita, semoga menjadi anak-anak yang mampu membahagiakan orang tua di dunia dan akhirat, semoga selalu dapat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran di mana pun dan dengan siapa pun kalian berada..

Maybe, we don't need to ask how to love and beloved, in the end we'll have an answer.. :)





Selasa, 06 Februari 2018

Sabtu, 07 Oktober 2017

Untuk Sebuah Ketiadaan

Oktober 07, 2017 0 Comments
Kita tidak pernah benar-benar menggenggam apapun, yang ada hanya menggenggam ketiadaan.
Kita tidak pernah benar-benar rindu pada apapun, sampai kita sadar bahwa rindu telah kehilangan alamat pulang.
Dan pada rindu yang terbentuk sempurna, kita hanya bisa memaksa untuk tidak pernah pamit dari melantun doa..


Oktober, tahun ke 2



Picture by : Annisa Sivyani

Senin, 17 Juli 2017

Untitle

Juli 17, 2017 0 Comments
Ada ramai dalam hening, oleh sebab tuan pikiran terus saja bertanya "apa aku bisa?" macam pertanyaan pessimistic beralasan klasik "tahu yang harus dilakukan tapi tak selalu mampu untuk di kerjakan, dan ia berlindung pada kata "human error"
lalu harap menjadi buntu, hati serasa sesak..

Ruh mu nampak butuh suplemen..


Minggu, 11 September 2016

Yakin jadi guru?

September 11, 2016 0 Comments

Menjadi seorang guru adalah kalimat yang sering saya lafalkan. Ibu saya bercerita, sewaktu saya TK saya sering menjawab “ingin jadi guru” jika ada yang bertanya mengenai cita-cita saya. Tentu, di usia TK semua akan menjawab sesuai kehendaknya tanpa berpikir panjang. Begitupun pada masa remaja, pada masa labil yang penuh dengan pemaklumanpun jawaban “menjadi guru” adalah pilihan saya. Beranjak dewasa saya mulai berpikir, mengapa saya sering melafalkan kalimat “ingin menjadi guru” padahal tidak ada seorangpun anggota keluarga saya yang berprofesi sebagai seorang guru? begitu pun dengan hasrat menjadi guru, jika dikaitkan dengan apa tujuannya? saya akan sangat bingung untuk menjawab. Pada intinya melafalkan kalimat “ingin menjadi guru” hanya sebatas jawaban kosong.
Sebagai remaja hampir kadaluarsa pada saat itu, saya mulai dihadapkan pada pilihan tentang apa yang akan dijalani di masa selanjutnya. Saya mulai mencari-cari profesi apa yang sekiranya bisa saya jalani sesuai dengan passion saya. Mulailah saya memadukan antara keinginan menjadi guru dengan tujuan dan manfaat ke depannya. Biidznillah, saya mulai menumukan pencerahan saat itu. Saya mulai benar-benar tertarik untuk menjadi seorang guru. Tapi tertarik saja tidak cukup, maka ikhtiar adalah jawabannya. Awalnya saya merasa pilihan saya memang tepat, saya mulai tertarik dengan dunia pendidikan, bergabung dengan komunitas-komunitas pendidikan dan berdiskusi tentang permasalahan pendidikan adalah hal yang menurut saya menyenangkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, ikhtiar menjadi seorang guru justru membuat saya perlahan ragu untuk menjadi seorang guru. Saat PPL menjadi guru misal, saya terlambat menyadari bahwa seorang phlegmatis melankolis dihadapkan dengan anak-anak yang memiliki energi berlebih adalah sebuah PR yang mau tidak mau harus diselesaikan. Tidak mudah memang, tapi ini adalah tantangan, “our education needs hands, not just complaints!” kalau kata kakak tingkat saya bilang.
Perjalanan masih panjang, hanya perlu berdiskusi dengan waktu untuk sebuah penyesuaian. Perlahan saya menemukan cinta dalam setiap perjalanan. Bertemu dengan berbagai karakter murid, melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan keunikan pemikirannya, tingkahnya dan menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan pada akhirnya. Namun dibalik itu, ada hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu niat, dan mungkin tidak ada yang lebih membahagiakan dari segala sesuatu yang diniatkan untuk ibadah termasuk ketika mengemban amanah menjadi seorang guru. Maka di sisi lain, menjadi seorang guru adalah sumber kebahagiaan..

***

Sabtu, 03 September 2016

Senja

September 03, 2016 0 Comments


Semburat jingga meragam mengindahkan senja. Tapi tidak bagi pemilik nama yang katanya "tenang" itu. Duduk melamun di taman, sendirian. Eh tidak, rupanya ia ditemani lagu Tohpati feat Sutha, bersenandung rindu. Ya, bersenandung rindu pada apapun yang terjadi di masa lalu. Mengajak tulisan penawar rindu menari-nari, padahal nurani tak tahu bagaimana rindu diakhiri. Naif memang, tapi apalah daya, di samping sederet do'a, setidaknya itu membuat ia merasa lega..

Dan baginya, pada senja Allah titipkan banyak cerita..


Senin, 18 Juli 2016

Speaking English?? Aku ora isoooo.. :(

Juli 18, 2016 0 Comments

Speaking English..
Betapa kedua kata itu menghantui akhir-akhir ini. Saya termasuk orang yang abai dengan keberadaan bahasa inggris, tidak suka bahasa inggris. Pun ketika saya menyadari pentingnya berbahasa inggris apalagi berkaitan dengan Bahasa Internasional, MEA, dan teman-temannya. Tapi pikiran saya yang buntu berkata "ah, bukan guru b. inggris ini kok, gak haram gak belajar b.inggris" *plakk*. Kemudian skor PTESOL mengganjar saya dengan angka yang kalau orang sunda bilang “saongkoseun” (read : pas-pasan), padahal Cuman PTESOL waaaa!, yang katanya lebih mudah dari tes TOEFL, IELTS dan teman-temanya. *eottokeninggoyaaa!!?* :(
          Saya merasa dipermalukan dengan kelakuan saya ini!. ditambah dengan kejutan saat wawancara kerja yang ternyata menggunakan bahasa inggris, soaklah saya waktu itu. Dari situ pintu hidayah untuk menekuni bahasa inggris mulai terbuka, Tapi seiring berjalannya waktu, pikiran buntu meracuni lagi, saya tidak istiqomah menekuni bahasa inggris. Sampai suatu ketika datanglah seorang bule ke desa kami, entah siapa dia. Desas desus sih anaknya salah seorang penduduk di desa kami, ada juga yang bilang dia datang ke Indonesia oleh sebab pertukaran pemuda antar negara, ah entahlah yang mana yang benar, yang jelas dia sering jajan ke warung ibu saya, menjadi salah satu konsumen penggemar ibu saya, “she is my favorite ibu” katanya. Daebak pisan lah mamah tercintah meskipun beliau tidak bisa berbahasa inggris :D
            Saya penasaran dengan nona bule ini, sampai suatu ketika dia ngetok2 pintu warung (mungkin masih asing dengan kata “punteun” atau “beli”). Lantas saya jadi gagap seketika dan bilang “can i help you?” trus dia tanya “can you speak english?” yang berujung pada jawaban “little” dan anggukan serta senyuman penuh pemakluman dari nona bule. Ah ngisinkeun pisan pokonamah!. Lantas dia ngajak saya ngobrol yang lumayan melebar dengan pengulangan pertanyaan, saya pun sama, mencoba menjawab dengan bahasa inggris, meski dengan pengulangan pernyataan. Intinya bisa jadi “gue dan lo sama-sama gak ngerti” hahaha, tapi ini berhasil membuat kami sama-sama belajar, dia belajar bahasa, saya belajar speak english.
Kejadian ini membuat saya benar-benar menyadari bahwa belajar bahasa inggris memang bukan untuk sekedar menggugurkan kewajiban belajar di sekolah, bukan sekedar menghasilkan angka dalam rapor atau ijazah, bukan sekedar lulus tes penunjang karir, tapi berbahasa inggris bisa menjadi suatu kebutuhan yang mendesak, pada watu yang bahkan tidak terduga.
Intinya, pandai berbahasa, bahasa papun itu menjadi sebuah keharusan pada akhirnya.  Bukankah Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku? Lantas, bisakah kita saling mengenal tanpa perantara kata yang bernama “bahasa”?
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS. Al-Hujuraat 49 : 13)

Selamat belajaaaaaaaaaaaaaaaaar.... :D


Jumat, 27 Mei 2016

Demi Masa

Mei 27, 2016 1 Comments
Bahkan senja tak alpa mengingatkan untuk tak terlarut dalam keheningan pada jeda yang terlampau panjang. Karena bukan sebuah harap untuk mengembalikan denting waktu, bahkan untuk sepersekian detik.

Kita tak ber-Maha..

“Demi masa,Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali oorang-orang yang beriman dan beramal soleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (TQS. Al-Ashr : 1-3)


Senin, 16 Mei 2016

Untitle

Mei 16, 2016 0 Comments
Pada akhirnya, kemarin adalah jawaban dari sebuah pertanyaan yang benar-benar tidak pernah (mau) saya tanyakan, sebuah pernyataan yang benar-benar tidak pernah (mau) saya nyatakan. Terima kasih tuan, sudah menyegerakan, jadi saya tidak lagi penasaran.. Barokallaah.. “whats is truly yours would eventually be yours, and what is not, no matter hard you try, will never be..” -Secangkir Maaf


Dewasa?

Mei 16, 2016 0 Comments

Terlepas dari unsur fisik, Dewasa adalah sebuah fase dimana seorang seharusnya dapat berpikir lebih matang, lebih dapat meredam emosi yang tidak penting, lebih dapat menjadikan segala sesuatu lebih terkontrol, dewasa juga berbicara tentang tanggung jawab dan rasa malu. Saya tidak ingin menyalahkan sebuah proses yang pada hakekatnya dia baik, tapi pada kenyataannnya, suatu waktu saya bisa membenci apa itu dewasa, dimana pada fase tersebut saya merasa segala sesuatu menjadi lebih rumit. Apa jangan-jangan sebenarnya saya belum cukup dewasa untuk mendifinisikan fase Dewasa itu sendiri? Ah, entahlah.

Berbicara soal dewasa, Idealnya seiring bertambahnya usia, semakin dewasa pemikiran seseorang. Tapi, kenyataan tidak selalu begitu. Kadang seseorang masih senang dininabobokan dengan kenyamanan perlakuan layaknya anak-anak, saking senangnya jadi lupa kalau usia ternyata sudah bukan anak-anak lagi. Kerap kali ini menjadi sebuah PR baik bagi orang tua, anak dan lingkungan yang masih sering terlupakan. Akibatnya tidak sedikit orang dewasa yang masih kekanak-kanakan. Meski tidak sampai merugikan orang sekitar, setidaknya seseorang terikat dengan norma dan adat lingkungan sekitar. Tidak semua orang mau mencari tahu latar belakang seseorang mengapa bertingkah laku seperti ini dan seperti itu, atau dalam arti mencoba memahami dan memaklumi tingkah seseorang. Sebagian besar mungkin hanya berpikir tingkah laku seseorang sesuai atau tidak, diterima atau tidak, dan normalah yang berbicara pada akhirnya.

Belajar menjadi dewasa membutuhkan waktu. Ya, tapi pada intinya menjadi dewasa butuh pembiasaan dan pembiasaan tidak mungkin dilakukan sendirian, butuh perlakuan, butuh dukungan. Agar ketika seseorang beranjak dewasa ia tidak merasa ketakutan, tidak merasa seperti burung yang tiba-tiba dilepas dari sangkarnya, tidak merasa seperti anak ayam yang ditinggal induknya, kebingungan akan tanggung jawabnya sebagai sesosok yang sudah dewasa.


Minggu, 10 April 2016

Sabtu, 09 Januari 2016

Oh My KTP

Januari 09, 2016 0 Comments
“Teh, foto close up'nya pake kamera fisheye ya?” *gubrakkk*
Emang ya, saya gak bersahabat sama KTP dan dokumen-dokumen kewarganegaraan lainnya. Selalu ada kesalahan teknis, kek pertanyaan di atas misal, Pertanyaan itu muncul waktu saya ngurusin surat izin penelitian yang mengharuskan untuk memperlihatkan KTP. Sambil senyam senyum si masnya liat foto KTP saya, dan saya hanya bisa senyum *bari jeung kapaksa* sambil membela diri. Masnya husnudzon banget subhanallaah sampe ngira itu foto pake kamera fisheye T.T, tapi emang, setiap orang yang lihat foto KTP saya pasti ketawa. Mungkin karena wajah terlihat jebag, kerudung yang belum sempet dibenerin, gak sempet senyum, mata gak kontrol, hinyai kek gorengan, intinya belum sempet kontrol wajah, petugas E-KTP udah main ckrek ckrek aja. Ah, yasudahlah aku mah apa atuh. *balik badan, kemudian lari* yang penting mah don’t judge by the cover we lah, hahaha..

Jumat, 08 Januari 2016

Maaf..

Januari 08, 2016 0 Comments
Sahabat,  ada saat di mana aku seringkali merasa kita akan selalu baik-baik saja, bahkan pada saat di mana aku tidak bisa memenuhi hakmu sebagai sahabatku, pada saat di mana aku terlampau sibuk dengan duniaku, pada saat di mana aku selalu mempertahankan ego sedang sikapmu selalu baik, menutupi kekuranganku, menyambutku dengan sikap yang selalu hangat, dan.. ah, terlampau banyak kebaikan jika harus diceritakan.

Sahabat, apa kamu tahu, bahwa seringkali aku merasa bingung saat diliputi rasa bersalah, ya, rasa bersalah terhadap sesuatu yang belum sempat tersampaikan, atas sesuatu yang tidak sempat dilakukan. Selalu muncul pertanyaan “rasa bersalah seperti apa yang bisa aku tunjukkan? Ah, maafkan sahabatmu ini, hanya memasang tampang layaknya semua baik-baik saja. Kau mungkin pernah kesal dengan sikap yang sering aku tunjukkan. Maafkan aku, maafkan selalu bersikap seperti ini, maafkan untuk selalu berpikir bahwa kata-kata tidak bisa menggambarkan betapa aku merasa menyesal, bahkan dengan meminta maaf pun tidak cukup menggambarkan bahwa aku bukan sahabat yang baik..

Maaf, maaf, maaf.. aku ingin selalu menjadi sahabatmu, ingatkan ketika aku lupa, tegur aku jika salah, maafkan jika terlampau menggunung salahku..

Mestinya hari ini menyempatkan waktu menemuimu.. ah, dan lagi, maaf... maaf yang banyak...


Senin, 02 November 2015

Terima Kasih Langit Vanilla

November 02, 2015 1 Comments
Hal yang paling saya takutkan dan selalu menjadi mimpi buruk adalah kehilangan, ya, kehilangan untuk selamanya. kadang saya berpikir bahwa ada hal yang lebih menyiksa dari kehilangan, yaitu rindu dan sederetan ingatan tentang sosok yang sangat kita sayangi. Saya merasakan bagaimana ditinggalkan, bagaimana saat obat bius dari kehilangan habis fungsinya.

Hampir satu bulan, bapak pergi pada sebuah ruang beda dimensi. Allah Arrahman, Arrahiim, sebelum bapak pergi, Allah berikan saya kesempatan untuk dapat membersamai beliau. Mengizinkan kami untuk berpamitan, sesak rasanya. Tapi ini adalah bagian paragraf hidup yang sudah tertulis, entah kita atau orang tercinta yang lebih dulu menghadap-Nya. 

Pemilik Langit Vanilla, dia bilang, "Ia ada, Ia hanya berpindah tempat, doakan saja" ya, kalimat yang mengingatkan saya untuk selalu yakin bahwa kita masih punya harapan untuk membahagiakan beliau disana, untuk bisa kembali bertemu, benar-benar bertemu, nanti, di Jannah-Nya. aamiin..

Vi, kamu tahu? pagi sebelum bapak tidak sadarkan diri, aku menjawab tebakan dari Mbah Suji, katanya "garis yang tidak terlihat?______" aku jawab "Garis Takdir". Aku Manusia, yang hanya bisa menebak-nebak garis takdir, perihal ketetapan yang hakiki, itu Milik-Nya. kita harus Ridho, meskipun aku sendiri masih sering bertanya-tanya "bapak sedang apa di sana? bapak lihat aku tidak? bapak, apa di sana masih ada ingatan saat kita menghabiskan waktu? saat Allah berikan aku kesempatan untuk menjadi suster kesayanganmu? atau apakah ingatan bapak di sana sama seperti ketika bapak berpindah dari alam rahim ke alam dunia?" ah,terlalu bodoh rasanya selalu bertanya-tanya.

Bagaimana pun, semuanya sudah jadi Qodo-Nya, kita tidak bisa mengelak, terlarut dalam kesedihan berkepanjangan tidak sama sekali membahagiakan beliau, yang bisa kita lakukan adalah mengobati hati dengan belajar ridho dan ikhlas kemudian berbuat yang terbaik agar beliau bahagia di sana.

Vi, saling mendo'akan ya, semoga kita selalu ikhlas dan ridho, semoga kita bisa menjadi anak solehah. Doa'kan juga agar kita bisa menjadi Hafidzoh, nanti kita sama-sama berikan mahkota untuk beliau, dan kita semua berkumpul kembali di Jannah-Nya :) aamiin yaa robbal'aalamiin..

Vi, jazakillaah, Ana uhibbuki fillaah..



Minggu, 06 September 2015

About Them..

September 06, 2015 0 Comments
Kepada Nucleus, maaf si melankolis kambuh, ingin bercerita tentang sahabat KKN, yang malam ini saya merindukan mereka. hehe

Alhamdulillah, terimakasih kepada Sang Maha segalanya, yang tak pernah salah menempatkan kami pada ruang dan waktu, dimana kami dapat belajar dari sebuah kebersamaan..

Malam minggu yang gagal fokus, niat ngurusin hal ihwal proskrip, gegara muterin playlist yang diminta dari Anna, jadilah melankolis saya kambuh, hmmhh..
(harap dimaklum lah ya, malam minggunya sama si pegasus. haha)

Apa kabar ya mereka barudak KKN? Ada yang berubahkah?

40 hari berinteraksi dengan mereka adalah hal yang luar biasa, rasa nano-nano, izin impersonate kalian gengs, haha..

Inilah mereka, yang s’lalu ku rindukan mereka ku yang permai.. *eh naha*

Adalah Anna Aristiani, panggilannya mamah/emak, sosok yang sangat baik hati, jago nari (sagala jenis tatarian, naha apal mah?), cantik, ceria, berani, nyundanya keren dan capetang teu katulungan, dimana suaranya sangat meggelegar kalau lagi becanda, suka teriak “Neeeeeeeeeeeeeeng” atau kata-kata “kumahadinya bae! (kumaha didinya bae)” “awas aya si pantang menyerah!” (sebutan bagi ayam pak Haji), “deuk kamannaa atuh ruuum” “Umiii f*k” “umii fotoin” “hayang diteluh?” “da bencong” “cappuuung” “jengoong (jangan)” “pengen kikoo” daaan laiinyaa. Ga ada sehari aja, posko menjadi krik krik, haha.. Mah kangeeen riweuhnya T.T

Si Neng, namanya Fajri Damar P. tapi lebih akrab dipanggil neng sebab rambutnya gondrong, panjang menggelora haha, dan gak jarang warga nusawangi menerka dia perempuan, wkkwkk.. partner menggila Anna dan ibu (sarah namanya) kata-kata yang paling inget dari neng tuh “Uno yu?” “naon atuh umii” atau “si Umi wanian” “umi ditatonya? ”umi ongkoh rek dugem?” (si eneng kitu pisanlah! -_-‘). Tapi si neng baik, ga ada neng juga ga rame, ga ada bulian, haha.. (teu ketang) oia satu lagi, si neng adalah orang satu-satunya diantara kami yang anti ayam boiler. naha neng? :D

Ayin, bernama lengkap Arini Ulfia Septiani, yang pas pertama kita ketemu saya salah manggil, malah arini ulfias (kirain ulfias nama asli, padahal singkatan, -_- ). Yang paling diinget dari ayin itu, dia ngefans sama EXO. Ayin sesosok yang baik hati, suka seselfian, putih (yang paling dihindari ketika difoto deket Ayin, sebab gue akan terlihat seperti anak hilang yg gak mandi 7 hari, hahaha). Oia, ada Neneknya Ayin yang baik dan sangat berjasa bagi kami, kebetulan rumah nenek ayin deket posko, ah pokoknya jazakumullaah umi Ayin dan keluarga :D

Trus ada Sarah, dipanggil ibu, jago masak, udah kaya emak ke dua di posko. Tempat curhat, partner nonton running man dan transaksi film korea, haha.. Yang paling diinget dari ibu itu terong balado favorit anak2 posko T.T (apa emang beli daging keseringan terlalu mahal, sehingga terong balado menjadi andalan?) haha.. trus, suka niruin lagu Raisa (but, she changed lyric with “Kulit Nilep”, not “could it be love”) sambil mainin rambut kek iklan sampo -_-“, kata-kata paling diinget dari ibu itu “Neeeeeeeeeng cuci piriiing” “Gogo bangun, mandii!” “umi aku mau curhat!” dia obsesi banget diet, sampe waktu bukber ramadhan kemarin dia terlihat kurusan, ibu bisaan ih!

Si Ibi, nama aslinya Hary Gustiana, dia pria hebat sangat pemberani, sampai ke dapur aja minta ditemenin -_-‘ kadang bisa menjadi musuh, dia bak artis versi anak-anak Nusawangi, banyak anak-anak ngemodus minta no ketua KKN (kng Iman) tapi ujungnya “teh, minta no a hary” (oh God, semoga dia tidak Pedofil). Yang paling inget dari dia, waktu ngantri kamar mandi, karena saya kelamaan, jadilah dia mencari WC di Pom Bensin. Haha ibi hampura T.T . Trus kalau orang lagi cerita dan itu rada garing, entah apa motivasinya tetiba  menguncupkan tangan. Oia, Motornya fenomenal, hampir semua orang yang naik motornya mengalami kejadian unik (Musibah sih lebih tepatnya. haha), kek mamah & si Neng yang nabrak ibu-ibu sepulang belanja, Ibu & si Neng (lagi) nyasar, saya & bude nabrak ayam warga (dan setelah disusul ayamnya hilang, gaib pisan T.T), tapi motor dia sangat berjasa, untuk pertama kali aye bisa pake motor (even, cuma keliling lapangan, hahaha).

Kang Iman, Sang ketua KKN, dipanggil babeh (karena dianggap paling dewasa diantara kami yang masih muda, ngahaha..) seperti ditumbalkan, rela berkorban, birokrasi sana sini, mimpin rapat, relasiya banyak, dari mulai pemilik kontrakan sampai bapak Kuwu dia akrab. Yang paling diinget dari ketua geng ini pas orangtuanya dateng bawa makanan yang sedemikian banyaaak buat kita. Huaaa, kami semua merasa kenyang pada malam itu. Alhamdulillaah, terimakasih ketua geng. :D
  
Gogo, Muhammad Thufeil Ghozy lengkapnya. Yang paling inget dari gogo, dia makannya banyak, haha (bagus go, biar kayak bayi sehat), trus ring tune’nya ituloh sering pisan diputer di posko, lagu Happy’nya Pharrell Williams. Trus yang paling inget itu waktu saya hampir jatoh dari motornya gogo, gegara motor kuplingan yang tinggi itu saya naiki di tengah jalan rusak, nanjak dan duduk nyempong, Daebak!! T.T

Rizcka, ibu sekertaris satu ini hobi nonton anime, headset every where, baik, riweuh kala ngerjain laporan, kadang dia menyeramkan (bisa liat makhluk halus ceunah, *brarti dia bisa liat gue* ngahahaha..) partnernya ibi sama kang iman :D, kamar dan ruang tengah menjadi ruang favoritnya, naha ka?

Bude, nama aslinya Sulastri Mugiautami, asli Riau berketurunan Jowo, cah ayu nan baik hati :D, partner akuuh :*, bude partner seperjuangan keliling – keliling Nusawangi bagiin surat undangan, silaturahim dgn para DKM Nusawangi sambil ngemodus *eh, teu ketang :P. Yang paling inget dari bude ini makanan yang bernama Tempoyak (duren yang difermentasi gitu)*mupeng*, bude ga bisa makan makanan gurih yang bergula, sukanya pedes, trus kata katanya lucu contohnya “naoon maneeeeeh” (lidah Riau berdialek Jawa jadi terdengar sangat aneh, haha), ah kangen ibu bendahara ini, yang kita sering kasbon dan minta subsidi T.T

Ale alias setep, alias uwa jauh yang bernama lengkap Stefanus Aleut, dia sering kita panggil aleee leutsa (dengan nada lagu tari saman, :D ), dia satu-satunya temen KKN yang sering manggil saya Mut/Amut, entah dia tahu dari mana panggilan ini -_-‘. Step ini unik. Dia berasal dari Nusa tenggara yang berhasil ngecengin anak posko dari Desa sebelah. Haha, steeep kau ini ada-ada saja..

Ah kalian, masih banyak cerita dari kalian, terimakasih saya banyak belajar dari kalian, semoga selalu ingat daku, semoga Allah memudahkan segala urusan kita, cepet lulus, cepet wisuda, cepet mengabdi buat masyarakat. aamiin

Bandung, 06 Sep 2015. 00.25 WIB












Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...