Tampilkan postingan dengan label Ruang Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Kata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 September 2018

Untuk (si)apa?

September 29, 2018 0 Comments
Planet bergerak pada garis edar, kita menumpu pada garis waktu..
Senang, sedih, tertawa, kecewa, semua berjalan sebagaimana mestinya..
Kita kerap terjebak dalam zona pilihan, dan beberapa orang memaksa melipat kebingungan, menyimpannya dengan rapih, lantas berkata nanti dan nanti, lupa arti solusi..
Hanya mampu menikmati eksistensi kelemahan makhluk yang bahkan tak dapat memvisualkan masa depan..

dan kita, kerap lupa pada deretan kata "setiap jejak dan arah langkah untuk (si)apa?"



Minggu, 02 September 2018

Ikhlas

September 02, 2018 0 Comments
Tentang pilihan yang kadang menggelari sesorang sebagai sesosok yang egois, tapi selama pilihan itu dalam kebaikan, tidak ada yang lebih baik dari mengikhlaskan. Ikhlas meninggalkan, ikhlas dilupakan, ikhlas dengan persepsi orang atas setiap keputusan. Kemana pun takdir membawa, bukankah kita harus berprinsip layaknya matahari? meski terbenam di suatu tempat, ia tak pernah ingkar untuk terbit di tempat yang lain, tapi.. Ada kalanya hati tidak sesederhana pikiran berbicara, seperti saat aku harus pergi meninggalkan dan yang mampu ku katakan pada mereka adalah "ini yang terbaik, maka akan ada sesuatu yang lebih baik" dan saat sesuatu yang lebih baik itu hadir untuk mereka, aku cemburu..
Apakah ikhlas pun berbicara soal waktu?

Selasa, 06 Februari 2018

Sabtu, 07 Oktober 2017

Untuk Sebuah Ketiadaan

Oktober 07, 2017 0 Comments
Kita tidak pernah benar-benar menggenggam apapun, yang ada hanya menggenggam ketiadaan.
Kita tidak pernah benar-benar rindu pada apapun, sampai kita sadar bahwa rindu telah kehilangan alamat pulang.
Dan pada rindu yang terbentuk sempurna, kita hanya bisa memaksa untuk tidak pernah pamit dari melantun doa..


Oktober, tahun ke 2



Picture by : Annisa Sivyani

Senin, 17 Juli 2017

Untitle

Juli 17, 2017 0 Comments
Ada ramai dalam hening, oleh sebab tuan pikiran terus saja bertanya "apa aku bisa?" macam pertanyaan pessimistic beralasan klasik "tahu yang harus dilakukan tapi tak selalu mampu untuk di kerjakan, dan ia berlindung pada kata "human error"
lalu harap menjadi buntu, hati serasa sesak..

Ruh mu nampak butuh suplemen..


Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...