Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Maret 2021

Untitle

Maret 17, 2021 0 Comments

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media sosial hari ini dan sederet tindak tanduk yang itu adalah aku..

Begitupun aku, tidak akan mengubah diriku menjadi apa adanya kamu, memaksakan diri sebagai sosok yang terobsesi menjadi bagian yang kelak mengagalkan fokusmu.

Tuhan menciptakan manusia dengan sebegitu uniknya, berdiri dengan segala karakter yang tidak sama sekali berhubungan dengan perkara harus seperti dan menjadi siapa agar disukai oleh siapa..

Maka tuan, tetaplah menjadi dirimu.. dan puan, bahagiakan diri dengan caramu..

Perkara rasa, Tuhanmu maha kuasa, tiada yang lebih sulit dikehendaki, bahkan untuk sekedar menyatukan hati..


Jumat, 17 Mei 2019

Ketika si Melankolis Ngisi Raport :P

Mei 17, 2019 0 Comments
Ini masih bagian dari "Homeroom Teacher Duties" yang pernah saya ceritakan waktu itu.. hehe

Jadi, tugas wali kelas itu salah satunya berjibaku dengan setumpuk raport murid nan unyu-unyu yang senantiasa mengelilingi kepala menjelang akhir semester. Dulu, saya tergolong anak yang sangat peduli dengan isi raport *Weeww
Sama catatan wali kelas sih lebih tepatnya, terlebih kalau catatannya agak panjang dikit, karena raport saya kebanyakan catatannya "tingakatkan lagi prestasimu!" paling pendek isinya "idem" yang kala itu gw gak faham idem itu apa, nanya emak juga beliau gak ngerti, dan emak pun tak bertanya pada sang wali kelas :') sampai pada akhirnya google menjawab artinya setelah sekian tahun berlalu dari kepenasaranan itu.. *apasih

Entah kenapa ada kebahagiaan tersendiri aja lihat catatan wali kelas. Meskipun hanya tulisan "idem" gaes.. :') karena saya tahu, wali kelas pasti bekerja keras ketika menulis catatan dengan sangat detile, apalalgi jumlah muridnya tidak sedikit. Tapi inilah tugas wali kelas, harus mengetahui perkembangan murid di kelasnya. Sebanyak apapun, sesibuk apapun, bukankah wali kelas adalah ibu/ayah yang harus tahu perkembangan anak di kelasnya?. ya, ini idealnya.. (terkait bisa ideal atau nggak, ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.. *plakk) nggak deng, guru profesional adalah guru yang mau berusaha untuk menjadi guru yang ideal. (give thanks to all my homeroom teachers)

Pertama kali saya menjadi wali kelas dan harus mengisi catatan wali kelas di raport, saya merasa kok saya lebay ya? *emang
gak seperti catatan waktu saya SD, di sekolah tempat saya mengajar, ada raport khusus, di mana guru bisa dengan leluasa menuangkan mahakarya tulisan dari hasil analisis terhadap muridnya. Sampai saya terharu sendiri setiap menuliskan catatan untuk murid saya satu persatu, bukan karena tulisan saya bagus, bukaan.. *dzziggg
Tapi karena memang perkembagan peserta didik itu luar biasa. Tidak ada anak yang tidak bisa apa-apa, setiap harinya selalu ada saja perekembangan yang dapat mereka tunjukkan, meskipun terkadang sebagai wali kelasnya harus melewati fase drama terlebih dahulu..

ini salah satu catatan saat pertama kali saya diamanahi menjadi wali kelas..

"Alhamdulillah, ananda ****** telah menyelesaikan semester dua dengan amat baik. Ananda adalah anak yang berbakat, ananda sudah bisa menjadi contoh yang baik untuk teman-temannya dalam berinfaq, melaksanakan shalat tahajjud, shalat dhuha, saum, dan shalat berjamaah. Semoga ananda istiqomah melaksanakan perintah Allah SWT dan Rosul-Nya ya. Pertahankan semua prestasi yang ananda dapatkan, ustadzah yakin di semester  yang akan datang, ananda akan terus berkembang menjadi anak yang cerdas dan mendapatkan segudang prestasi. Pesan ustadzah, alangkah lebih baik jika ananda bisa sedikit lebih teliti dan lebih fokus dalam mengikuti proses pembelajaran. Jangan pernah bosan untuk belajar, dan terus berusaha. Jadilah yang terbaik, Doa terbaik ustadzah selalu menyertai ananda." (Ustadzah adalah sebutan bagi guru perempuan di sekolah tempat saya mengajar)

Biasa aja sih sebenernya, kalimat ini umum ditulis di raport murid kami. Cuman karena wali kelasnya melankolis, dan baru pertama kali bikin kek ginian, jadilah saya sedikit terharu dengan kelakuan murid sholehah yang bikin saya bisa nulis sepanjang itu. Padahal entahlah waktu raport dibagikan dia baca atau nggak.. haha sad

Sebenernya pengen nulis dengan bahasa yang nggak umum, macem "Ananda adalah anak yang sangat menjaga perasaan guru dan teman-temannya" (padahal pendiam parah) atau "ananda adalah anak yang aktif, kreatif, dan inovatif" (padahal gak bisa diem dan senang bikin ulah) tapi takut jatohnya gue dusta.. T.T atau kalimat "ananda adalah anak yang menyenangkan, pintar dan cantik seperti Maudy Ayunda" (Tapi pliss, waras nis.. ini raport, bukan lacikata.blogspot.com)

Intinya, menjadi wali kelas adalah sesuatu yang mesti dinikmati, disyukuri, diambil enjoy, biar apa? biar bahagia, biar gak gampang tua, biar nggak banyak ngeluh, bahkan jika harus menulis catatan perkembangan anak yang jumlahnya banyak dengan karakter yang berbeda.. "lho, ambil pusing amat.. copas aja lah, samain semua.." Hmm.. Boleh lah copas, tapi untuk menuju ideal, sebuah tulisan harus terjamin hak ciptanya atau paling nggak melalui proses editing lebih dulu lah.. hehe
Of all the hard jobs around, one of the hardest is being a good teacher. -Maggie Gallagher
Semangaaat teh guru, Kang guru, Bu guru, Pak guru.. 


Minggu, 02 September 2018

Ikhlas

September 02, 2018 0 Comments
Tentang pilihan yang kadang menggelari sesorang sebagai sesosok yang egois, tapi selama pilihan itu dalam kebaikan, tidak ada yang lebih baik dari mengikhlaskan. Ikhlas meninggalkan, ikhlas dilupakan, ikhlas dengan persepsi orang atas setiap keputusan. Kemana pun takdir membawa, bukankah kita harus berprinsip layaknya matahari? meski terbenam di suatu tempat, ia tak pernah ingkar untuk terbit di tempat yang lain, tapi.. Ada kalanya hati tidak sesederhana pikiran berbicara, seperti saat aku harus pergi meninggalkan dan yang mampu ku katakan pada mereka adalah "ini yang terbaik, maka akan ada sesuatu yang lebih baik" dan saat sesuatu yang lebih baik itu hadir untuk mereka, aku cemburu..
Apakah ikhlas pun berbicara soal waktu?

Selasa, 21 Agustus 2018

Homeroom Teacher Duties #Part 1

Agustus 21, 2018 0 Comments
Dalam mendidik, seorang pendidik secara tidak langsung akan terdidik lewat interaksinya dengan peserta didik
Belum pernah membayangkan sama sekali menjadi seorang wali kelas. Dibenak saya, menjadi wali kelas adalah sesuatu yang ribet. Jangankan mengurus persoalan murid, mengurus persiapan mengajar saja kadang saya keteteran..
Berawal saya bekerja di salah satu sekolah. Tahun pertama saya bekerja adalah tahun yang penuh kejutan, dari mulai amanah pekerjaan yang sama sekali tidak sesuai dengan bidang saya, amanah memegang peran yang menurut saya cukup urgen dalam sebuah kegiatan hingga diminta menggantikan posisi sebagai wali kelas. Well, saya yang polos dan masih meraba-raba kala itu berubah menjadi sosok yang sering banget galaunya. hikss..

Pengalaman menjadi wali kelas adalah sesuatu yang nano-nano rasaya.. Tahun pertama ketika saya diminta untuk menggantikan wali kelas yang sedang cuti melahirkan, rasanya kebingungan, lebaynya sih dag-dig-dug setiap akan masuk ke kelas untuk membimbing anak-anak. Karena pengalaman pertama, jadilah saya sesosok yang rajin membaca, demi membuat suasana kelas gak garing-garing amat lewat cerita-cerita yang saya dapat sampaikan. Satu satunya yang jadi penawar galau kala itu adalah "gak akan lama lagi menjabat sebagai wali kelas". Meskipun kalau dilihat dari muridnya sih baik-baik saja, hanya saya saja yang belum bisa menerima harus mengemban amanah tersebut.

Beberapa bulan berlalu, akhirnya kenaikan kelas tiba, Inilah yang saya tunggu-tunggu, bebas dari gelar wali kelas..
Pembagian tugas awal tahun pun dimulai, dan taraaaaaaaa, saya diamanahi menjadi wali kelas lagi gaeees, betapa melengo-nya saya kala itu. Apalah daya tidak bisa menolak, akhirnya saya menjalani dengan sedikit bingung juga, karena ini betul-betul memegang kelas sendiri, bukan menggantikan, dimana tanggung jawab sama sekali tidak bisa dibagi.

Tibalah saya bertemu dengan 26 orang anak yang baru lulus Sekolah Dasar, berwajah lugu dan seketika dikening mereka seperti ada tuisan "mau dibagaimanakan setahun ke depan?" oh my God.. Saya yang senang kebebasan menjadi  sering bermonolog dan memikirkan orang lain.. ah, ini bukan saya sama sekali, kala itu..
Antara butuh mengeluh dan harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk belajar menjadi sebenar-benarnya pendidik. Berbagai macam pertanyaan ada di benak saya, termasuk pertanyaan "Bagaimana cara mencintai dan dicintai?" susah memang, kalau wali kelasnya melakolis kaya gini. hehe

Hari demi hari kami lalui, karakter demi karakter mulai bermunculan, saling menunjukkan sifat asli masing-masing ada yang cuek, periang, penyabar, senang teriak-teriak, pendiam, baik hati, centil, dewasa, dan lain lain, dari kelas yang awalnya senyap, berubah menjadi kelas yang riang bergemuruh. Hari-hari saya dipenuhi dengan curhatan anak-anak perempuan, masalah sahabat, teman sebangku, teman se-genk, soal hafalan Al-Quran, soal tontonan favorit, keluarga, hingga curhat soal laki-laki..

Awalnya memang ribet, tapi lama-kelamaan saya menikmati kebersamaan dengan mereka, belajar mendalami setiap peran ketika menghadapi mereka, menjadi sosok ibu yang berusaha mendidik dan menyelesaikan masalah mereka, menjadi sosok kakak yang berusaha menjadi teladan mereka, hingga menjadi teman bercanda dan setia mendengarkan curhatan mereka.

Suka duka kami lewati, saling mengenal, saling menyapa, saling menasehati, saling berbagi, sering memberi kejutan dengan tiba-tiba mereka bilang "bu, i love you" atau kalau habis liburan mereka bilang "bu, kangen aku nggak?". Ah, kalian memang lovable..

Pada akhirnya saya belajar, betapa waktu akan mengubah setiap keadaan, dan betapa sikap menentukan setiap perasaan. Terima Kasih sudah mau belajar untuk sama-sama bertumbuh.. Semoga tercapai setiap cita-cita, semoga menjadi anak-anak yang mampu membahagiakan orang tua di dunia dan akhirat, semoga selalu dapat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran di mana pun dan dengan siapa pun kalian berada..

Maybe, we don't need to ask how to love and beloved, in the end we'll have an answer.. :)





Selasa, 06 Februari 2018

Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...