Minggu, 02 September 2018

Ikhlas

September 02, 2018 0 Comments
Tentang pilihan yang kadang menggelari sesorang sebagai sesosok yang egois, tapi selama pilihan itu dalam kebaikan, tidak ada yang lebih baik dari mengikhlaskan. Ikhlas meninggalkan, ikhlas dilupakan, ikhlas dengan persepsi orang atas setiap keputusan. Kemana pun takdir membawa, bukankah kita harus berprinsip layaknya matahari? meski terbenam di suatu tempat, ia tak pernah ingkar untuk terbit di tempat yang lain, tapi.. Ada kalanya hati tidak sesederhana pikiran berbicara, seperti saat aku harus pergi meninggalkan dan yang mampu ku katakan pada mereka adalah "ini yang terbaik, maka akan ada sesuatu yang lebih baik" dan saat sesuatu yang lebih baik itu hadir untuk mereka, aku cemburu..
Apakah ikhlas pun berbicara soal waktu?

Selasa, 21 Agustus 2018

Homeroom Teacher Duties #Part 1

Agustus 21, 2018 0 Comments
Dalam mendidik, seorang pendidik secara tidak langsung akan terdidik lewat interaksinya dengan peserta didik
Belum pernah membayangkan sama sekali menjadi seorang wali kelas. Dibenak saya, menjadi wali kelas adalah sesuatu yang ribet. Jangankan mengurus persoalan murid, mengurus persiapan mengajar saja kadang saya keteteran..
Berawal saya bekerja di salah satu sekolah. Tahun pertama saya bekerja adalah tahun yang penuh kejutan, dari mulai amanah pekerjaan yang sama sekali tidak sesuai dengan bidang saya, amanah memegang peran yang menurut saya cukup urgen dalam sebuah kegiatan hingga diminta menggantikan posisi sebagai wali kelas. Well, saya yang polos dan masih meraba-raba kala itu berubah menjadi sosok yang sering banget galaunya. hikss..

Pengalaman menjadi wali kelas adalah sesuatu yang nano-nano rasaya.. Tahun pertama ketika saya diminta untuk menggantikan wali kelas yang sedang cuti melahirkan, rasanya kebingungan, lebaynya sih dag-dig-dug setiap akan masuk ke kelas untuk membimbing anak-anak. Karena pengalaman pertama, jadilah saya sesosok yang rajin membaca, demi membuat suasana kelas gak garing-garing amat lewat cerita-cerita yang saya dapat sampaikan. Satu satunya yang jadi penawar galau kala itu adalah "gak akan lama lagi menjabat sebagai wali kelas". Meskipun kalau dilihat dari muridnya sih baik-baik saja, hanya saya saja yang belum bisa menerima harus mengemban amanah tersebut.

Beberapa bulan berlalu, akhirnya kenaikan kelas tiba, Inilah yang saya tunggu-tunggu, bebas dari gelar wali kelas..
Pembagian tugas awal tahun pun dimulai, dan taraaaaaaaa, saya diamanahi menjadi wali kelas lagi gaeees, betapa melengo-nya saya kala itu. Apalah daya tidak bisa menolak, akhirnya saya menjalani dengan sedikit bingung juga, karena ini betul-betul memegang kelas sendiri, bukan menggantikan, dimana tanggung jawab sama sekali tidak bisa dibagi.

Tibalah saya bertemu dengan 26 orang anak yang baru lulus Sekolah Dasar, berwajah lugu dan seketika dikening mereka seperti ada tuisan "mau dibagaimanakan setahun ke depan?" oh my God.. Saya yang senang kebebasan menjadi  sering bermonolog dan memikirkan orang lain.. ah, ini bukan saya sama sekali, kala itu..
Antara butuh mengeluh dan harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk belajar menjadi sebenar-benarnya pendidik. Berbagai macam pertanyaan ada di benak saya, termasuk pertanyaan "Bagaimana cara mencintai dan dicintai?" susah memang, kalau wali kelasnya melakolis kaya gini. hehe

Hari demi hari kami lalui, karakter demi karakter mulai bermunculan, saling menunjukkan sifat asli masing-masing ada yang cuek, periang, penyabar, senang teriak-teriak, pendiam, baik hati, centil, dewasa, dan lain lain, dari kelas yang awalnya senyap, berubah menjadi kelas yang riang bergemuruh. Hari-hari saya dipenuhi dengan curhatan anak-anak perempuan, masalah sahabat, teman sebangku, teman se-genk, soal hafalan Al-Quran, soal tontonan favorit, keluarga, hingga curhat soal laki-laki..

Awalnya memang ribet, tapi lama-kelamaan saya menikmati kebersamaan dengan mereka, belajar mendalami setiap peran ketika menghadapi mereka, menjadi sosok ibu yang berusaha mendidik dan menyelesaikan masalah mereka, menjadi sosok kakak yang berusaha menjadi teladan mereka, hingga menjadi teman bercanda dan setia mendengarkan curhatan mereka.

Suka duka kami lewati, saling mengenal, saling menyapa, saling menasehati, saling berbagi, sering memberi kejutan dengan tiba-tiba mereka bilang "bu, i love you" atau kalau habis liburan mereka bilang "bu, kangen aku nggak?". Ah, kalian memang lovable..

Pada akhirnya saya belajar, betapa waktu akan mengubah setiap keadaan, dan betapa sikap menentukan setiap perasaan. Terima Kasih sudah mau belajar untuk sama-sama bertumbuh.. Semoga tercapai setiap cita-cita, semoga menjadi anak-anak yang mampu membahagiakan orang tua di dunia dan akhirat, semoga selalu dapat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran di mana pun dan dengan siapa pun kalian berada..

Maybe, we don't need to ask how to love and beloved, in the end we'll have an answer.. :)





Selasa, 06 Februari 2018

Sabtu, 07 Oktober 2017

Untuk Sebuah Ketiadaan

Oktober 07, 2017 0 Comments
Kita tidak pernah benar-benar menggenggam apapun, yang ada hanya menggenggam ketiadaan.
Kita tidak pernah benar-benar rindu pada apapun, sampai kita sadar bahwa rindu telah kehilangan alamat pulang.
Dan pada rindu yang terbentuk sempurna, kita hanya bisa memaksa untuk tidak pernah pamit dari melantun doa..


Oktober, tahun ke 2



Picture by : Annisa Sivyani

Senin, 17 Juli 2017

Untitle

Juli 17, 2017 0 Comments
Ada ramai dalam hening, oleh sebab tuan pikiran terus saja bertanya "apa aku bisa?" macam pertanyaan pessimistic beralasan klasik "tahu yang harus dilakukan tapi tak selalu mampu untuk di kerjakan, dan ia berlindung pada kata "human error"
lalu harap menjadi buntu, hati serasa sesak..

Ruh mu nampak butuh suplemen..


Senin, 26 Juni 2017

Minggu, 11 September 2016

Yakin jadi guru?

September 11, 2016 0 Comments

Menjadi seorang guru adalah kalimat yang sering saya lafalkan. Ibu saya bercerita, sewaktu saya TK saya sering menjawab “ingin jadi guru” jika ada yang bertanya mengenai cita-cita saya. Tentu, di usia TK semua akan menjawab sesuai kehendaknya tanpa berpikir panjang. Begitupun pada masa remaja, pada masa labil yang penuh dengan pemaklumanpun jawaban “menjadi guru” adalah pilihan saya. Beranjak dewasa saya mulai berpikir, mengapa saya sering melafalkan kalimat “ingin menjadi guru” padahal tidak ada seorangpun anggota keluarga saya yang berprofesi sebagai seorang guru? begitu pun dengan hasrat menjadi guru, jika dikaitkan dengan apa tujuannya? saya akan sangat bingung untuk menjawab. Pada intinya melafalkan kalimat “ingin menjadi guru” hanya sebatas jawaban kosong.
Sebagai remaja hampir kadaluarsa pada saat itu, saya mulai dihadapkan pada pilihan tentang apa yang akan dijalani di masa selanjutnya. Saya mulai mencari-cari profesi apa yang sekiranya bisa saya jalani sesuai dengan passion saya. Mulailah saya memadukan antara keinginan menjadi guru dengan tujuan dan manfaat ke depannya. Biidznillah, saya mulai menumukan pencerahan saat itu. Saya mulai benar-benar tertarik untuk menjadi seorang guru. Tapi tertarik saja tidak cukup, maka ikhtiar adalah jawabannya. Awalnya saya merasa pilihan saya memang tepat, saya mulai tertarik dengan dunia pendidikan, bergabung dengan komunitas-komunitas pendidikan dan berdiskusi tentang permasalahan pendidikan adalah hal yang menurut saya menyenangkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, ikhtiar menjadi seorang guru justru membuat saya perlahan ragu untuk menjadi seorang guru. Saat PPL menjadi guru misal, saya terlambat menyadari bahwa seorang phlegmatis melankolis dihadapkan dengan anak-anak yang memiliki energi berlebih adalah sebuah PR yang mau tidak mau harus diselesaikan. Tidak mudah memang, tapi ini adalah tantangan, “our education needs hands, not just complaints!” kalau kata kakak tingkat saya bilang.
Perjalanan masih panjang, hanya perlu berdiskusi dengan waktu untuk sebuah penyesuaian. Perlahan saya menemukan cinta dalam setiap perjalanan. Bertemu dengan berbagai karakter murid, melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan keunikan pemikirannya, tingkahnya dan menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan pada akhirnya. Namun dibalik itu, ada hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu niat, dan mungkin tidak ada yang lebih membahagiakan dari segala sesuatu yang diniatkan untuk ibadah termasuk ketika mengemban amanah menjadi seorang guru. Maka di sisi lain, menjadi seorang guru adalah sumber kebahagiaan..

***

Untitle

Untukmu, aku tidak meminta untuk menyamai aku. Kebiasaanku, sifatku, hobiku, upload foto apa pekan ini, status-status di media s...